Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

On This Day 13 Maret 1957: Jenazah Paku Buwono VI Dipindahkan dari Ambon ke Imogiri, PB VI Sempat Berjuang Bersama Pangeran Diponegoro Lawan Belanda

Niko auglandy • Rabu, 13 Maret 2024 | 10:05 WIB
Paku Buwono VI
Paku Buwono VI

RADARSOLO.COM – Sinuhun Paku Buwono (PB) VI memimpin Kasunan Surakarta pada tahun 1823-1830.

Pada masa pemerintahan Sinuhun Paku Buwono VI, terjadi sebuah peristiwa penting di Jawa, yakni meletusnya perang Jawa atau perang Diponegoro. Sinuhun Pakubuwana VI merupakan salah satu tokoh yang membantu Pangeran Diponegoro dalam perlawanannya melawan Belanda.

Pangeran Diponegoro ditangkap dalam sebuah siasat perundingan licik yang dibuat Belanda pada 28 Maret 1830. Langkah ini  mengakhiri jalannya perang yang sangat melelahkan bagi kubu Belanda.

Belanda menganggap ada keberpihakan Paku Buwono VI. Hingga akhirnya dia ditangkap 8 Juni 1830, kemudian diasingkan Belanda ke Ambon.

Kecurigaan Belanda dilatarbelakangi oleh penolakan Paku Buwono VI atas penyerahan beberapa wilayah Solo kepada Belanda.

Sayang diakhir hayatnya, berjakan ternyata cukup tragis.  Paku Buwono VI meninggal dunia di Ambon pada tanggal 2 Juni 1849.

Menurut laporan resmi Belanda, dia meninggal karena kecelakaan saat berpesiar di laut.

Pada 1957 akhirnya diputuskan jasad Paku Buwono VI akan dipindahkan ke Imogiri Jogja, di makam raja-raja.

Namun ketika dilakukan pembongkaran makam, cukup mengagetkan ternyata ditemukan lubang peluru seukuran senapan baker di kepala Sinuhun.

Ini jadi sebuah bukti bahwa Sinuhun Paku Buwono VI tutup usia karena ditembak Belanda.

Jenazah Paku Buwono (PB) VI akhirnya tiba di Kota Solo pada 11 Maret 1957. Jenazahnya tiba di Stasiun Balapan dengan kereta api dari jurusan Surabaya. Setelah sebelumnya diangkut dengan pesawat terbang dari Ambon.

Kedaulatan Rakjat edisi 12 Maret 1957 mewartakan rombongan dari Ambon itu dipimpin langsung oleh Kolonel Djatikusumo. Sesampainya di Balapan diterima oleh Pangerang Kusumobroto.

Sebelumnya kuburan PB VI digali,  tulang belulangnya dimasukkan peti pada Kamis, 7 Maret 1957 lalu dibawa dari Ambon menuju ke Kota Solo.

Selain jenazah PB VI, yang ikut diangkut dari Ambon, ada juga jenazah permaisuri G.K.R Anem, serta RT Tjokrodipuro, pamanda PB VI.

Dari Balapan jenazah diangkut ke keraton dengan dua mobil melalui samping Kraton Langensari. Sesampainya di kraton  jenazah PB VI dan permaisurinya ditempatkan dalam masjid Purdyosono dan R.T. Tjokrodipuro di Masjid Paromosono (luar kraton).

Pimpinan rombongan dari stasiun ke kraton dipegang oleh Drs. Sosrodiningrat dan K.R.M.T Wirjodiningrat.  Malam harinya diadakan tahlilan dan sehari kemudian, yakni 12 Maret 1957 pada jam 8.00-16.00 diadakan pisowan ngabekten.

Jenazah ditempatkan di Pendapa Sasonohadi, dan akhirnya jenazah diberangkatkan dari ke keraton ke Imogiri dengan mobil jenazah untuk bisa dikebumikan pada 13 Maret 1957. Di bawah pimpinan K.R.M.T Brotodiningrat dan K.R.M.T Mertodiningrat.

Menurut kabar majalah mingguan Star Weekly, penduduk yang tinggal di sekitaran Solo dan Yogya ikut mengiringi pengantaran jasad dengan memadati jalan.

"Di alun-alun Selatan bahkan ada juga orang-orang yang menangis dan orang-orang itu tidak kenal pribadi Susuhunan Paku Buwono VI," lapor Star Weekly.

Ketika iringan jasad Paku Buwono VI tiba di sekitar wilayah Candi Prambanan, Persatuan Motor Jogja turut menyambut dan ikut mengantar.

Setibanya di Imogiri, jasad Paku Buwono VI disambut banyak orang. Jasadnya kemudian diantar ke Bukit Merak, tempat peristirahatan terakhir para pendahulunya.

Atas jasa dan kebesarannya, Sinuhun Paku Buwono VI ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia. (nik)

Editor : Niko auglandy
#Paku Buwono VI #ambon