Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Sejarah H.M. Lukminto, Pendiri PT Sritex yang Sukses Bangun Industri Tekstil Terbesar di Asia Tenggara

Damianus Bram • Minggu, 2 Maret 2025 | 00:52 WIB
Patung H.M. Lukminto pendiri PT Sritex di halaman kantor pusat Sritex di Sukoharjo, Jumat (28/2/2025).
Patung H.M. Lukminto pendiri PT Sritex di halaman kantor pusat Sritex di Sukoharjo, Jumat (28/2/2025).

RADARSOLO.COM – PT Sritex tengah menjadi sorotan usai dinyatakan pailit dan resmi tutup per Jumat, 28 Februari 2025.

Sebagai salah satu produsen tekstil terbesar di Asia Tenggara, PT Sritex dikenal memiliki produk berkualitas dunia dan bahkan dipercaya sebagai pemasok seragam militer untuk NATO dan Jerman.

Kesuksesan perusahaan ini tak lepas dari sosok pendirinya, H.M. Lukminto, seorang pebisnis tekstil asal Indonesia keturunan Tionghoa, yang memulai usahanya dari nol hingga berkembang menjadi perusahaan raksasa.

Perjalanan Awal: Dari Pedagang Kain di Pasar Klewer hingga Mendirikan Pabrik

Baca Juga: Bupati Sukoharjo Prihatin Atas Penutupan Sritex, Janji Bantu Pekerja yang Terkena PHK

H.M. Lukminto lahir pada 1 Juni 1946 di Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur.

Perjalanan hidupnya tidaklah mudah. Saat duduk di kelas 2 SMA Chong Hua Chong Hui, ia terpaksa putus sekolah akibat kebijakan pemerintah pasca-insiden G30S/PKI, yang saat itu melarang etnis Tionghoa bersekolah.

Setelah putus sekolah, Lukminto mengikuti jejak kakaknya, Ie Ay Djing (Emilia), berdagang kain di Pasar Klewer, Solo.

Dengan modal Rp 100 ribu dari orang tuanya, ia membeli kain belaco dari Semarang dan Bandung, lalu menjualnya dengan berkeliling ke Pasar Klewer, Pasar Kliwon, hingga mendirikan pabrik batik rumahan.

Berkat kegigihannya, bisnisnya mulai berkembang. Pada tahun 1967, ia berhasil membeli dua kios di Pasar Klewer dan terus memperbesar usaha tekstilnya.

Pada tahun 1972, ia mengambil langkah besar dengan mendirikan pabrik pertamanya di Semanggi, Solo.

H.M Lukminto dan Susyana Lukmito semasa hidup. Pasangan suami istri yang dikenal ulet dalam berusaha ini sukses membawa Sritex mendunia.
H.M Lukminto dan Susyana Lukmito semasa hidup. Pasangan suami istri yang dikenal ulet dalam berusaha ini sukses membawa Sritex mendunia.

Kemudian, pada tahun 1982, ia mendirikan pabrik tenun pertama di Desa Jetis, Sukoharjo, dengan nama PT Sri Rejeki Isman (PT Sritex).

Awalnya, pabrik ini hanya berdiri di atas lahan 10 hektare, tetapi seiring perkembangan bisnis, area pabriknya meluas menjadi lebih dari 100 hektare.

Ekspansi Besar: Dari Logistik Militer Indonesia hingga NATO

Pada 3 Maret 1992, Presiden Soeharto meresmikan pabrik PT Sritex, yang saat itu mulai mendapatkan kepercayaan menggarap logistik militer untuk Indonesia.

Dua tahun berselang, keberhasilan PT Sritex dalam membuat seragam berkualitas tinggi berstandar militer menarik perhatian negara-negara Eropa.

Hasilnya, PT Sritex dipercaya untuk memproduksi seragam militer untuk NATO dan Jerman, menjadikannya pemain utama dalam industri tekstil global.

Di bawah kepemimpinan H.M. Lukminto, bisnisnya berkembang pesat, menjadikan PT Sritex ikon industri tekstil nasional dan internasional.

Namun pada tahun 2014 H.M. Lukminto wafat di Singapura. Sejak saat itu, kepemimpinan PT Sritex beralih kepada anak sulungnya, Iwan Lukminto, yang melanjutkan warisan besar ayahnya dalam dunia tekstil.

Namun, setelah bertahun-tahun menjadi raksasa industri tekstil, PT Sritex kini harus menghadapi kenyataan pahit setelah dinyatakan pailit dan resmi berhenti beroperasi.

Terlepas dari kondisinya saat ini, nama H.M. Lukminto tetap dikenang sebagai pelopor industri tekstil Indonesia, yang berhasil membangun sebuah imperium bisnis dari nol hingga mendunia. (dam)

Editor : Damianus Bram
#pailit #seragam militer #lukminto #bupati sukoharjo #tekstil #phk #Sritex #sejarah