Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Hukum Meninggalkan Sholat Tarawih saat Bulan Ramadhan, Bagaimana dengan Orang yang Bekerja?

Syahaamah Fikria • Sabtu, 16 Maret 2024 | 03:35 WIB
Salat Tarawih di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo, Senin (11/3/2024)
Salat Tarawih di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo, Senin (11/3/2024)

RADARSOLO.COM - Sholat Tarawih adalah sholat malam atau qiyamul lail yang dilaksanakan pada bulan puasa Ramadhan.

Meski termasuk sholat sunnah, sholat Tarawih merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam di bulan Ramadhan karena memiliki banyak keutamaan.

Salah satunya mendapat ampunan dosa, meningkatkan ketakwaan, dan pahala yang begitu besar.

Sholat Tarawih yang merupakan qiyamul lail biasanya dilaksanakan selepas sholat Isya, yang disusul Witir.

Tapi sebenarnya sholat Tarawih ini dapat dilakukan kapan saja sebelum memasuki waktu sahur.

Meski demikian, kadang ada beberapa alasan yang membuat seseorang meninggalkan sholat Tarawih.

Lantas, apa hukumnya bagi seseorang yang meninggalkan sholat Tarawih di bulan Ramadhan?

Imam Nawawi dalam kitab Majmu' Syarah al-Muhadzab menjelaskan, hukum sholat Tarawih adalah sunnah muakkadah.

Sholat Tarawih adalah ibadah sunnah yang sangat ditekankan dan dianjurkan untuk dikerjakan.

Bahkan, meninggalkan sholat Tarawih tanpa alasan yang syar'i bisa dikatakan merugi karena melewatkan pahala yang besar.

Sebagaimana dilansir dari JawaPos.com yang mengutip Islam.nu.or.id:

أما حكم المسألة ) فصلاة التراويح سنة بإجماع العلماء ، ومذهبنا أنها عشرون ركعة بعشر تسليمات وتجوز منفردا وجماعة ، وأيهما أفضل ؟ فيه وجهان مشهوران كما ذكر المصنف ، وحكاهما جماعة قولين ( الصحيح ) باتفاق الأصحاب أن الجماعة أفضل ، وهو المنصوص في البويطي ، وبه قال أكثر أصحابنا المتقدمين

Artinya: “Tentang hukum masalah ini: shalat Tarawih adalah sunnah menurut ijmak (kesepakatan) para ulama. Mazhab kami (Syafi'i) berpendapat bahwa shalat Tarawih terdiri dari dua puluh rakaat dengan sepuluh salam. Shalat Tarawih boleh dilakukan secara sendiri [munfarid] maupun berjamaah. Terdapat dua pendapat terkenal tentang hal ini, sebagaimana disebutkan oleh penulis kitab dan diriwayatkan oleh sekelompok ulama sebagai dua pendapat. Menurut kesepakatan para ulama Syafi'i, shalat Tarawih berjamaah lebih baik.

Oleh karena itu, ibadah sholat Tarawih ini benar-benar dianjurkan untuk dikerjakan.

Apalagi jika memang tidak memiliki alasan yang syar'i, seperti sakit, musafir, atau halangan lain yang dibenarkan oleh syariat.

Adapun meninggalkan sholat Tarawih tanpa alasan yang syar’i, hukumnya tidak berdosa karena salat ini adalah sunnah atau bukan wajib.

Namun, seorang muslim akan sangat merugi jika tidak melaksanakan sholat sunnah ini.

Selain akan kehilangan pahala dan keutamaan yang besar dari, seorang muslim juga seperti kurang semangat dalam beribadah di bulan Ramadhan.

Dikutip dari an-nur.ac.id, tidak mengerjakan salat Tarawih juga dapat menimbulkan rasa bersalah dan menyesal di kemudian hari.

Seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا تَرَكَ صَلَاةً مَكْتُوبَةً أَوْ نَافِلَةً كَانَتْ عَلَيْهِ وِرْدًا نَدِمَ عَلَيْهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Sesungguhnya seorang hamba jika meninggalkan salat wajib atau sunnah yang menjadi rutinannya, ia akan menyesalinya pada hari kiamat.” (HR. Ahmad)

Lalu, bagaimana jika seorang muslim terpaksa meninggalkan sholat Tarawih karena alasan pekerjaan?

