RADARSOLO.COM - Infeksi bakteri pemakan daging atau Streptococcus pyogenes yang kini tengah mewabah di Jepang, juga jadi perhatian dunia. Termasuk masyarakat Indonesia.
Institut Nasional Penyakit Menular Jepang (NIID) melaporkan jumlah orang terinfeksi bakteri pemakan daging ini hampir mencapai 1.000 kasus dalam kurun waktu enam bulan sejak Januari 2024.
Di mana sudah ada puluhan orang yang meninggal karena terinfeksi bakteri tersebut.
Sindrom syok toksik Streptokokus (STSS) yang disebabkan bakteri Streptococcus pyogenes ini sejatinya sudah ada di Jepang sejak beberapa tahun lalu.
Namun, jumlah kasusnya meningkat pada tahun ini.
Dalam strain tertentu dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius, dan menyebabkan tingkat keparahan hingga meninggal dunia hanya dalam hitungan hari.
Lantas di tengah heboh wabah bakteri pemakan daging ini, apakah masih aman untuk bepergian atau berwisata ke Negeri Sakuran tersebut?
Diketahui, STSS atau infeksi bakteri pemakan daging ini bukanlah penyakit menular yang paparannya melalui udara.
Berbeda dengan campak, tuberkulosis (TBS) dan Covid-19, yang memiliki tingkat penularan sangat tinggi.
Sehingga para pakar mengatakan, kecil kemungkinan penyakit itu menyebar luas di masyarakat.
Selain itu, meski jumlah kasusnya meningkat pada beberapa waktu ini, namun angkanya masih tergolong kecil jika dibandingan kasus penyakit menular lainnya.
Baca Juga: Rumah Pensiun Presiden Jokowi di Colomadu Karanganyar Mulai Dibangun, Intip Kondisinya Terkini
"Ini sama sekali bukan jenis penyakit menular yang memerlukan pembatasan perjalanan," tutur pakar penyakit menular di Fakultas Kedokteran Universitas Kesehatan Fujita, Hitoshi Honda.
Dia juga menyebut, tidak ada perkiraan bahwa infeksi ini akan meningkat menjadi pandemi.
"Kami tidak memperkirakan adanya infeksi pada tingkat pandemi," ucap dia.
Diketahui, sejauh ini Jepang juga belum menerapkan situasi darurat terkait wabah penyakit tersebut. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria