RADARSOLO.COM - Pemandangan langit pada Jumat-Sabtu (21-22/6), akan terlihat berbeda karena adanya fenomena bulan purnama strawberry moon.
Strawberry moon ini bisa dilihat di langit Indonesia dan negara-negara lainnya. Sesuai dengan zona waktunya.
Lantas mengapa fenomena langit ini disebut strawberry moon? Apakah ada perbedaan dengan bulan purnama biasa?
Sejarah Penamaan Strawberry Moon
Pada dasarnya, strawberry moon ini tidak ada beda dengan bulan purnama biasa.
Namun, dilansir dari NASA, pada tahun 1930-an Almanak Petani Maine mulai menerbitkan nama-nama bulan purnama dalam setahun, sesuai penamaan suku Indian yang merupakan suku asli Amerika.
Menurut Almanak ini, suku Algonquin di wilayah timur laut Amerika Serikat menyebut bulan purnama Juni sebagai Strawberry Moon.
Nama tersebut berasal dari musim panen strawberry yang relatif singkat di Amerika Serikat bagian timur laut.
Ahli astronomi dan astrofisika Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaludin mengatakan, penamaan strawberry moon berasal dari musim panen atau matangnya strawberry di Amerika Utara.
Kepala Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Emanuel Sungging menuturkan, warga barat seperti Amerika Utara memiliki tradisi menamai fenomena bulan sesuai dengan budaya di sana.
"Strawberry moon itu purnama biasa," ucap dia.
Baca Juga: Kolam Renang Kerap Jadi Incaran Wisatawan, Ini Dia 5 Wisata Air di Karanganyar yang Menawan
Nama-nama Bulan Purnama saat Juni
Tak hanya strawberry moon, bulan purnama pada bulan Juni juga punya nama berbeda di sejumlah kelompok masyarakat di berbagai belahan dunia.
Ada juga penduduk asli Amerika lain yang menyebut bulan purnama pada Juni dengan Berries Ripen Moon, Green Corn Moon, dan Hot Moon.
Lain lagi dengan masyarakat adat Anishinaabeg atau Ojibwe di wilayah Great Lakes, Amerika Utara yang menamai bulan purnama pada Juni dengan sebutan Waabigonii Giizis atau Bulan Mekar.
Di benua berbeda, masyarakat Eropa ternyata juga punya penamaan untuk bulan purnama
Seperti Flower Moon, Planting Moon, Rose Moon, Mead Moon atau Honey Moon.
Penanamaan ini merujuk pada bulan Juni yang bertepatan dengan musim mawar mekar dan panen madu. Sehingga menjadikan Juni sebagai bulan yang "termanis".
Bulan Purnama Akan Lebih Terang
Bulan purnama pada Juni berada di titik terendah sari siklus pergerakannya, di mana saat itu matahari melambung di titik tertinggi.
Direktur planetarium Museum Umum Milwaukee di AS, Bob Bonadurer menjelaskan, bulan akan melintasi jalur yang pendek selama periode ini.
Bulan akan bersinar terang, meski memang tak benar-benar berwarna merah muda seperti strawberry.
Dia menyebut, bulan purnama pada bulan Juni akan bersinar oranye atau kuning kemerahan.
"Karena busur bulan yang rendah melintasi langit, artinya bulan akan bergerak lebih banyak melalui atmosfer bumi," terang Bob Bonadurer. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria