RADARSOLO.COM - Jumlah korban meninggal dalam bencana longsor di Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan mencapai 18 0rang.
Di antara para korban, terdapat Sekretaris Desa (Sekdes) Kasimpar yang ditemukan tewas bersama anaknya.
“Satu keluarga, yang sudah ditemukan adalah sekdes dan anaknya. Keduanya meninggal dunia,” ujar Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Pekalongan, M Yulian Akbar, Selasa (21/1/2025).
Desa Terparah Terdampak Longsor
Akbar menjelaskan, Desa Kasimpar menjadi wilayah yang paling terdampak akibat timbunan material longsor.
Bahkan, satu rumah milik sekdes setempat dilaporkan tertimbun.
“Korban paling banyak memang berasal dari Desa Kasimpar karena tertimpa longsoran tebing,” tambahnya.
Mobil-Mobil Terjebak Banjir dan Longsor
Sempat beredar video viral yang memperlihatkan deretan mobil di area persawahan.
Akbar mengonfirmasi bahwa kendaraan tersebut sedang melintas saat longsor terjadi.
Situasi diperparah dengan banjir lumpur yang melanda beberapa kecamatan lain, seperti Kedungwuni, Wonopringgo, Karanganyar, Tirto, dan Wonokerto.
“Di atas terjadi longsor, sementara di bawah ada banjir lumpur. Sejumlah wilayah sekitar Pekalongan juga terendam banjir,” jelas Akbar.
Status Darurat Bencana Ditetapkan
Hingga kini, pemerintah setempat masih mendata jumlah warga yang mengungsi.
Sebagian korban banjir dan longsor dilaporkan menumpang di rumah kerabat atau tetangga.
Sementara itu, Pemkab Pekalongan telah menetapkan status tanggap darurat bencana.
Akbar menyampaikan, posko-posko darurat telah didirikan di berbagai kecamatan untuk membantu korban terdampak.
"Status darurat bencana sudah ditetapkan. Kami telah mendirikan posko di setiap kecamatan untuk memudahkan koordinasi," jelasnya.
Selain itu, pihaknya juga mempersiapkan dapur umum.
Kronologi Banjir Bandang dan Longsor
Bencana banjir dan longsor di Kabupaten Pekalongan dipicu hujan deras yang mengguyur wilayah Petungkriyono sejak Senin (20/1/2025) sekitar pukul 12.00 WIB.
Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, Bergas Catursasi, menjelaskan, sejauh ini tercatat 18 korban meninggal dunia.
Kemudian, 9 orang masih tertimbun dan dalam proses pencarian, serta 10 orang lainnya mengalami luka-luka.
“Saat ini, tim SAR masih berupaya menemukan sembilan orang yang diduga tertimbun. Selain itu, bangunan seperti kafe dan beberapa rumah juga dilaporkan rusak, namun jumlah pasti masih didata,”
tutur Bergas.
Ia menambahkan, data mengenai jumlah pengungsi masih dalam proses verifikasi dan diperkirakan akan terus bertambah seiring intensitas hujan yang masih tinggi di beberapa wilayah sekitar Pekalongan.
Kesaksian Korban Selamat
Dahono, 47, salah satu korban selamat, menceritakan detik-detik saat longsor terjadi.
Saat itu, ia bersama rombongan dalam perjalanan pulang dari Tegal.
Longsor tiba-tiba terjadi di Desa Kesimpar, menutup jalan di depan dan belakang mereka.
"Kami terjebak di tengah, hujan deras, kondisi gelap. Saya langsung meminta keluarga keluar dari mobil untuk mencari tempat aman. Hanya 10 detik setelah kami tiba di tempat aman, longsor besar terjadi," ungkap Dahono.
Material longsor menghanyutkan tiga mobil rombongannya.
Beruntung, seluruh anggota rombongan selamat, meski mobil mereka hilang tersapu longsoran.
"Kondisinya sangat mencekam. Banyak motor yang juga tersapu longsor. Alhamdulillah, kami semua selamat," tutur Dahono. (ria)
Bencana longsor dan banjir bandang di Petungkriyono, Pekalongan menewaskan 18 orang. Di antara para korban adalah Sekretaris Desa Kasimpar dan anaknya.
Editor : Syahaamah Fikria