Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Jadi Tuan Rumah WWF Ke-10, Pemerintah RI Perbanyak Investasi ke Sektor Pengetahuan

Tri wahyu Cahyono • Rabu, 22 Mei 2024 | 19:38 WIB
Photo
Photo

RADARSOLO.COM-Tidak hanya membahas antisipasi krisis air, World Water Forum (WWF) ke-10 di Nusa Dua Bali, tapi juga berupaya mendongkrak sektor lainnya.

Pemerintah RI mendorong terwujudnya investasi ke sektor pengetahuan bagi peningkatan pariwisata Bali.

Dirjen Kemendikbudristek Hilman Farid mengatakan, adanya investasi pada ilmu pengetahuan, riset dan juga preservasi memang sangat penting. Utamanya bagi keberlanjutan sektor pariwisata.

Karena dengan adanya investasi pada hal-hal tersebut, maka semakin mengembangkan keberlanjutan dan kualitas bagi pariwisata di Bali.

"Untuk mengembangkan sustainable dan quality tourism, ada syarat yang harus dipenuhi,” kata Hilman.

Menyadari bagaimana pentingnya hal itu, maka pemerintah terus mendorong adanya investasi bagi pariwisata ke arah ilmu pengetahuan, riset dan preservasi.

"Kalau misalnya sekarang investment di Bali ini untuk mendukung sektor kepariwisataan, justru diarahkan pada SDM pengetahuan dan seterusnya,” jelas Hilman.

Ditambahkannya, terjadinya pengembangan pada kualitas sumber daya manusia (SDM) jelas sangat penting untuk memastikan adanya keberlanjutan pariwisata.

“Ini adalah jalan yang sangat penting untuk memastikan keberlanjutan pariwisata di masa mendatang bisa berjalan," ungkap Dirjen Kemendikbudristek.

Untuk benar-benar bisa melestarikan sektor pariwisata, maka harus ditentukan dengan tipe investasi yang diperlukan sesuai dengan karakteristik daerah.

"Menurut hemat saya, investasi ke pengetahuan, research, sains untuk mendukung terjadinya keberlanjutan pariwisata sangat krusial," jelasnya.

Baca Juga: 45 Persen Remaja di Indonesia Jadi Korban Cyberbullying, Ini Contoh Kasus Yang Terjadi

Sehingga menurutnya apabila investasi masih saja digencarkan pada hal-hal yang berkaitan dengan fisik, sebenarnya bukan menjadi upaya yang bijak.

Sebab itu, pemerintah sudah tidak lagi mematok tolok ukur akan keberhasilan pariwisata dengan upaya mendatangkan orang berjumlah banyak saja.

Jika hal demikian terus terjadi, maka bukan tidak mungkin akan menggerus kearifan lokal dari masyarakat.

Diungkapkan Dirjen Kemendikbudristek, tergerusnya kearifan lokal masyarakat karena perkembangan industri serta tekanan penduduk yang semakin banyak.

Terlebih, sempat terjadi bahwa di Bali saat ini generasi mudanya semakin sedikit untuk yang mau menjadi seorang petani.

"Tadi dalam forum disebutkan semakin sedikit anak di Bali yang mau jadi petani. Salah satunya karena prospek yang lemah. Kalau tidak diselamatkan cepat-cepat, ini akan tergerus habis," tegas Hilman. (*)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#sektor pengetahuan #wwf #investasi #pariwisata