Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Tradisi dan Budaya Jawa selama Ramadhan, Penuh Makna dan Harapan

Mannisa Elfira • Sabtu, 23 Maret 2024 | 04:12 WIB
Tradisi padusan sebelum memasuki bulan suci Ramadhan terus dilestarikan masyarakat Jawa. (Angga Purenda/Radar Solo)
Tradisi padusan sebelum memasuki bulan suci Ramadhan terus dilestarikan masyarakat Jawa. (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Masyarakat Jawa terkenal dengan kekentalan budayanya. Begitu pula saat bulan suci Ramadhan tiba, terdapat sejumlah tradisi yang selalu dilaksanakan umat muslim Jawa.

Sadranan salah satunya. Tradisi ini muncul sebelum bulan Ramadhan tiba. Masyarakat berbondong-bondong ziarah ke makam untuk mendoakan leluhur. Dilakukan tepat saat bulan Ruwah. Hal tersebut dijelaskan oleh Pegiat Sejarah dan Budaya Solo Raden Surojo.

”Ada istilah tradisi Sadara, kemudian jadi Sandran bagi masyarakat Jawa Islam,” beber Surojo, Jumat (22/3/2024).

Setelah itu, lanjutnya, terdapat upacara Munggahan atau ngunggahne. Yakni menaikkan doa kepada para leluhur yang sudah wafat. ”Kemudian dilanjutkan tradisi padusan. Padusan adalah mandi H-2 atau H-1 biasanya untuk menyongsong bulan Ramadhan ini dengan harapan bersih lahir maupun batinnya,” sambungnya.

Memasuki bulan Ramadhan, umat muslim mulai berpuasa. Nah, masyarakat Jawa biasanya melakukan kegiatan di malam selikuran atau 21 Ramadhan. Di Keraton Surakarta sendiri terdapat 1.000 tumpeng yang diarak.

”Tumpeng seribu (diarak) dari keraton ke Masjid Agung Keraton Surakarta. Intinya untuk menyongsong malam selikuran, mengibaratkan seperti hadirnya Nabi Muhammad,” sambungnya.

Setelah itu, terdapat penunaian zakat fitrah. Dilanjutkan sebelum malam sholat Ied, masyarakat menggemakan takbiran. Lalu besoknya menunaikan sholat Ied.

”Setelah itu ada upacara kendurenan atau masyarakat Jawa istilahnya bancaan. Ini umum, artinya tidak orang Islam saja. Beberapa tempat masih melakukannya. Kenduren ini membawa makanan ke masjid. Kemudian didoakan ulama masjid itu. Lalu makanan dimakan bersama-sama atau dibagi-bagikan,” jelasnya.

Setibanya bakdan, lanjutnya, hingga Lebaran ketupat, masyarakat saling berkunjung ke rumah satu rumah lain. Hingga saudara satu saudara lain.

”Itu sampai mencapai bodo kupat. Setelah itu ada tradisi kupatan. Tiap rumah membuat kupat berserta masakan sambel goreng dan lain sebagainya. Kupat itukan menunjukkan bahwa saya lepat, saya salah maka saya mohon maaf,” tambahnya.

Kupatan ini bermacam-macam di berbagai daerah. Hanya saja secara umum masyarakat di setiap keluarga memasak lalu memakannya sama-sama. Ada juga yang mengirim ke lainnya.

”Kupat ini harus terbuat dari janur atau cahaya,” tambahnya. (nis/adi)

Editor : Adi Pras
#lebaran #nabi muhammad #zakat fitrah #Masjid Agung Keraton Surakarta #Sadranan #Sholat Ied #tumpeng #Tradisi Jawa #ramadhan #malam selikuran