RADARSOLO.COM - Nasib para pekerja atau karyawan PT Sritex kian tak jelas, setelah 45 hari keputusan pailit perusahaan tersebut.
Bahkan, kini produksi di pabrik mulai distop lantaran bahan baku yang kian menipis dan terancam habis.
Hal itu diungkapkan Koordinator Serikat Pekerja Sritex Group Slamet Kaswanto mengatakan, saat ini banyak mesin pabrik yang sudah stop produksi.
Sebab, bahan baku juga makin menipis.
Di sisi lain, harapan untuk pabrik going concern pasca putusan pailit pun tampaknya tak akan terjadi.
"Bahan baku sudah berangsur habis, mesin banyak yang sudah stop, produksi berhenti dan karyawan nasibnya tak jelas," tutur Slamet, Sabtu (7/12).
Makin parahnya, Slamet juga mendapat informasi jika rekening perusahaan di bank sudah diblokir oleh kurator, yang menangani masalah kepailitan Sritex dan tiga anak perusahaannya.
Dengan diblokirnya rekening perusahaan tersebut, dia mempertanyakan nasib pembayaran gaji pekerja.
"Lantas bagaimana dengan pembayaran gaji kami?" ujar dia.
Lebih lanjut, dia mengatakan, para pekerja bertambah kecewa lantaran rencana Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) yang akan menjadi mediator Sritex dengan kurator justru batal.
Pembatalan oleh kurator itu, menurut Slamet, seperti telah mempermainkan nasib puluhan ribu pekerja Sritex yang kini terkatung-katung.
"Nasib puluhan ribu karyawan dipermainkan begitu saja tanpa ada merasa tanggung jawabnya," ucap dia.
Di sisi lain, pihaknya juga meminta pemerintah untuk lebih serius memikirkan kelangsungan nasib puluhan ribu pekerja Sritex.
Slamet mengaku masih memiliki harapan besar kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk memikirkan penyelesaian masalah Sritex.
Dikatakan dia, putusan pailit dari Pengadilan Niaga Semarang beberapa waktu lalu, telah membuata para pekerja Sritex terpukul.
Sebab, para pekerja membayangkan nasib mereka yang bakal di-PHK. Bahkan ancaman tak mendapat pesangon.
"Itu bukan pilihan mereka semua. Karena sejatinya mereka semua hanya ingin bekerja, terus dalam hubungan kerja, terus gajian untuk mencukupi kebutuhan hidup," tegas Slamet. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria