Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Kisah Inspiratif Neneng, Penjual Kue di Pasar Rebo Jadi Backbone Perekonomian Keluarga Berkat Holding Ultra Mikro BRI

Tri wahyu Cahyono • Rabu, 26 Juni 2024 | 01:51 WIB
Neneng Kurniasih, sukses berjualan kue dan baju di kawasan Rindam, Pasar Rebo, Jakarta Timur.
Neneng Kurniasih, sukses berjualan kue dan baju di kawasan Rindam, Pasar Rebo, Jakarta Timur.

RADARSOLO.COM – Jalan menuju kesuksesan tak semulus jalan tol.

Itulah yang dirasakan Neneng Kurniasih. Penjual kue dan baju di daerah Rindam, Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Usahanya sempat limbung akibat terpukul pandemi Covid-19.

Neneng mengawali usahanya dengan berjualan kue kering. Seiring dengan terkumpulnya keuntungan, dia kemudian memutar modalnya dengan menambah produk usaha, yaitu berjualan baju secara kredit.

“Saya memulai usaha berjualan kue kering pada 2012. Kue tersebut saya jual dengan sistem pre-order,” jelas Neneng.

“Dari usaha jualan kue kering itu, terkumpul modal usaha baru. Kemudian saya manfaatkan untuk berjualan baju secara kredit ke orang-orang. Namun, usaha saya sempat anjlok akibat pandemi Covid-19,” lanjutnya.

Setelah tak berjualan lama karena pandemi Covid-19 dan minimnya modal untuk memulai usaha lagi, Neneng kemudian dikenalkan dengan program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) dari PT PNM oleh salah satu temannya.

Layanan ini merupakan pinjaman modal untuk perempuan prasejahtera pelaku UMKM yang diluncurkan sejak 2015.

“Saya kemudian mencoba pinjam modal ke PNM Mekaar sekitar tahun 2021-2022. Saya dapat pinjaman sekitar Rp 6 juta,” ucapnya.

“Modal tersebut saya manfaatkan untuk menjalankan usaha jualan baju, karena pikir saya saat itu makanan sudah banyak pesaingnya,” lanjut Neneng.

Tapi setelah usaha jualan baju itu membuahkan keuntungan, Nenang akhirnya memanfaatkan pinjaman tersebut sebagai modal untuk berjualan kue kering lagi.

Lewat produk usaha bernama ‘Nastar Jadoel Emak Nye Ociit’, Neneng mengaku banyak menerima pesanan kue kering.

Baca Juga: Senangnya Pemilik Bengkel Sepeda Onthel di Tegal Gede Karanganyar Dapat Hadiah Mobil dari Undian Panen Simpedes BRI Karanganyar

Kukis yang dijual bermacam-macam. Nastar dalam kemasan toples 500 gram dijual seharga Rp 60 ribu.

Sagu keju Rp 55 ribu, putih salju Rp 60 ribu, kemudian ada biji ketapang Rp 40 ribu dalam kemasan 600 gram.

Neneng juga menjual peyek kemasan toples 5 liter seharga Rp 40 ribu.

Menariknya, Neneng juga menerima pesanan dimsum. Biasanya, yang pesan adalah mahasiswa dari kampus sekitar tempat usahanya di Jakarta Timur.

Semua makanan biasanya dipesan lebih dulu oleh pembeli lewat WhatsApp.

Sementara untuk baju, Neneng juga mengaku dagangannya cepat laku.

Dia biasanya mengambil pakaian dari pasar atau toko yang lebih besar, kemudian memasarkannya ke orang-orang dengan sistem kredit tempo sebulan saja.

Apalagi Neneng juga mengungkapkan jika dia tak mengambil keuntungan yang terlalu besar dari jualan baju ini, sehingga banyak orang yang tertarik beli dagangan bajunya.

Berkat pinjaman modal dari PNM Mekaar, omzet usaha Neneng pun kini meningkat.

“Setelah bergabung dengan PNM Mekaar, saya tak hanya mendapatkan pinjaman modal usaha, tetapi jadi kenal dengan anggota PNM Mekaar lainnya,” tutur dia.

Lewat kelompok atau komunitas tersebut, Neneng bisa memperluas pemasaran dan membuat pembeli bertambah.

Bahkan, banyak ibu-ibu anggota PNM Mekaar yang ikut memesan kue kering hingga baju ke Neneng.

“Dengan pendapatan yang semakin meningkat, kini saya bisa meraih omzet usaha di atas Rp 5 juta per bulannya,” ucapnya.

Baca Juga: Masuk Daftar Fortune Southeast Asia 500: BRI Jadi Institusi Keuangan No.1 di Indonesia

Neneng bersyukur, karena berkat doa, kerja kerja keras, dan modal pinjaman dari PNM Mekaar dia bisa kembali menjalankan usaha dengan lebih baik.

Hal itu bahkan diakui Neneng sangat berdampak pada perekonomian keluarganya.

Salah satunya, dia bisa menyekolahkan anaknya tanpa kendala biaya sama sekali.

Sementara itu, Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengungkapkan, komitmen BRI, PNM, dan Pegadaian dalam mengembangkan ekonomi di tingkat grassroot melalui Holding Ultra Mikro (UMi) menjadi contoh nyata bahwa transformasi ekonomi sejati dimulai dari bawah.

Dengan terus memberdayakan pelaku usaha mikro, mereka bukan hanya menjadi agen pertumbuhan ekonomi lokal.

Tetapi juga turut serta dalam pembangunan ekonomi nasional secara menyeluruh.

Sejak dibentuk pada September 2021, total kredit yang disalurkan kepada pelaku usaha mikro dan ultramikro per Kuartal I-2024 mencapai Rp 622,6 triliun.

Jumlah tersebut kurang lebih telah menyentuh 47,6 persen dari total pembiayaan BRI dengan jumlah nasabah 36,8 juta.

“Bahwa untuk pemberdayaan itu ternyata tidak cukup dikasih kredit,” jelas Supari.

“Yang paling penting itu dua hal ternyata. Dikasih kredit dan didampingi, yang kedua mereka juga harus diajari menabung,” imbuh dia. (*)

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#BRI #BBRI #Ultra Mikro #Mekaar