RADARSOLO.COM - Belakangan, masyarakat di Pulau Jawa mengeluhkan suhu udara yang terasa dingin meski di tengah musim kemarau. Istilah bediding pun jadi viral di media sosial, seiring fenomena dingin tersebut.
Bediding banyak disebut oleh pengguna TikTok, hingga jadi viral di berbagai platform media sosial.
Lantas, apa sebenarnya arti dari bediding?
Bediding adalah istilah bahasa Jawa untuk menyebut perubahan suhu yang mencolok, terutama di awal musim kemarau.
Suhu udara menjadi sangat dingin menjelang malam hingga pagi. Sementara di siang hari suhu melonjak hingga panas menyengat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut, fenomena bediding ini normal terjadi di bulan-bulan puncak musim kemarau.
Yakni antara bulan Juli hingga Agustus. Bahkan bisa berlanjut hingga September.
Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Guswanto mengatakan, fenomena bediding ini dipicu kemunculan Angin Monsun Australia.
Angin Monsun Australia bertiup dari Australia menuju Benua Asia, melewati wilayah Indonesia dan perairan Samudera Hindia yang juga memiliki suhu permukaan laut relatif rendah atau dingin.
"Angin Monsun Australia sifatnya kering dan sedikit membawa uap air. Hal ini memengaruhi musim kemarau di Indonesia," tutur Guswanto.
Fenomena itu mengakibatkan suhu udara di beberapa wilayah di Indonesia, terutama wilayah bagian selatan Khatulistiwa terasa lebih dingin.
Baca Juga: Soal Wacana Pembatasan Pembelian BBM Subsidi Mulai 17 Agustus, Jokowi: Belum Ada Rapat
Suhu dingin akan sangat terasa di malam hari. Dia menyebut, suhu udara bisa mencapai titik minimum.
"Dingin itu kan ada ukurannya. Misalkan suhu, normalnya di malam hari bersuhu 21-23 derajat Celsius, pada bulan Juli-Agustus bisa 17-19 derajat Celsius," papar Guswanto. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria