RADARSOLO.COM - Kisruh sekolah lalai pengisian Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) hingga siswa terancam tak bisa daftar Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), terus meluas. Viral guru di MAN 1 Lamongan gebrak meja saat sejumlah siswa bertanya soal SNBP yang bermasalah.
Dalam video viral yang beredar di media sosial, memperlihatkan seorang guru perempuan berbicara dengan nada tinggi kepada sejumlah siswa di dalam ruangan.
Terdengar salah seorang siswa bertanya, mengapa mereka tidak masuk dalam data sistem SNBP.
Namun, jawaban yang mereka terima diberikan dengan nada emosional.
"Jadi mengapa tidak bisa masuk itu kenapa, Bu?" tanya salah satu siswa dengan nada memelas.
Namun, guru tersebut membalas dengan suara lantang sambil menggebrak meja.
Dalam video itu, juga terdengar beberapa siswa yang menangis akibat situasi yang mereka hadapi.
Menurut informasi yang dihimpun, peristiwa ini terjadi pada 31 Januari 2025, bertepatan dengan batas akhir pengisian data PDSS untuk SNBP.
Orang Tua Siswa Datangi Sekolah
Mengetahui anak-anak mereka tidak bisa mengikuti SNBP, para orang tua murid mendatangi MAN 1 Lamongan pada Senin (3/2/2025) untuk meminta klarifikasi dari pihak sekolah.
Setelah ditelusuri, sebanyak 22 siswa di MAN 1 Lamongan kehilangan status eligible karena masalah pada sistem pendaftaran.
Akibatnya para siswa berprestasi itu tidak bisa mendaftar SNBP.
Sehingga mereka kehilangan peluang untuk masuk perguruan tinggi negeri (PTN) melalui jalur prestasi.
Kepala Sekolah MAN 1 Lamongan Buka Suara
Sementara itu, Kepala MAN 1 Lamongan Nur Endah Mahmudah membenarkan bahwa video viral guru genrak meja itu memang terjadi di sekolahnya.
"Itu memang momen ketika kami menjelaskan kepada anak-anak bahwa mereka tidak bisa mengikuti SNBP karena tidak masuk dalam data eligible. Kami harus menyampaikan semuanya secara transparan," ujarnya, Rabu (5/2/2025).
Nur Endah juga memastikan, pihak sekolah telah melakukan evaluasi internal agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
"Kejadian ini menjadi bahan evaluasi bagi pihak sekolah agar ke depan kami bisa memberikan layanan pendidikan yang lebih baik," tegasnya.
Selain itu, pihak sekolah juga telah memberikan teguran langsung kepada guru yang bertindak emosional dan menggebrak meja saat menjelaskan kepada siswa.
"Tindakan seperti ini memang tidak diperbolehkan, baik di dunia pendidikan maupun di tempat lain. Kami sudah memberikan teguran agar hal ini tidak terjadi lagi," tandas Nur Endah. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria