Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Temuan Fosil dan Benda Kuno di Beberapa Wilayah: Evakuasi Gading Purba, Penemuan Arca Kala dan Guci Kuno

Ahmad Khairudin • Rabu, 2 Agustus 2023 | 17:59 WIB
HATI-HATI: Tim dari BPSMP Sangiran melakukan evakuasi fosil gading gajah yang ditemukan di pekarangan rumah warga Dukuh Ngebung, RT 4 /RW 2, Desa Ngebung, Kalijambe, Sragen, Selasa (1/8/2023) pagi.
HATI-HATI: Tim dari BPSMP Sangiran melakukan evakuasi fosil gading gajah yang ditemukan di pekarangan rumah warga Dukuh Ngebung, RT 4 /RW 2, Desa Ngebung, Kalijambe, Sragen, Selasa (1/8/2023) pagi.

RADARSRAGEN.COM – Temuan fosil dan benda-benda kuno terjadi di beberapa wilayah di sekitar Museum Sangiran, Sragen, kemudian Karanganyar dan Klaten.

Sebuah gading gajah purba jenis stegodon berusia 800 ribu tahun ditemukan di kawasan konservasi kepurbakalaan Sangiran. Gading tersebut ditemukan saat warga Ngebung RT 4 /RW 2, Kalijambe membuat pondasi rumah. Lantas saat penggalian terbentur fosil tersebut.

Kepala Unit Museum Ndayu, Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Suwita Nugraha mengatakan, fosil tersebut ditemukan di pekarangan rumah warga setempat.

”Jadi di pekarangan warga mau bikin pondasi. Kemudian saat penggalian membentur sesuatu sekitar pukul 17.00 dan ketemu benda yang diduga fosil. Lantas lapor ke satpam museum Ngebung,” terang Suwita yang juga pamong budaya ahli muda bidang kepurbakalaan, Selasa (1/8/2023).

Selanjutnya petugas melakukan verifikasi. Setelah dipastikan benda tersebut adalah fosil maka diputuskan harus diselamatkan. Lantas tim dari BPSMP melakukan penggalian di lokasi fosil gading gajah purba yang lebih dari 2 meter itu.

Dia menyampaikan proses evakuasi berlangsung selama sehari. Dari lapisan tanah, dia menduga usia fosil tersebut berumur 800 tahun. Ini berdasarkan kedalaman lapisan tanah.

Sejak awal tahun tim sudah mengevakuasi sembilan kali fosil di kawasan Sangiran. Sudah banyak fosil gajah yang ditemukan di kawasan itu.

”Kalau temuan terkait gajah sudah bukan langka, sudah umum. Sudah Sembilan kali temuan itu sebenarnya tidak hanya gajah tapi sebagian besar gajah,” tandasnya.

Temuan benda diduga cagar budaya juga terjadi di Karanganyar. Warga yang tergabung dalam Komunitas Suket Lawu justru menemukan sebuah arca di salah satu kawasan makam di Desa Pulosari, Kebakkramat, Karanganyar. Bentuknya berupa fragmen kepala arca kala. Diprediksi dibuat di abad ke-13 sebelum Masehi pada masa kerajaan Islam pertama di Indonesia.

Komunitas Suket Lawu berhasil menemukan arca kala di salah satu kawasan makam di Desa Pulosari, Kebakkramat, Karanganyar.
Komunitas Suket Lawu berhasil menemukan arca kala di salah satu kawasan makam di Desa Pulosari, Kebakkramat, Karanganyar.

Menurut pegiat situs sejarah dan budaya di Komunitas Suket Lawu Alfian Prasetya, penemuan kepala arca kala itu bermula saat di bersama anggota Suket Lawu akan menggali sejarah desa yang sebelumnya diduga memiliki cerita atau berkaitan dengan peninggalan pada masa Kerajaan Islam yang berkembang di Jawa.

Setelah membuka beberapa literasi, kemudian Alvian menuju ke beberapa desa yang akan dilakukan riset. Salah satunya adalah Desa Pulosari, Kecamatan Kebakramat, Karanganyar.

"Setelah diarahkan kepala desa kami menuju ke salah satu lokasi seperti kawasan makam di Desa Pulosari. Di sana kami menemukan kepala arca kala yang saat itu tertutup ilalang," kata Alvian.

Setelah itu Alvian melaporkan ini ke pemerintah desa dan dinas terkait. Setelah itu dibersihkan.

“Dari diskusi dengan teman - teman arkeolog di WA group, benda berbentuk seperti kepala arca kala itu dibuat padaabad ke 13," ungkapnya.

Di bagian lain, warga Dusun Kropakan, Desa Mranggen, Kecamatan Jatinom kembali menemukan artefak kuno berupa guci keramik. Barang tersebut ditemukan oleh seorang perajin batu bata Sardi, 53, saat menggali tanah pada Senin (31/7/2023).

Sekira pukul 09.30, Sardi sedang menggali tanah untuk bahan baku pembuatan batu bata. Saat menggali tanah pada kedalaman satu meter itu cangkulnya mengenai benda keras. Kemudian dia menggali tanah di sekitar benda tersebut agar tidak merusak.

Usai digali lebih dalam, Sardi mendapati benda itu berbentuk guci dengan kondisi masih utuh. Saat ditemukan, guci tersebut dalam posisi miring dengan bagian bibir menghadap ke bawah. Meski begitu, guci dalam keadaan kosong.Sementara disimpan di kediaman Sardi.

ARTEFAK KUNO: Guci yang ditemukan perajin batu bata di Dusun Kropakan, Desa Mranggen, Kecamatan Jatinom.
ARTEFAK KUNO: Guci yang ditemukan perajin batu bata di Dusun Kropakan, Desa Mranggen, Kecamatan Jatinom.

“Saya dengan istri sebelumnya tidak bisa tidur semalaman. Tidak tahu kenapa. Rasanya ingin ke sini (lokasi ditemukan guci) terus,” ucap Sardi, Selasa (1/8/2023).

Sardi mengungkapkan, istrinya sempat mengajak ke tempat produksi batu bata pada dini hari. Tetapi tidak jadi karena tidak ada yang menunggu cucu di rumah.

Pegiat Cagar Budaya Klaten Hari Wahyudi mengatakan, artefak kuno guci keramik yang ditemukan Sardi memilik tinggi sekira 29 cm dan lebar bibir guci 15 cm. Kemudian lebar badan tengah guci 28 cm dengan memiliki empat kuping.

“Guci diperkirakan dari masa Dinasti Tang pada abad ke-9. Ini didasarkan pada ciri-ciri guci dengan glasir berwarna hijau kecokelatan dan tidak merata,” ucap Hari. (din/rud/ren/bun)

Editor : Damianus Bram
#guci keramik #gading gajah #arca kala #Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran #Temuan Fosil