Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

RI 25 Jadi Trending, ASN Pendemo di Kemendiktisaintek Desak Satryo Turun dari Mobil Dinas! Netizen: Layak Masuk Guinness World Record

Syahaamah Fikria • Selasa, 21 Januari 2025 | 02:27 WIB
Mobil dinas pelat RI 25 jadi viral usai para ASN yang gelar demo di Kemendiktisaintek minta Menteri Satryo Soemantri untuk turun.
Mobil dinas pelat RI 25 jadi viral usai para ASN yang gelar demo di Kemendiktisaintek minta Menteri Satryo Soemantri untuk turun.

RADARSOLO.COM - Setelah viral mobil dinas pelat RI 36, kini giliran RI 25 jadi trending di media sosial X.

RI 25 adalah pelat mobi dinas Mendiktisaintek Satryo Soemantri Brodjonegoro yang kini tengah heboh didemo pegawainya lantaran dianggap arogan, kasar hingga lakukan pemecatan sepihak.

Dalam video yang beredar, tampak mobil dinas RI 25 yang diduga ditumpangi Menteri Satryo, dikepung dan dicegat oleh para ASN Kemendiktisaintek yang sedang demo.

Tak hanya itu, mobil RI 25 itu juga disoraki dan diteriaki para pendemo.

Para ASN pegawai Kemendiktisaintek itu meneriakkan kata "turun" saat mobil dinas Menteri Satryo itu keluar dari basement gedung.

"Turun, turun, turun," teriak massa serentak saat mobil melaju meninggalkan kawasan kantor.

"Layak Masuk Guinness World Record Nih. Sejarah Di Kabinet Presiden
@prabowo RI 25 Di Demo Pegawainya Sendiri!" cuit @Ary_DatangLagi, sembari membagikan video dan foto suasana demo di kantor Kemendiktisaintek.

ASN Desak Menteri Satryo Mundur

Baca Juga: Didemo Pegawainya, Ini Dia Profil Mendikti Saintek Satryo Soemantri Brodjonegoro

Diketahui, ratusan ASN di lingkungan Kemdiktisaintek menggelar aksi protes di kantor kementerian setempat.

Dalam aksi itu, mereka menyuarakan kritik kepada Menteri Satryo Soemantri Brodjonegoro sambil membawa spanduk bernada menyindir dan meneriakkan tuntutan agar menteri tersebut mundur.

Para ASN juga membawa spanduk bertuliskan protes keras, seperti 'Institusi negara bukan perusahaan pribadi Satryo dan istri!', 'Kami ASN, dibayar oleh negara, bekerja untuk negara, bukan babu keluarga. #Lawan #MenteriZalim #PaguyubanPegawaiDikti'.

Selain spanduk, mereka memasang tujuh karangan bunga di sekitar lokasi aksi dengan pesan sindiran.

"Berdiri Bersama Hari Ini untuk Dikti yang Lebih Baik #Lawan #MenteriZalim #PaguyubanPegawaiDikti," demikian salah satu tulisan pada karangan bunga.

Aksi protes ini juga diwarnai dengan menyanyikan lagu kebangsaan, seperti 'Indonesia Raya dan Bagimu Negeri', serta meneriakkan yel-yel solidaritas.

Protes diduga dipicu oleh pemberhentian mendadak seorang pegawai bernama Neni Herlina yang merupakan bagian dari Kemendiktisaintek.

Pegawai menilai pemberhentian tersebut sarat dengan kesalahpahaman dan tidak melalui prosedur yang seharusnya.

"Mungkin ada kesalahpahaman dalam pelaksanaan tugas yang berujung pada fitnah terhadap Ibu Neni, meski dia tidak melakukan kesalahan tersebut," ujar Ketua Paguyuban Pegawai Dikti, Suwitno.

Belakangan juga beredar rekaman suara yang diduga Mendiktisaintek Satryo mengamuk dan menampar salah satu pegawai di rumah dinas.

Rekaman suara yang beredar di media sosial, dibagikan akun X @cjournalist_ID.

Dalam rekaman suara yang viral itu terdengar suara pria diduga Satryo melampiaskan kemarahan kepada seorang pegawai rumah dinas di kawasan Widya Chandra, Jakarta Selatan.

Dalam percakapan tersebut, Satryo disebut marah akibat masalah air yang mati di rumah dinas.

Pegawai yang diketahui laki-laki terdengar meminta maaf berulang kali.

"Mohon maaf saya pak. Iya mohon maaf sekali lagi," kata pegawai rumah dinas Satryo Soemantri.

Namun, suara keras menyerupai lemparan benda terekam, diikuti dugaan tamparan.

"Sengaja, membuat rumah ini nggak ada air. Tadi air hidup, kok tiba-tiba mati. Ulah si Ricky, kamu diam saja? Nggak tanggung jawab sama sekali," kata pria yang diduga Satryo dalam rekaman tersebut.

Tanggapan Kemendiktisaintek

Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Togar M. Simatupang, menyebut, aksi demo dan protes itu sebagai bagian dari dinamika interaksi di tengah proses pemekaran organisasi.

Ia menegaskan, kementerian terbuka untuk dialog persuasif guna mencari solusi terbaik.

"Masih ada ruang untuk dialog dengan pendekatan yang lebih baik. Kami membuka tangan untuk mendiskusikan segala aspirasi," kata Togar.

Terkait pemberhentian Neni Herlina, Togar menolak anggapan bahwa keputusan tersebut dilakukan secara tiba-tiba.

Ia menyatakan bahwa keputusan itu merupakan bagian dari penataan organisasi.

"Tidak ada keputusan yang mendadak. Setiap individu harus memenuhi standar layanan dan mutu yang diharapkan dalam organisasi," jelasnya. (ria)

 

 

 

 

Editor : Syahaamah Fikria
#Satryo Soemantri Brodjonegoro #Mendiktisaintek #viral #Trending #protes #RI 25 #arogan #Kemendiktisaintek