RADARSOLO.COM- Kegiatan pertanian Indonesia berkaitan erat dengan budaya.
Terdapat ritual-ritual yang dilakukan sebelum penanaman dan setelah panen.
Dahulu sebelum teknologi berkembang, para leluhur sudah mengenal penanggalan sebagai pedoman untuk tandur alias musim tanam.
Hal ini membuat para petani lebih peka terhadap perubahan alam, sehingga hasil panen akan lebih bagus.
Pranata mangsa berasal dari kata pranata yang berarti aturan, dan mangsa yang berarti masa atau musim.
Pranata mangsa adalah aturan waktu yang digunakan para petani untuk menentukan masa bercocok tanam.
Pranata mangsa mulai dikenalkan oleh Raja Keraton Solo Pakubuwana VII pada tahun 1856.
Pranata mangsa tani dibagi menjadi 12 mangsa berdasarkan peredaran matahari atau surya sengkala.
Yang kemudian ditentukan berdasarkan tanda-tanda alam. Seperti letak matahari, arah angin, cuaca, perilaku hewan dan tumbuhan.
Pranata mangsa pertanian terbagi menjadi 4 musim. Yaitu musim hujan atau rendheng.
Pancaroba akhir musim hujan atau mareng.
Musim kemarau atau ketiga, dan musim pancaroba menjelang hujan atau labuh.
Baca Juga: BUDAYA JAWA: Ini Dia Tradisi Methik Pari sebelum Panen dan Mulai Jarang Ditemui
Berikut pranata mangsa pertanian dan penjelasannya:
• Mangsa Kasa (22 Juni – 1 Agustus)
Para petani membakar batang padi yang masih tersisa di sawah. Petani menanam palawija, ubi, dan lain-lain. Daun mulai rontok. Belalang bertelur.
• Mangsa Karo (2 Agustus – 24 Agustus)
Cadangan pangan mulai menipis. Tanah di sawah mulai retak karena tidak ada air. Pohon randu dan mangga mulai bersemi.
• Mangsa Katiga ( 25 Agustus – 17 September)
Sumur-sumur mulai kering dan angin berdebu. Tanah tidak dapat ditanami karena panas dan tidak ada air. Masa panen palawija, ubi, dan lain-lain.
• Mangsa Kapat (18 September – 12 Oktober)
Saatnya petani mulai menggarap lahan untuk menanam padi.
• Mangsa Kalima (13 Oktober – 8 November)
Hujan pertama dan ulat-ulat mulai keluar. Saatnya petani mulai menyebar benih.
• Mangsa Kanem (9 November – 21 Desember)
Para petani mulai bekerja di sawah. Banyak buah-buahan.
• Mangsa Kapitu (22 Desember – 2 Februari)
Baca Juga: BUDAYA JAWA: Kisah Dewi Sri, Lambang Kemakmuran yang Disebut Lahir dari Sebuah Telur
Banyak penyakit dan wabah yang menyebar. Para petani mulai menanam padi. Sungai banjir dan angin kencang.
• Mangsa Kawolu (3 Februari – 28 Februari)
Padi meninggi, sebagian berbuah.
• Mangsa Kasanga (1 Maret – 25 Maret)
Musim padi berbuah.
• Mangsa Kasepuluh (26 Maret – 18 April)
Padi mulai menguning. Panen padi
• Mangsa Destha (19 April – 11 Mei)
Panen raya untuk tanaman berumur pendek. Burung sedang mengeram.
• Mangsa Sadha (12 Mei – 21 Juni)
Petani mulai menjemur padi dan dimasukkan ke lumbung. (mg4/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono