Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Umbul Gedaren: Datang Dibopong, Pulang Bisa Jalan Sendiri

Damianus Bram • Minggu, 22 Oktober 2023 | 18:00 WIB
BENING: Umbul Gedaren di Desa Gedaren, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Boyolali yang pernah digunakan bersemedi Raja Keraton Kasunanan Surakarta PB X.
BENING: Umbul Gedaren di Desa Gedaren, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Boyolali yang pernah digunakan bersemedi Raja Keraton Kasunanan Surakarta PB X.

RADARSOLO.COM - Di Kabupaten Klaten, tersebar sejumlah titik umbul. Salah satunya Umbul Gedaren, Desa Gedaren, Kecamatan Jatinom. Selain berwisata, tempat ini menjadi jujukan pelaku ritual.

Posisi umbul tidak jauh dari Jalan Raya Klaten-Jatinom. Tepatnya di belakang Kantor Desa Gedaren. Area umbul yang digunakan untuk pemandian maupun berendam seluas 17x60 meter.

Airnya begitu jernih dengan kedalaman yang bervariasi. Mulai dari 1,5-2 meter. Saking beningnya, bagian dasar umbul berupa bebatuan dan pasir terlihat dari permukaan.

Limpasan air umbul digunakan untuk pengairan lahan pertanian, hingga mencuci tikar dan karpet masjid.

Lokasi berenang bagi wisatawan dan kegiatan mencuci sudah terpisah. Tidak ada tiket masuk alias gratis untuk berenang dan berendam di Umbul Gedaren yang dikelilingi pepohonan rindang. Cukup membayar parkir. Roda dua Rp 2.000 dan roda empat Rp 5.000.

Warga setempat menyebut, Paku Buwono (PB) X yang memimpin Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada 1893-1939 pernah semedi di umbul tersebut.

Itu terlihat dari batu besar yang disertai tulisan pada dasarnya.

Tempat ini sudah ramai dikunjungi mulai pukul 05.00 hingga 07.00. Mereka datang untuk melakukan terapi sakit stroke hingga saraf kejepit.

Tidak hanya siang hari, pada malam pun ada yang berkunjung ke Umbul Gedaren. Mereka biasanya melakukan ritual berendam dengan tata cara dan kepercayaan masing-masing.

“Bagi yang hendak ritual kungkum, biasanya tiba pukul 23.30. Kemudian pukul 00.00 mulai kungkum. Untuk durasinya tergantung kuatnya berapa lama,” ucap Ketua RT 41 Sukadi, akhir pekan kemarin.

Sebagai pengelola umbul, warga setempat tidak mencampuri ritual kungkum. Ritual semakin ramai jelang pemilihan kepala desa (Kades), bupati, hingga calon legislatif (caleg).

“Yang kungkum dari berbagai kalangan. Ada kepala dinas, dan sebagainya. Apa yang menjadi niatannya biasanya terwujud. Memintanya tetap kepada Tuhan Yang Maha Esa,” tambah Sukadi.

Ketika hajat terkabul, pengunjung biasanya menggelar syukuran di Umbul Gedaren bersama anggota keluarganya.

Di lain sisi, air dari Umbul Gedaren diyakini memiliki khasiat. Itu dialami pengunjung asal Kabupaten Karanganyar.

“Saat datang harus dibopong sampai ke umbul. Setelah keluar dari umbul, bisa berjalan. Pengunjung ini baru pertama datang ke Umbul Gedaren,” ucapnya

Warga setempat juga masih melestarikan tradisi bersih Umbul Gedaren. Dilaksanakan setiap setahun sekali pada penanggalan Jawa, yakni 15 suro.

Diisi dengan kenduri dengan membawa beragam menu untuk disantap bersama-sama. Dimeriahkan pertunjukan wayang kulit, jatilan, pentas seni dan budaya lainnya.

Air di Umbul Gedaren tidak pernah kering. Termasuk di musim kemarau panjang saat ini. (ren/wa)

Editor : Damianus Bram
#Umbul Gedaren #ritual #Desa Gedaren