RADARSOLO.COM - Semangat Joko Widodo dalam mengabdikan diri menjadi aktivis lingkungan tidak pernah padam. Meski separo badannya lumpuh karena diserang stroke, namun tekad dia peduli terhadap lingkungan tidak bisa dibendung.
Siang itu pria yang akrab disapa Joko Widodo, 45, ini merasakan kondisinya sedang tidak enak badan dengan rasa pusing yang cukup menyiksa. Namun, dia bersama anaknya masih sempat mendatangi resepsi perkawinan salah seorang koleganya. Setelah tiba di rumah, dia langsung berbaring di kasur.
Seketika itu dia mulai merasakan tangan dan kaki kirinya kebas hingga tubuh bagian kirinya tak bisa digerakkan seluruhnya. Dengan sekuat tenaga dia mencoba menghubungi keluarganya yang ada di Kampung Sewu agar segera datang ke rumah karena dia terkena serangan stroke.
"Saya masih sempat kirim pesan ke adik saya. Kemudian bapak dan adik saya ke rumah, saya langsung di bawa ke dokter umum. Ternyata benar kena stroke. Saya disarankan segera dibawa ke rumah sakit," terang pria yang akrab disapa Toyib ini.
Entah karena alasan apa, Toyib memutuskan tak mau berobat ke rumah sakit. Dia memilih berobat ke tabib pengobatan tradisional Tiongkok. Di sana dia mendapat terapi dan rutin mengonsumsi obat. Hingga 15 hari terakhir ini kondisinya sudah jauh lebih baik.
Untuk biaya pengobatan, Toyib hanya mengandalkan uang tabungan dan sumbangan dari sejumlah kenalannya yang masih peduli kepada dirinya.
“Sekarang tangan dan kaki saya sudah bisa digerakkan meski jalannya harus dibantu kruk (alat bantu jalan, Red)," kata dia yang juga bekerja sebagai petugas operasional dan pemeliharaan rumah pompa Jurug milik Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS).
Ketika sakit, Toyib memang mengaku sengaja tidak memberi kabar kepada lingkungan kerjanya hingga akhirnya mereka tahu dengan sendirinya. Dia beralasan tidak mau membuat orang lain ikut susah.
“Jadi selama stroke setengah bulan ini saya masih laporkan secara rutin ketingian air di pos ini. Saya hanya sekali menolak saat diminta untuk menurunkan sonar karena saya balum bisa naik tangga di rumah pompa," kata dia.
Bahkan, Toyib masih mengikuti kegiatan bersih sungai yang dilakukan tim gorong-gorong yang dilakukan akhir pekan lalu. Dia merasa harus hadir secara fisik untuk mendukung rekan-rekannya yang terjun ke sungai untuk membersihlan tumpukan sampah. Sekalipun dia sudah dilarang oleh kawan-kawan relawan.
"Saya harus segera sembuh karena teman-teman membutuhkan saya. Sekalipun saya nanti tidak lagi dipakai di sini (bekerja sebagai petugas rumah pompa, Red), saya akan tetap berkecimpung di sungai. Kalau saya masih kuat kondisi seperti apapun saya akan terus menjalani aktivitas ini," jelas dia.
Di tengah ujian itu, Toyib harus menanggung ekonomi keluarganya. Sebab itu, dia terus berjuang agar bisa segera sembuh sehingga bisa merawat anak-anaknya sepeninggal istri tercinta yang meninggal setengah tahun lalu.
"Seandaimya saya tidak bisa sembuh saya siap dipecat dari pekerjaan ini. Tapi saya akan terus jadi pegiat sungai bersih. Soal kerjaan bisa dicari, rezeki sudah diatur sama Tuhan," ujar Toyib. (*/bun)
Editor : Damianus Bram