Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Pro Kontra Serangga Bisa Jadi Lauk Makan Bergizi Gratis, DPR hingga Pakar Buka Suara! Bagaimana Jika Anak Malah Jijik?

Syahaamah Fikria • Jumat, 31 Januari 2025 | 01:33 WIB
Siswa menyantap nasi yang diberikan dalam program makan bergizi gratis di SD N Purwodiningratan, Kecamatan Jebres, belum lama ini. Kantin sekolah siap dilibatkan. (M Ihsan/Radar Solo)
Siswa menyantap nasi yang diberikan dalam program makan bergizi gratis di SD N Purwodiningratan, Kecamatan Jebres, belum lama ini. Kantin sekolah siap dilibatkan. (M Ihsan/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Usulan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana yang yang sampaikan serangga bisa jadi salah satu menu lauk program makan bergizi gratis (MBG), terus tuai pro kontra.

Pakar kesehatan hingga kalagan legislator ikut buka suara atas usulan lauk serangga dalam makan bergizi gratis itu.

Anggota Komisi IX DPR RI Alifudin menegaskan, gagasan menjadikan serangga sebagai lauk makan bergizi gratis tersebut perlu dikaji secara mendalam sebelum benar-benar diterapkan.

Menurutnya, ide ini harus dipertimbangkan secara cermat agar tidak menimbulkan polemik di tengah masyarakat.

Khususnya bagi anak-anak yang menjadi sasaran utama program.

Perbedaan Kebiasaan Makan

Alifudin mengungkapkan, setiap daerah di Indonesia memiliki kebiasaan makan yang berbeda-beda.

Beberapa wilayah memang sudah terbiasa mengonsumsi serangga sebagai sumber protein.

Namun di daerah lain, masyarakat justru menganggapnya tidak lazim, bahkan jijik dan tidak mau memakannya.

“Kita harus pahami kebiasaan makan berbeda-beda di sejumlah daerah. Perasaan tidak nyaman harus dipertimbangkan dalam pengambilan kebijakan agar tujuan program untuk menciptakan pola makan bergizi tetap tercapai tanpa timbulkan penolakan," ujarnya, Kamis (30/1/2025).

Selain itu, dia menekankan program makanan bergizi gratis seharusnya tetap mempertimbangkan keberagaman budaya dan kebiasaan makan masyarakat Indonesia.

Makanan yang disajikan harus sesuai dengan selera dan kebiasaan di masing-masing wilayah agar manfaatnya bisa dirasakan secara optimal.

Keamanan Konsumsi Serangga Harus Diteliti

Lebih lanjut, Alifudin mengingatkan bahwa tidak semua jenis serangga aman untuk dikonsumsi.

Beberapa serangga diketahui mengandung zat beracun atau patogen yang bisa berbahaya bagi kesehatan.

“Tidak semua serangga bisa dimakan. Ada yang mengandung racun atau mikroba berbahaya jika tidak diolah dengan benar," kata dia.

Oleh karena itu, kajian mendalam sangat penting agar konsumsi serangga dalam program ini tidak justru menimbulkan masalah kesehatan baru.

Alifudin menambahkan, program makan bergizi gratis sebaiknya tidak hanya sekadar mengganti lauk dengan serangga.

Tapi juga harus dibarengi dengan edukasi gizi kepada anak-anak.

“Yang lebih penting memberikan edukasi tentang pentingnya makanan bergizi seimbang. Jika ingin memperkenalkan serangga sebagai sumber protein, harus dilakukan secara bertahap dengan pendekatan yang tepat, bukan sebagai solusi instan," tuturnya.

Kata Pakar Kesehatan

Pendapat serupa juga disampaikan Idham Cholid, pakar kesehatan dari Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya.

Menurutnya, serangga memang bisa menjadi sumber makanan lokal yang bernutrisi tinggi, tapi perlu dipastikan apakah anak-anak siap menerima menu tersebut.

"Serangga memang memiliki kandungan protein yang tinggi dan bisa menjadi alternatif bahan pangan lokal. Namun, dalam praktiknya, kebiasaan makan anak di berbagai daerah harus diperhatikan," ujar Idham.

Ia menjelaskan, anak-anak memiliki habitus gizi, yaitu pola makan yang terbentuk berdasarkan budaya dan kebiasaan dalam keluarga serta lingkungan sekitar.

Jika mereka tidak terbiasa mengonsumsi serangga, ada kemungkinan besar mereka akan menolak atau merasa jijik.

Usulan Kepala Badan Gizi Nasional

Sebelumnya, Kepala Badan Gizi Nasional atau BGN Dadan Hindayana menyampaikan, serangga bisa jadi alternatif lauk dan sumber protein program makan bergizi gratis.

Menurut dia, menu makan bergizi gratis dibuat dengan memperhatikan potensi lokal.

Semisal daerah tertentu yang terbiasa mengonsumsi serangga, bisa memanfaatkannya sebagai salah satu menu.

"Mungkin saja ada satu daerah suka makan serangga, belalang, ulat sagu, bisa jadi bagian protein," papar Dadan saat Rapimnas Perempuan Indonesia Raya, Sabtu (25/1/2025). (ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#badan gizi nasional #protein #lauk #serangga #pro kontra #Makan Bergizi Gratis