Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Menteri Perindustrian Ungkap Kasus Pailit Sritex Lebih Kompleks dari yang Terlihat: Seberapa Parah?

Syahaamah Fikria • Sabtu, 4 Januari 2025 | 05:00 WIB
Karyawan PT Sritex saat pulang dari pabrik di Sukoharjo.
Karyawan PT Sritex saat pulang dari pabrik di Sukoharjo.

RADARSOLO.COM - Masalah yang dihadapi PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) ternyata jauh lebih rumit dibanding apa yang tampak saat ini, usai Mahkamah Agung (MA) menolak kasasi terkait status pailit yang diajukan pabrik tekstil terbesar se Asia Tenggara itu.

Kerumitan masalah Sritex diungkapkan Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita.

Menurut Agus, status pailit ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah, khususnya bagi Kemenperin dan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker).

Terutama untuk memastikan kelangsungan produksi perusahaan tekstil terbesar yang memiliki puluhan ribu pekerja tersebut.

"Kasus Sritex jauh lebih kompleks dibandingkan apa yang terlihat di permukaan. Ini tentu menyulitkan pemerintah, khususnya Kemenperin dan Kemenaker, dalam menjaga keberlangsungan produksi dan tenaga kerja di Sritex," ujar Agus, Jumat (3/1/2025).

Prioritas Pemerintah Kelangsungan Produksi dan Tenaga Kerja

Agus menegaskan, prioritas utama pemerintah saat ini adalah memastikan Sritex tetap dapat berproduksi.

Langkah ini dinilai penting, tidak hanya untuk menyelamatkan ribuan tenaga kerja yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan tersebut. Tapi juga untuk menjaga pangsa pasar Sritex di tingkat internasional.

"Jika produksi terhenti, pasar yang selama ini diisi oleh Sritex bisa diambil alih oleh produsen dari negara lain. Memulihkan kepercayaan pasar yang hilang tidaklah mudah," jelas Agus.

Sebagaimana diketahui, Sritex dikenal sebagai salah satu eksportir tekstil terkemuka, dengan jaringan pasar yang luas hingga ke berbagai negara.

Menurut Agus, hilangnya pasar Sritex akan menjadi kerugian besar bagi Indonesia, mengingat peran strategisnya dalam industri tekstil nasional.

Baca Juga: Kronologi dan Fakta Penembakan Bos Rental Mobil di Tol Tangerang-Merak, Anggota TNI AL Diamankan: Dor Pakai Senjata Jenis Ini

Pendekatan dengan Tim Kurator

Untuk menyelamatkan Sritex, Kemenperin saat ini sedang melakukan pendekatan dengan tim kurator yang bertugas mengelola aset perusahaan setelah dinyatakan pailit.

Agus menyebut bahwa pemerintah tengah mengupayakan opsi going concern. Yakni memastikan Sritex tetap beroperasi meski berada dalam pengawasan kurator.

"Kami telah minta pertemuan dengan tim kurator untuk membahas kelangsungan produksi Sritex," ucap Agus.

"Kita ingin going consern, kita bisa produksi dan tenaga kerja bisa kita selamatkan. Yang bisa memutuskan going cornsern bisa atau tidak adalah kurator dan tim pengawas," lanjut dia.

Dampak Luas Jika Sritex Tidak Berproduksi

Selain berdampak langsung pada ribuan tenaga kerja, penghentian produksi Sritex juga akan memberikan dampak signifikan pada industri tekstil nasional.

Sebagai salah satu pilar utama ekspor tekstil, keberadaan Sritex tidak hanya menjadi aset ekonomi tapi juga simbol daya saing industri Indonesia di pasar global.

Agus berharap semua pihak, termasuk tim kurator dan pengawas, dapat bekerja sama untuk menemukan solusi terbaik bagi perusahaan dan pekerja.

Langkah-langkah yang tepat dinilai sangat krusial untuk mencegah dampak ekonomi lebih lanjut akibat status pailit yang menimpa Sritex. (ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#pailit #agus gumiwang kartasasmita #tekstil #Sritex #menperin