RADARSOLO.COM - Gus Miftah tengah jadi sorotan publik usai viral dirinya yang dianggap mengolok-olok bapak penjual es teh saat acara Magelang Bersholawat.
Belakangan, pendakwah yang kini Utusan Khusus Presiden Prabowo Subianto Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan itu membuat postingan di akun Instagram-nya.
Postingan itu tidak secara khusus mengklarifikasi terkait isu viral dirinya yang dianggap mengolok-olok penjual es teh.
Namun, dalam postingan ini Gus Miftah menjabarkan tentang menebar cinta, bahagia dan berbagi untuk membantu sesama.
Disertai juga dengan video saat dirinya memborong jajanan para pedagang yang berjualan dalam acara pengajiannya.
"Kekayaan sejati bukan tentang seberapa banyak harta yang kamu miliki tetapi seberapa banyak harta yang kamu bagi serta membuat bahagia banyak hati..," tulis Gus Miftah.
Alih-alih mendapat sambutan positif publik, postingan itu justru dinilai netizen sebagai upaya pencitraan Gus Miftah usai dikritik habis-habisan lantaran mengolok-olok penjual es teh.
"Abis blunder langsung pencitraan," komen akun @andipmaghfira2***.
"Langsung pencitraan setelah menghina dan merendahkan bapak penjual es teh," kata @ariska_chandra_d***.
"Lagi sibuk nyapuin nih yee," ucap @agustianr***.
Diketahui, nama Gus Miftah jadi sorotan bahkan trending topic di X usai dirinya dianggap mengolok-olok penjual es teh dengan kata-kata "goblok".
Hal itu terjadi Gus Miftah tengah memberikan kajian di acara Magelang Bersholawat.
"Es tehmu ijek okeh ora (es tehmu masih banyak nggak)? Masih? Yo kono didol (ya sana dijual), goblok," kata Gus Miftah dalam video viral yang beredar.
"Dol en ndisik, ngko lak rung payu yo wes, takdir (Jual dulu, nanti kalau masih belum laku, ya sudah, takdir)," imbuh dia.
Sementara itu, Kuasa hukum Gus Miftah, Herdiyan Saksono mengatakan, pihaknya telah mengonfirmasi langsung kepada sang pendakwah terkait video viral interaksi dengan penjual es teh.
Dikatakan Herdiyan, Gus Miftah menyebut jika kejadian itu hanya sebuah guyonan atau gaya bahasa dalam penyampaian syiar.
"Dalam penyampaian sebuah cerita yang dimaknai dengan pertanda-pertanda, yang menurut Gus itu merupakan intermezzo dan menarik perhatian para khalayak," papar Herdiyan.
Menurut dia, kejadian saat pengajian itu tak bisa dilihat dan dinilai secara sepenggal-sepenggal. Agar masyarakat tidak salah dalam menilai.
"Perdebatan soal baik atau buruk, langkah yang diambil dalam cerita itu tidak bisa sepenggal-sepenggal, atau dipotong ceritanya," ujar dia.
"Sehingga kita harus secara dewasa mengambil satu kesimpulan yang arif bijaksana dalam mengomentari suatu peristiwa," tandas Herdiyan. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria