RADARSOLO.COM-Tutupnya raksasa tekstil Sritex di Sukoharjo semakin memperparah kondisi industri tekstil dalam negeri.
Belasan ribu karyawan terkena PHK massal, sementara industri padat karya lainnya di Jawa Tengah juga mengalami tekanan besar akibat serbuan produk impor murah.
Menurut Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Tengah Lilik Setiawan, salah satu penyebab utama tumbangnya industri tekstil adalah praktik predatory pricing.
Predatory pricing terjadi ketika produk dijual di bawah biaya produksi untuk sementara waktu.
Tujuannya menghilangkan persaingan atau mencegah pesaing baru masuk ke pasar.
Praktik ini dilarang dalam UU Antimonopoli dan UU Persaingan Usaha, namun tetap menjadi ancaman bagi industri tekstil nasional.
Produk lokal sulit bersaing dengan harga barang impor yang jauh lebih murah.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) Ristadi menerangkan, produk tekstil lokal kalah saing karena harga barang impor yang lebih kompetitif.
Gaya belanja masyarakat yang sensitif dengan harga semakin memperburuk kondisi ini.
Banyak yang lebih memilih barang impor dengan harga lebih murah.
Sementara itu, Direktur Eksekutif API Danang Girindrawardana menekankan, kolapsnya perusahaan tekstil tidak hanya disebabkan oleh Permendag yang memberikan kelonggaran impor produk.
Sejak beberapa tahun lalu, impor tekstil dan garmen terus meningkat.
Baca Juga: Terkena PHK dari Sritex, Sutrisna Kenang Perjalanan Hidup dengan Seragam Bertanda Tangan Rekan Kerja
Puncaknya pada 2023, barang tekstil impor—baik legal maupun ilegal—menumpuk di pasar dalam negeri
Ketua Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia Redma Gita Wirawasta, menjelaskan, permintaan produk tekstil secara global sedang melemah akibat ketegangan geopolitik seperti perang Rusia-Ukraina dan konflik Israel-Palestina.
Akibatnya, banyak negara mulai melakukan proteksi terhadap industri mereka sendiri, sehingga pasokan tekstil dunia melimpah dan menyebabkan praktik dumping, yaitu penjualan barang impor dengan harga sangat murah.
Berikut perusahaan tekstil di Jawa Tengah yang bangkrut pada 2024 merujuk data Konfederasi Serikat Pekerja Nasional (KSPN).
PT S Dupantex: PHK sekitar 700 buruh.
PT Kusumahadi Santosa : PHK sekitar 500 buruh.
PT Kusumaputra Santosa: PHK sekitar 400 buruh.
PT Pamor Spinning Mills: PHK sekitar 700 buruh.
PT Sai Apparel: PHK sekitar 8.000 buruh.
PT Sinar Panca Jaya: PHK sekitar 340
Terbaru, PT Sri Rejeki Isman (Sritex) yang berhenti beroperasi pada 1 Maret 2025. Sedikitnya 8.000 buruh terkena PHK massal. (wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono