RADARSOLO.COM - Satu per satu fakta terkait kasus mutilasi di Sleman dengan korban mahasiswa UMY Redho Tri Agustian mulai terungkap. Salah satunya terkait aktivitas tak wajar yang dilakukan dua pelaku mutilasi, Waliyin dan RD, serta korban Redho. Mereka disebut mengikuti komunitas tak wajar di media sosial, hingga terjadilah pertemuan di antara ketiganya, yang justru berujung pada kasus mutilasi terhadap Redho Tri Agustian.
Sampai saat ini Polda DIJ belum menjelaskan secara gamblang, apa yang dimaksud dengan aktivitas tak wajar tersebut. Lalu, apa sebenarnya apa aktivitas tidak wajar yang jadi awal mula mutilasi di Sleman yang bikin heboh itu?
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda DIJ Kombes FX Endriadi mengungkap, kasus itu bermula dari perkenalan Waliyin, RD dan Redho Tri Agustian. Ketiganya merupakan anggota sebuah komunitas yang memiliki grup media sosial Facebook. Karena sama-sama menjadi anggota komunitas tersebut, Redho, Waliyin, dan RD akhirnya kerap berinteraksi.
Dari interaksi yang intens itu, kemudian membuat ketiganya saling berkenalan. Perkenalan antara Redho, Waliyin dan RD itu terjadi sekitar 3 bulan sebelum kejadian. Dari komunikasi itens dan perkenalan itu, ketiganya lantas sepakat untuk melakukan pertemuan alias kopi darat. Hal itu dimulai oleh Waliyin yang mengundang RD datang ke Jogjakarta.
Undangan itu lantas disanggupi RD yang merupakan warga DKI Jakarta. Tujuan dari undangan Waliyin ke Jogjakarta itu tidak lain adalah juga untuk bertemu dengan Redho. Setibanya di Jogjakarta, RD langsung dijemput oleh Waliyin. RD lantas diajak menginap di tempat kos Waliyin di Dusun Krapyak, Sleman.
Rupanya, kedatangan RD itu juga sudah diketahui oleh Redho. Mahasiswa UMY itu lantas menyusul ke tempat kos Waliyin pada Selasa (11/7) dini hari. Hari itu adalah hari di mana Redho Tri Agustian terakhir kali terlihat. Yakni melalui kamera CCTV di tempat kosnya di Kasihan, Bantul.
Saat itu, Redho terlihat meninggalkan tempat kosnya dengan mengenakan kaos dan celana pendek. Redho juga hanya membawa HP dan charger. Namun, sejak saat itu, Redho ternyata tidak pernah kembali. Sementara telepon selulernya juga sudah tidak bisa dihubungi.
Lantaran hal itu, keluarga pun khawatir karena tidak biasa Redho tidak bisa dihubungi. Padahal, setiap hari Redho selalu berkomunikasi dengan ibunya di Pangkalpinang.
Dalam komunikasi terakhir, keluarga juga tidak mendapati adanya kejanggalan atau hal mencurigakan lainnya. Karena itu, dua hari kemudian, pihak keluarga Redho dari Jogjakarta membuat laporan orang hilang ke Polsek Kasihan.
Terkait aktivitas tidak wajar, Endriadi mengungkap bahwa mahasiswa UMY itu dimutilasi setelah meninggal dunia.
Endriadi mengungkap, korban dan kedua pelaku melakukan aktivitas tidak wajar secara bersama-sama. Untuk diketahui, Endriadi mengungkap bahwa aktivitas tidak wajar itu merupakan kegiatan yang berkaitan dengan kekerasan. Akibat kegiatan bersama itu pula yang akhirnya membuat Redho meninggal dunia.
"Mereka (korban dan pelaku) melakukan kegiatan berupa kekerasan satu sama lain dan terjadi berlebihan," ungkap Endriadi, dilansir dari Pojoksatu.id (Jawa Pos Group).
Melihat Redho tidak bernyawa, Waliyin dan RD langsung panik. Keduanya kemudian sepakat dan memutuskan untuk menghilangkan jejak peristiwa di malam kejadian itu. Agar tidak bisa dideteksi sekaligus menyulitkan polisi, kedua pelaku akhirnya memutuskan untuk memotong-motong tubuh korban. Hal pertama yang dilakukan pelaku adalah dengan memotong kepala, pergelangan tangan, dan kaki.
Selanjutnya, Waliyin dan RD juga memotong bagian tubuh lain Redho. Kemudian mereka merebus bagian tubuh korban untuk menghilangkan identitas korban yakni berupa sidik jari.
"Untuk menghilangkan jejaknya, terhadap pergelangan tangan dan pergelangan kaki, pelaku merebusnya untuk menghilangkan sidik jarinya," ungkap Endriadi. (pojoksatu/jpg/ria)
Editor : Syahaamah Fikria