Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

BUDAYA JAWA: Makna Simbolik 7 Motif Jarik pada Upacara Adat Mitoni

Tri wahyu Cahyono • Senin, 20 Januari 2025 | 18:29 WIB
Beragam motif jarik yang memiliki filosofi.
Beragam motif jarik yang memiliki filosofi.

RADARSOLO.COM – Dalam setiap kelahiran hingga kematian, dilakukan upacara adat Jawa.

Salah satunya mitoni, yakni adat Jawa yang dilakukan pada masa kehamilan tujuh bulan.

Di masa ini, janin dipercaya sudah mendapatkan kehidupan.

Mitoni berasal dari Bahasa Jawa dari kata “pitu” yang memiliki arti tujuh.

Mitoni juga sering disebut dengan tingkeban.

Masyarakat jawa meyakini, angka tujuh memiliki makna pitulungan (pertolongan).

Dengan tujun dan agar pertolongan datang pada ibu yang sedang mengandung dalam acara mitoni.

Disertai doa agar nantinya pada saat persalinan ibu dan anaknya diberi keselamatan, dijauhkan dari hal-hal buruk.

Serta harapan agar nanti bayinya menjadi anak yang berbudi pekerti baik dan tumbuh sehat.

Dalam pelaksanaannya, tradisi mitoni ada berbagi rangkaian acara. Seperti siraman, brojolan, ganti busana, jual rujak, kenduri/selametan.

Salah satu yang menarik yaitu prosesi ganti busana.

Ganti busana ini sering disebut pantes-pantes.

Baca Juga: Kembar Mayang di Pernikahan Adat Jawa Bukan Sekadar Hiasan, Ternyata Punya Makna Mendalam

Prosesi ini dilakukan oleh calon ibu yang berganti jarik hingga tujuh kali dengan motif yang berbeda.

Diiringi dengan pertanyaan “Sudah pantas apa belum?”.

Sampai ganti enam kali dijawab oleh para tamu yang hadir “belum pantas”.

Hingga jarik yang terakhir atau yang ketujuh dengan motif kain sederhana, barulah dijawab “pantes”.

Setiap motif jarik mengandung nilai filosofi, yaitu agar kebaikan yang ada pada kain jarik bisa menurun kepada calon ibu dan bayinya.

Diakhiri dengan motif yang paling sederhana sebagai berikut:

1. Sidoluhur : melambangkan kemuliaan, memiliki makna agar anak menjadi orang yang sopan dan berbudi pekerti luhur.

2. Sidomukti : melambangkan kebahagiaan, maknanya agar bayi yang akan lahir menjadi orang yang mukti wibawa, yaitu berbahagia dan disegani karena kewibawaannya.

3. Truntum : melambangkan agar nilai-nilai kebaikan selalu dipegang teguh, maknanya agar keluhuran budi orangtuanya tumaruntum atau menurun pada sang bayi.

4. Wahyu Tumurun : maknanya agar bayi yang akan lahir menjadi orang yang senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dan selalu mendapat petunjuk dan perlindungan dari Nya.

5. Udan Riris : melambangkan harapan agar kehadiran dalam masyarakat anak yang akan lahir selalu menyenangkan, maknanya agar anak dapat membuat situasi yang menyegarkan, enak dipandang, dan menyenangkan dapat menghibur siapa saja yang bergaul dengannya.

6. Sido Asih : maknanya agar bayi yang akan lahir menjadi orang yang selalu di cintai dan dikasihi oleh sesama serta mempunyai sifat belas kasih.

7. Lurik Lasem : motif garis vertikal, memiliki makna prasaja apa adanya. Kain lurik biasa dikenakan oleh masyarakat luas, diharapkan calon bayi nantinya selalu bersikap apa adanya namun sembada tidak pantang menyerah.

Baca Juga: Pameran Seni di Klego Boyolali, Lukisan Djoko Sutedjo Angkat Budaya Lokal

Selalu gigih untuk mencapai segala keinginannya. dan memiliki makna semoga anak senantiasa bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa.

Setelah mencapai kain yang ketujuh, calon ibu untuk atasannya mengenakan dringin sebagai kemben.
Motif garis horizontal ini memiliki makna semoga anak dapat bergaul, bermasyarakat, dan berguna antarsesama. (mg3/wa)

 

Editor : Tri wahyu Cahyono
#budaya jawa #filosofi #upacara adat #makna #jarik #mitoni