Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Iqbal Lubis Raih Photo of The Year APFI 2025, Ungkap Derita Warga Terdampak Hilirisasi Nikel

Damianus Bram • Minggu, 27 April 2025 | 06:29 WIB
Iqbal Lubis saat menjelaskan karyawannya tentang Hilirisasi Nikel dalam diskusi yang digelar dalam APFI 2025 di Loji Gandrung, Sabtu (26/4/2025).
Iqbal Lubis saat menjelaskan karyawannya tentang Hilirisasi Nikel dalam diskusi yang digelar dalam APFI 2025 di Loji Gandrung, Sabtu (26/4/2025).

RADARSOLO.COM – Luar biasa! Iqbal Lubis, seorang pewarta foto lepas asal Makassar, berhasil meraih penghargaan tertinggi Photo of The Year dalam ajang Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) 2025.

Ia berhasil menyabet predikat Photo of The Year berkat karyanya yang mengangkat isu hilirisasi nikel dan dampaknya terhadap warga rentan di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan.

Dalam sesi diskusi bertajuk Cerita di Balik Foto APFI 2025 yang digelar Pewarta Foto Indonesia (PFI) di Loji Gandrung, Sabtu (26/4/2025), Iqbal menceritakan bahwa karyanya adalah bagian dari mimpi besar untuk menyuarakan suara-suara yang tak terdengar.

“Yang jelas, pada tingkatan pertama sudah tercapai. Saya berhasil mengabarkan informasi ini kepada seluruh Indonesia dan rekan-rekan pers, bahwa ada kelompok rentan yang jarang dilirik, yang mana perlahan mengalami penderitaan akibat produksi nikel,” ujarnya.

Iqbal menyebut esai fotonya menggunakan tajuk “Kiamat Telah Tiba”, menggambarkan kondisi mengenaskan di tiga desa terdampak, yakni Borongloe, Papanloe, dan Mawang.

“Alasannya karena ketika saya ke sana, saya benar-benar merasakan bahwa kondisi lingkungan di tiga desa tersebut sungguh sangat memprihatinkan. Ini seolah kiamat kecil yang pelan-pelan akan membunuh saya,” tegasnya.

Foto of  The Year dalam APFI 2025 karya Iqbal Lubis. Foto ini menyampaikan tentang dampak dari hilirisasi nikel di Bantaeng, Sulawesi Selatan.
Foto of The Year dalam APFI 2025 karya Iqbal Lubis. Foto ini menyampaikan tentang dampak dari hilirisasi nikel di Bantaeng, Sulawesi Selatan.

Ia mengaku tidak menyangka akan terpilih sebagai pemenang utama dalam ajang bergengsi pewarta foto tersebut. Fokus utamanya adalah menyampaikan pesan kepada publik tentang realita pahit di balik industri nikel yang kerap dibanggakan.

“Tidak ada pikiran ke sana, saya tidak memikirkannya. Misi saya harus menang di kategori informasi, sehingga pesan mengenai kondisi Desa Borongloe, Papanloe, dan Mawang mulai tersampaikan dan dipahami masyarakat luas,” jelasnya.

Iqbal menambahkan, selama ini sorotan terhadap isu nikel lebih banyak berfokus pada pekerja, kerusakan alam, atau hutan, namun jarang yang menyorot sisi manusianya.

“Saat di sana, saya melihat ke dapur rumah warga yang tinggal dekat pabrik. Lalu saya berpikir, mereka makan apa, ya? Tak lama kemudian saya melihat ikan-ikan kering yang sudah jadi merah,” kenangnya.

Warna merah tersebut, katanya, akibat kontaminasi limbah produksi nikel.

Tak hanya makanan saja, bahkan pakaian dalam warga pun berubah warna menjadi kemerahan.

“Ini sungguh menyedihkan. Kalau saya tinggal di sana, saya tidak tahu apakah saya bisa bertahan hidup. Makanan, pakaian, semuanya merah,” kata Iqbal.

Iqbal juga menyayangkan minimnya perhatian media terhadap isu ini.

Ia mengaku hanya satu media yang bersedia menerbitkan laporannya, yakni bollo.id.

“Di Sulawesi Selatan ada sekitar 300 media, tapi hanya satu yang menugaskan saya. Jadi, ketika saya datang, saya sudah berniat untuk menyuarakan ini sampai kapan pun,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa karyanya bukan untuk mendapatkan penghargaan, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab moral.

“Jika orang bertanya, apakah ini karya kamu? Saya akan jawab, ini bukan karya saya. Ini adalah sedikit suara yang bisa saya sampaikan ke orang-orang bahwa ada fakta seperti ini di Kabupaten Bantaeng,” imbuhnya.

Ia juga menyinggung soal ironi dari kebijakan mobil listrik yang dianggap ramah lingkungan, padahal proses produksinya berdampak langsung pada warga.

“Mereka bercerita, anak mereka ISPA, mual, bahkan pingsan sudah jadi hal biasa. Bayangkan, mereka menghirup emisi setiap hari,” tegasnya.

Oscar Motuloh: Foto Harus Bisa ‘Seen the Unseen

Ketua dewan juri APFI 2025, Oscar Motuloh, menjelaskan bahwa foto-foto pemenang tahun ini didominasi isu lingkungan yang menyuarakan hal-hal tak terselesaikan di balik pembangunan.

“Selama dua periode pemerintahan Jokowi, infrastruktur dibangun. Tapi bagaimana wajah pertambangan kita? Wajah lingkungan kita? Itu harus diceritakan,” ungkapnya.

Oscar menambahkan bahwa pers visual memiliki tugas untuk memperlihatkan sesuatu yang tidak terlihat.

“Penulis bisa berkisah lewat tulisannya, tapi jurnalis foto harus bisa seen the unseen. Karena itu, kami sepakat memilih foto-foto yang membawa pesan penting, meski dari sudut yang berbeda,” pungkasnya. (dam)

Editor : Damianus Bram
#apfi 2025 #hilirisasi nikel #PFI #solo #nikel #iqbal lubis