Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Tak Hanya Sritex, Pabrik Sepatu Nike dan Adidas Ikutan PHK Massal Ribuan Karyawan, Alasannya Bukan Soal UMK: Lalu, Ada Apa?

Syahaamah Fikria • Jumat, 7 Maret 2025 | 03:04 WIB
Suasana PT Sritex sesaat sebelum dinyatakan tutup, Jumat (28/2/2025).
Suasana PT Sritex sesaat sebelum dinyatakan tutup, Jumat (28/2/2025).

RADARSOLO.COM - Kabar buruk terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) massal kembali terdengar, setelah sebelumnya industri manufaktur dihebohkan kasus pailit PT Sri Rejeki Isman (Sritex). Kali ini, PHK massal terjadi di dua pabrik sepatu di Tangerang.

Dua perusahaan yang melakukan PHK karyawan dalam jumlah besar itu adalah PT Adis Dimension Footwear dan PT Victory Ching Luh.

PT Adis Dimension Footwear diketahui merupakan produsen sepatu olahraga merek ternama, Nike.

Sedangkan PT Victory Ching Luh adalah produsen sepatu brand Adidas dan Reebok.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Banten Septo Kalnadi mengonfirmasi bahwa PT Adis Dimension Footwear telah memberhentikan 1.500 karyawan.

Sementara PT Victory Ching Luh sedang dalam proses PHK terhadap 2.000 karyawan.

"Dua perusahaan di Kabupaten Tangerang sudah melakukan PHK massal," ujar Septo dalam keterangannya, Rabu (5/3/2025).

PHK massal ini sudah terjadi sejak November 2024 hingga Januari 2025, dan kemungkinan masih berlanjut di tahun berikutnya.

"Akan ada lagi gelombang PHK ke depan, namun bukan karena tingginya UMK (upah minimum kabupaten/kota)," lanjutnya.

Penyebab PHK

Septo menjelaskan, alasan utama di balik PHK massal ini adalah penurunan pesanan dari merek-merek besar yang menjadi klien perusahaan tersebut.

Dengan turunnya permintaan, perusahaan pun mengurangi jumlah tenaga kerja guna menyesuaikan kapasitas produksi.

"Karena order dari pemegang merek berkurang. Jika produksi tidak berjalan seperti biasa, mau tidak mau mereka harus mengurangi jumlah karyawan," jelas Septo.

Saat ini, proses pembayaran hak-hak karyawan yang terkena PHK masih berlangsung, meski belum seluruhnya terselesaikan.

"Hak-hak pekerja sedang dalam proses pembayaran, perusahaan masih mengurusnya," ucap dia.

12.000 Pekerja di Banten Terkena PHK

Tidak hanya di sektor sepatu dan tekstil, gelombang PHK massal telah menjadi fenomena yang cukup mengkhawatirkan di Banten.

"Hampir setiap hari ada perusahaan yang mengajukan izin PHK, dan totalnya sepanjang tahun 2024 sudah mencapai sekitar 12.000 pekerja," ungkap Septo.

Situasi ini menambah kekhawatiran akan masa depan industri manufaktur di Indonesia.

Terutama di sektor tekstil dan sepatu yang masih menjadi tulang punggung ekspor nasional.

Gelombang PHK di Sritex, Yamaha dan Sanken

Sebelumnya, kabar PHK massal juga terjadi di sejumlah perusahaan besar di Tanah Air.

Salah satu kasus yang cukup menghebohkan adalah pailit PT Sritex dan tiga anak perusahannya, mengakibatkan sekira 10.000 karyawan di-PHK.

Kemudian, PT Sanken Indonesia yang telah merumahkan 500 karyawan sepanjang 2024.

Bahkan, pada Juni 2025 nanti, pabrik khusus penyediaan produksi parts kecil itu dikabarkan bakal mem-PHK kembali 400 pekerja.

Gelombang PHK juga terjadi di PT Yamaha Music Indonesia.

Dikabarkan, PT Yamaha Music Product Asia yang berada di Kawasan Industri MM2100 Bekasi telah mem-PHK 400 pekerja pada Maret 2025.

Bahkan, PHK akan kembali dilakukan pada Desember 2025. Akan menyasar 700 pekerja di PT Yamaha Indonesia, Kawasan Pulo Gadung Jakarta Timur. (ria)

 

 

Editor : Syahaamah Fikria
#pabrik sepatu #tangerang #adidas #phk #Sritex #phk massal #nike