RADARSOLO.COM - Pada tanggal 11,12 dan 13 Dzulhijjah 1445 Hijriayah atau bertepatan dengan hari Selasa-Kamis (18-20/6/2024), umat Islam memasuki hari Tasyrik. Di mana pada hari-hari tersebut umat Islam diperkenankan menyembelih hewan kurban mereka.
Lantas, apa sebenarnya hari Tasyrik itu? Apakah ada keterkaitan dengan Idul Adha 10 Dzulhijjah?
Dilansir dari NU Online, hari Tasyrik secara bahasa merujuk pada kata tasyriq, artinya penghadapan ke arah timur (arah sinar matahari).
Imam Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim menjelaskan, hari Tasyrik adalah sebutan bagi tiga hari, yakni 11, 12, 13 Dzulhijjah setelah hari nahar (10 Dzulhijjah).
Pada hari-hari itu, orang-orang menjemur daging kurban. Yaitu mendendeng dan menghampar daging pada terik matahari.
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari bi Syarhi Shahihil Bukhari menjelaskan bahwa ada berbeda pendapat dari ulama terkait jumlah hari Tasyrik.
Sebagian ulama berpendapat, hari Tasyrik terdiri atas dua hari.
Sedangkan sebagian ulama lainnya mengatakan, hari Tasyrik terdiri atas tiga hari.
Dan, sedikit berbeda penjelasan dengan Imam Nawawi terkait hari Tasyrik, Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan, penamaan hari Tasyrik karena hewan kurban tidak disembelih. Kecuali setelah matahari memancarkan sinarnya.
Sebagian ulama lagi berpendapat, hari Tasyrik dinamai demikian karena sholat Idul Adha dilaksanakan ketika matahari memancarkan cahaya.
Sementara ulama lainnya mengatakan, yang dinamakan tasyrik adalah takbir pada setiap selesai shalat.
Hari Tasyrik disebut dalam hadis riwayat Imam Muslim sebagai hari makan dan minum.
Sebagaimana dalam Sahih Muslim yang diriwayatkan dari Nubaisyah Al-Hudzali, Rasulullah saw bersabda sebagai berikut:
"Hari Tasyrik adalah hari makan, minum (pada riwayat lain), dan hari dzikir.”
Bagaimana hukum puasa di hari Tasyrik?
Sebagian ulama berbeda pendapat perihal larangan puasa di hari Tasyrik.
Imam Syafi’i dalam qaul jadid-nya menjelaskan larangan puasa pada hari Tasyrik.
Hal ini sebagaimana larangan puasa pada yaumus syak. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria