Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Kampung Kemlayan Solo, Gudangnya Maestro Kesenian Kebanggaan Tanah Air: Sardono W Kusumo hingga Gesang Lahir di Sini

Antonius Christian • Minggu, 30 Maret 2025 | 20:15 WIB
Ibu-ibu berlatih kesenian tari tradisional di salah satu sanggar di Kelurahan Kemlayan, Kecamatan Serengan, Solo. Kemlayan dikenal gudangnya seniman.
Ibu-ibu berlatih kesenian tari tradisional di salah satu sanggar di Kelurahan Kemlayan, Kecamatan Serengan, Solo. Kemlayan dikenal gudangnya seniman.

RADARSOLO.COM - Kesenian mengakar kuat di Kelurahan Kemlayan, Kecamatan Serengan, Kota Solo.

Maklum, kawasan tersebut dulunya tempat bermukim para abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat alias Keraton Solo, yang menggeluti bidang kesenian.

Bahkan sederet maestro kesenian kondang lahir di kampung ini.

Menyusuri setiap sudut Kelurahan Kemlayan, mata akan disuguhkan bagunan-bangunan bergaya heritage.

Jika menelusuri lebih dalam, masih ada aktivitas sejumlah warga yang tak jauh dari kesenian tradisional. Baik itu seni tari maupun karawitan.

Bahkan, empat maestro kesenian yang namanya sudah kesohor, berasal dari Kampung Kemlayan.

Sebut saja empu karawitan Mlaya Widada, maestro tari tradisional S Ngaliman Tjondropangrawit dan Sardono W Kusumo, hingga maestro keroncong pencipta lagu Bengawan Solo Gesang.

Masih segar di ingatan Sardono, yang mengklaim Kampung Kemlayan dulunya merupakan “kawah candradimuka” bagi para seniman Kota Bengawan.

“Seingat saya, dulu ada lebih dari 100 warga Kemlayan yang merupakan seniman. Mereka para abdi dalem keraton,” ungkap pria yang akrab disapa Mas Don ini.

Mas Don menambahkan, para empu kesenian ini diberi gaji dan jatah rumah oleh pihak keraton. Biasanya mereka akan tampil saat keraton memiliki hajat.

“Selain itu, para seniman ini membuat karya seni yang dijadikan sebuah citra atau nilai Jawa versi Keraton Solo. Jadi, mereka ada yang melatih, menciptakan gending, dan tari,” imbuhnya.

Sepengetahuan Mad Don, dulu di Kemlayan juga ada rumah produksi gamelan.

“Tiap gang di Kemlayan pasti ada seniman. Mulai dari Gatsu (Gatot Subroto) hingga kawasan Nonongan,” bebernya.

Tak mengherankan, setiap gending karawitan, tari tradisional, maupun kesenian lainnya banyak yang terlahir dari Kemlayan.

Diciptakan oleh sosok-sosok empu maupun maestro yang ahli di bidangnya.

“Dasarnya (kesenian) ya di sini. Didukung dengan suasana perkampungan juga. Tiap rumah ada pendopo semua. Jadi di situ tempat latihan para empu,” ujar Mas Don.

Dulunya, Kemlayan juga menjadi lokasi “transit” bagi para seniman lintas kota. Menjadi pusat pertemuan para seniman Keraton Solo dengan Keraton Kasultanan Jogja.

“Sudah sering seniman dari Jogja diundang pentas di Keraton Solo. Dulu kan tidak ada hotel ya, jadi mereka menginapnya di sini. Paling sering menginap ya Cokrowarsito, pimpinan karawitan Pakualam Jogja,” beber Mas Don.

Saat menginap itulah, para seniman dari kedua kota ini saling bertukar ide. Hingga akhirnya tercipta karya-karya kesenian baru.

“Terjadi dialog yang bagus, mekipun punya prinsip masing-masing dalam memaknai kesenian,” paparnya.

Setelah memasuki era kemerdekaan, sempat terjadi polemik terkait masa depan para seniman.

Apalagi setelah Keraton Solo memutuskan menjadi satu di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Otomatis keraton tidak lagi menggaji para seniman ini, meskipun mereka masih diperbolehkan menetap di Kemlayan.

“Sempat para seniman membentuk grup, lalu ngamen dari kota ke kota hanya untuk menyambung hidup. Tapi karena mereka bukan pelaku seni industri, jadi agak kurang jalan. Karena pada dasarnya mereka ini tugasnya mencipta karya,” beber Mas Don.

Hingga pada era 50-an, muncul ide dari para pangeran Keraton Solo. Yakni Gusti Hadi Wijoyo, Gusti Joyosuman, dan Gusti Suryohamijoyo.

Mereka memutar otak agar para abdi dalem bidang seni ini tetap terjamin kehidupannya.

“Hingga akhirnya muncul gagasan lahirnya Konservatorium Karawitan pada 1952. Bentuknya semacam sekolah karawitan setara jenjang SMA. Para empu ini bekerja sebagai pendidik,” urai Mas Don.

Mas Don menambahkan lagi, Konservatorium Karawitan ini mengadopsi sekolah seni dan budaya di Belanda.

Maklum, para pangeran Keraton Solo dulunya sekolah dan menimba ilmu di Belanda. Di sana, mereka mempelajari pelestarian budaya lokal Negeri Kincir Angin.

“Mereka melihat Belanda masih menjaga tradisi dan budaya lewat konservatorium. Ini yang kemudian diadaptasi dan didirikan di Solo,” ujar Mas Don.

Saking efektifnya, Konservatorium Karawitan ini sempat ditiru Keraton Jogja. Mereka membuat konservatorium pada 1955.

Bedanya, di Solo untuk belajar karawitan dan di Jogja khusus alat-alat musik barat.

Sayangnya, konservatorium tersebut kini sudah hilang ditelan bumi.

Bangunannya telah beralih fungsi jadi SMP Pangudi Luhur Bintang Laut.

“Di situ dulu ada pendopo besar. Jadi, di situ para empu mengajarkan karawitan. Untungnya dulu ada konservatorium. Kalau tidak, mungkin nasib karawaitan di Solo bisa mati suri,” paparnya.

Soal tutupnya Konservatorium Karawitan, Mas Don mengaku karena terdampak perubahan sistem pendidikan di Indonesia.

Apalagi dengan munculnya SMK seni. Namun di mata Mas Don, ini justru sebuah kemunduran.

“Kalau SMK kan para siswa disiapkan untuk bekerja. Kalau konservatorium, siswa dilatih untuk bekarya. Karena prinsip dasarnya, kesenian ini untuk mencipta karya, bukan menjadi pegawai seni,” tuturnya.

Sementara itu, kesenian di Kemlayan tak pernah mati.

Mas Don mengaku, banyak mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Solo yang menimba ilmu di Kemlayan. Salah satunya di sanggar miliknya.

“Ruh kesenian di Solo masih ada di Kemlayan. Hanya saja bentuknya berbeda. Tidak hanya sebagai lokasi nguri-uri kesenian tradisi keraton, tapi juga wadah bertukar Ide,” ujarnya. (atn/fer)

 

Editor : Syahaamah Fikria
#liburan #maestro #seniman #solo #Keraton Solo #kesenian #abdi dalem #Kampung Kemlayan #Gesang #wisata