RADARSOLO.COM – Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka mengaku sulitnya mendongkrak kunjungan wisata ke museum-museum yang ada d Solo, termasuk Museum Keris. Hal itu disebabkan lantaran adanya konsep kurang matang pada aset pemerintah kota tersebut.
Dari pengamatannya dilakukan sejak beberapa waktu terakhir, Gibran membenarkan bahwa dia memiliki PR besar untuk meningkatkan pesona Museum Keris maupun museum lain agar semakin banyak dikunjungi masyarakat. Oleh sebab itu perlu sentuhan-sentuhan dan pendekatan baru untuk meningkatkan daya tarik sektor permuseuman.
“Harusnya ada nosiness plan untuk menghitung berapa pengunjung, potensi pemasukan, sebelum dibangun harusnya seperti itu. Kalau dibangun tapi tidak di-manage oleh operator professional, ya jadinya seperti sekarang,” terangnya, kemarin (3/9).
Berdasarkan rataan kunjungan Museum Keris, sedikitnya ada 1.000 an wisatawan yang masuk ke museum yang ada di Jalan Bhayangkara, Sriwedari itu pada setiap bulannya.
“Saya nggak tahu, dulu (Museum Keris, Red) perencanaannya seperti apa? Tapi kalau yang saya bangun di periode saya Insya Allah ramai kabeh. Harusnya ada antisipasi nek ramai piye, nek sepi piye. Sepertinya dulu luring matang, nanti tak tindaklanjuti ya. Sebetulnya kalau koleksinya sudah tidak ada masalah, tinggal konsepnya saja,” tegas Gibran.
Sekadar informasi, untuk mendongkrak kunjungan dan pemanfaatan Museum Keris, UPT Museum Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta berencana memanfaatkan sejumlah aset yang ada di Museum Keris menjadi public space. Nantinya bisa dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kegiatan, seperti pameran hingga seminar atau sejenisnya. Pemanfaatan area museum untuk kegiatan macam ini sudah dirintis sejak beberapa bulan lalu, termasuk penggunaan area museum untuk gala dinner dan sebagainya.
“Kami akan membuat ekosistem pameran di Museum Keris. Jadi kalau masyarakat mau buat pameran bisa menggunakan fasilitas yang ada di sini. Kami harap ini bisa meningkatkan jumlah kunjungan ke museum,” harap Kepala UPT Museum Bonita Rintyowati. (ves/nik)
Editor : Damianus Bram