Hukum Meninggalkan Sholat Tarawih karena Pekerjaan

Ada sebagian muslim yang meninggalkan sholat Tarawih di bulan puasa Ramadhan karena sejumlah alasan.

Salah satunya karena pekerjaan.

Padahal, seperi yang telah dipaparkan sebelumnya, meninggalkan sholat Tarawih meski tidak berdosa, namun akan merasakan kerugian karena banyaknya keutamaan sholat malam tersebut.

Nah, bagi seorang muslim yang terpaksa meninggalkan sholat Tarawih karena pekerjaan, juga akan mendapatkan pahala.

Sebab mencari nafkah untuk anak, istri, dan keluarga juga merupakan bentuk ibadah yang mendapat pahala.

Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 286;

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا

Artinya: “Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya.”

Dalam kitab Tafsir as-Sam'ani, karya Abu Al Muzhaffar As-Sam'ani mengungkapkan, ayat ini menjelaskan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali dengan sesuai kemampuannya.

Artinya, Allah tidak membebani jiwa seseorang kecuali dengan apa yang mudah baginya.

أَي: طاقتها. وَقيل: مَا (يشق) عَلَيْهَا. وَهُوَ مثل قَول الرجل: لَا أَسْتَطِيع أَن أنظر إِلَى فلَان، أَي: يشق عَليّ أَن أنظر إِلَيْهِ، فَكَذَلِك ذكر الوسع بِمَعْنى: السهولة، أَي: لَا يُكَلف الله نفسا إِلَّا مَا يسهل عَلَيْهَ

Artinya: "Maksudnya: Kemampuannya. Dikatakan juga: apa yang (sulit) baginya. Dan itu seperti perkataan seorang laki-laki: ‘Aku tidak mampu melihat si fulan’, artinya: sulit bagiku untuk melihatnya. Demikian pula penyebutan ‘kemampuan’ di sini bermakna: kemudahan, artinya: Allah tidak membebani jiwa seseorang kecuali dengan apa yang mudah baginya."

Di bulan Ramadhan sendiri, ada ibadah-ibadah yang hukumnya wajib maupun sunnah.

 

Bagi seorang muslim yang hanya menjalankan ibadah wajib, yakni puasa, tanpa disertai ibadah sunnah, dijanjikan masuk surga tanpa hisab sekalipun sebagaimana riwayat Muslim berikut ini:

عن أبي عبد الله جابر بن عبد الله الأنصاري رضي الله عنهما أن رجلا سأل رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم فقال: أرأيت إذا صليت المكتوبات وصمت رمضان وأحللت الحلال وحرمت الحرام ولم أزد على ذلك شيئا أدخل الجنة ؟ قال نعم رواه مسلم ومعنى حرمت الحرام: اجتنبته ومعنى أحللت الحلال: فعلته معتقدا حله

Artinya, “Dari Jabir bin Abdullah RA bahwa seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘Ya rasul, bagaimana pandanganmu bila aku hanya sembahyang lima waktu, berpuasa Ramadhan, menghalalkan yang halal, dan mengharamkan yang haram. Aku tidak menambahkan sesuatu selain itu. Apakah aku dapat masuk surga?’ ‘Ya, (bisa),’ jawab Rasulullah SAW. HR Muslim. Pengertian ‘mengharamkan yang haram’ adalah menjauhinya dan ‘menghalalkan yang halal’ adalah melakukannya sambil meyakini kehalalannya." (Lihat Al-Imam An-Nawawi, Al-Arba‘in An-Nawawiyyah pada hamisy Al-Majalisus Saniyyah, [Semarang, Maktabah Al-Munawwir: tanpa catatan tahun], halaman 60-61).

Syekh Ahmad Al-Fasyani menjelaskan hadits ini bahwa membolehkan seorang Muslim untuk meninggalkan sama sekali ibadah sunah meskipun yang bersangkutan akan kehilangan banyak hal. (ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#puasa #Sholat sunnah #ibadah #ramadhan #Tarawih #qiyamul lail