RADARSOLO.COM - Bagi pecinta seni Indonesia, nama Ratih Soe Kosasie bukanlah sosok asing. Ia adalah perempuan yang menarikan kisah hidupnya lewat alunan tango, tarian yang membawanya melanglang buana hingga ke berbagai penjuru dunia. Namun, siapa sangka, awal perkenalannya dengan seni tango justru berawal dari sebuah penolakan.
“Tango itu musiknya terdengar tua, muram, nggak cocok buat saya,” kenang Ratih, tersenyum mengingat masa lima belas tahun silam.
Kala itu, suaminya yang seorang penggemar musik tango membelikannya tiket pertunjukan di Bali. Dengan setengah hati, Ratih menghadiri acara itu—tanpa pernah membayangkan bahwa pertunjukan tersebut akan mengubah jalan hidupnya.
Duduk di antara penonton, Ratih terpaku. Di depan matanya, sosok perempuan yang menari tango bukan sekadar bergerak mengikuti irama. Mereka memancarkan pesona cantik bukan karena rupa, tapi oleh keanggunan, keberanian, dan semangat yang menyala.
“Saya langsung jatuh cinta. Saya lihat perempuan itu bukan lemah, tapi justru kuat, punya visi, dan bisa membawa dirinya,” tuturnya.
Cinta pada pandangan pertama itu membuat Ratih melompat ke dalam dunia baru. Tanpa latar belakang menari, ia mendaftar kursus privat tango selama 10 jam.
“Saya ingin tahu, apakah saya benar-benar mencintai tango, atau hanya terpesona melihat para penari profesional?” katanya. Tapi, tiap langkah, tiap sentuhan musik semakin mengikatnya. “Saya jatuh cinta sungguhan,” tegasnya.
Sejak itu, tango bukan hanya tarian. Tango menjadi napas, bahasa tubuh, juga cermin jiwa. Baginya, tango adalah pelajaran tanpa akhir, seperti hidup itu sendiri.
“Belajar tango itu seperti belajar kehidupan. Tidak pernah ada kata lulus. Sampai sekarang, kalau ada guru datang, saya tetap belajar dari awal,” ujarnya.
Kecintaan itu tak berhenti di lantai dansa. Ratih membangun komunitas tango di Indonesia. Ia mendirikan Tango in Paradise Festival yang kini telah memasuki tahun ke-14, mendatangkan maestro tango dari berbagai negara.
Ia juga mengorganisasi Indonesia Championship Preliminaries, ajang resmi menuju kejuaraan dunia di Buenos Aires, menjadikan Indonesia salah satu dari tiga negara Asia yang terlibat seleksi internasional.
“Tango membawa saya keliling dunia. Memang belum semua negara, tapi hampir,” ujarnya, matanya berbinar. Perjalanan itu bukan sekadar jarak tempuh, tetapi juga memperluas wawasan, memperkaya batin. Baginya, menari tango adalah terapi. “Tango itu ekspresi hati. Setiap menari, rasanya saya berada di dunia lain.”
Namun, di tengah gemerlap panggung internasional, Ratih tak pernah meninggalkan akarnya. Dalam banyak penampilannya, ia kerap mengenakan kebaya, kain batik, atau busana tradisional Indonesia.
“Kalau saya mempelajari budaya luar, saya tak mau melupakan budaya sendiri. Itu komitmen saya,” ungkap mantan model ini. Beberapa busana untuk tampilnya bahkan didesain khusus oleh teman-teman desainer Indonesia.
Kecintaannya pada budaya Nusantara juga tampak saat ia hadir dalam Solo Menari 2025 di Kota Bengawan. Dengan penuh antusias, ia turut mengibarkan daun sebagai simbol dimulainya agenda rutin itu di kawasan Ngarsopuro. “Amazing, sangat indah. Ini pengalaman pertama saya, luar biasa. Terima kasih Solo, teruslah menari,” ujarnya penuh kagum.
Bagi Ratih, setiap langkah di atas lantai dansa adalah langkah dalam perjalanan panjang hidupnya. Setiap gerakan tango adalah perlawanan, keanggunan, dan semangat seorang perempuan Indonesia yang tak pernah berhenti menari. (nis/bun)
Editor : Kabun Triyatno