Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Dampak PHK Masal Sritex, Pakar Ekonomi Sebut Potensi Pekerjaan Sektor Informal: Meski Pendapatan Lebih Rendah

Maulida Afifa Tri Fahyani • Jumat, 28 Februari 2025 | 03:09 WIB
Karyawan PT Sritex saat pulang dari pabrik di Sukoharjo.
Karyawan PT Sritex saat pulang dari pabrik di Sukoharjo.

RADARSOLO.COM - Kabar Sritex bangkrut hingga telah mem-PHK ribuan karyawan maupun buruh, akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi, baik di tingkat daerah maupun nasional.

Hal itu diungkapkan Pengamat Ekonomi Makro Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Anton Agus Setyawan.

Anton menyebut, salah satu yang paling berdampak dari bangkrutnya Sritex adalah tingkat pengangguran daerah.

Mengingat ada belasan ribu tenaga kerja yang kehilangan lapangan pekerjaannya.

"Industri tekstil, termasuk Sritex, memberi kontribusi besar terhadap perekonomian Solo Raya. Kehilangan satu pemain besar seperti Sritex akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional. Tapi utamanya yang perlu dipikirkan adalah nasib karyawannya,” kata Anton, Kamis (27/2/2025).

Meski terjadi PHK masal, Anton mengatakan, hal ini belum menunjukkan indikasi adanya badai PHK.

Kendati akan banyak buruh yang kehilangan pekerjaan pasca PHK masal itu, namun lanjut dia, juga bisa berpotensi meningkatkan pekerjaan di sektor informal.

Pekerja-pekerja Sritex yang kena PHK, terutama yang bekerja di sektor blue collar, kemungkinan besar akan beralih ke sektor informal.

Seperti membuka usaha kecil-kecilan, meski pendapatannya jauh lebih rendah dibandingkan saat bekerja di sektor formal.

“Jadi kalau ditanya apakah pengangguran terbukanya bertambah? Tidak. Tapi mereka yang setengah menganggur itu pasti jadi banyak karena kemudian mereka masuk ke sektor-sektor informal, dan itu yang sebenarnya lebih sering terjadi di Indonesia," urainya.

Ia juga menjelaskan, sektor informal memiliki sisi positif karena dapat menyerap banyak tenaga kerja.

Namun di sisi lain, pekerjaan sektor ini sering kali dinilai kurang berkualitas, karena upah rendah dan tanpa jaminan keberlanjutan pekerjaan.

"Kalau yang karyawan white collar, punya keahlian atau tenaga profesionalnya, mereka pasti akan lebih (survive) karena punya daya saing untuk masuk ke pekerjaan baru yang juga di sektor formal. Atau kalau mereka jadi pengusaha biasanya bisnisnya akan lebih bagus," ungkapnya. (ul/ria)

 

Editor : Syahaamah Fikria
#phk #Sritex #pengamat ekonomi #buruh #UMS