RADARSOLO.COM – Patung biawak di Desa Krasak, Kecamatan Selomerto, Wonosobo, Jateng banyak dipuji.
Patung biawak tersebut banjir pujian dan viral karena bentuknya mirip dengan biawak aslinya.
Namun, di balik keindahan patung biawak di Wonosobo, terdapat filosofi.
Diketahui, patung biawak tersebut memiliki tinggi 7 meter.
Nah, pada bagian kepala patung biawak menoleh ke kiri jika dilihat dari arah pembaca radarsolo.com.
Tapi bagi pengendara yang melintas di Jalan Raya Ajibarang-Secang, tepatnya dari arah Jembatan Krasak, maka kepala biawak tampak menoleh ke kanan.
Ternyata, kepala biawak yang menoleh tersebut, tidak hanya meniru gesture biawak, tapi memiliki filosofi.
Sang maestro pembuat patung biawak Rejo Arianto menjelaskan tentang filosofi kepala patung biawak yang menoleh.
“Itu lebih ke bagaimana menyambut poro-poro (tamu atau mereka yang berkunjung ke Wonosobo),” terang Ari, sapaan akrab Rejo Arianto dihubungi radarsolo.com, Kamis (24/4/2025).
“Wonosobo itu ramah, Wonosobo itu asyik. Jadi kenapa patung biawak tersebut melihat ke arah jalan raya merupakan sebagai upaya berinteraksi (penyambutan),” imbuhnya.
Baca Juga: Persebi Boyolali Lolos ke 32 Besar Liga 4 Nasional Setelah Kemenangan 6-0 atas Persidom Dompu
Diketahui, warganet memuji kualitas patung biawak Wonosobo yang dibangun dengan anggaran sekitar Rp 50 juta, tapi hasilnya luar biasa.
Berbeda dengan pembuatan ikon-ikon di daerah lainnya yang menghabiskan anggaran miliaran rupiah, tapi hasilnya tak sebanding bahkan cenderung mengecewakan.
Menyikapi hal tersebut, Ari yang merupakan lulusan Jurusan Seni Rupa Murni Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Solo pada 2011 itu menanggapi dengan bijak.
“Karya seni itu tidak bisa hanya dilihat dari satu kacamata. Seni abstrak, ya dilihatnya dari abstrak. Tidak bisa disamaratakan,” ungkapnya. (wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono