Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Jejak Nusantara di Ibu Kota Thailand: Berdiri Masjid Berbentuk Limasan hingga Kampung Jawa dengan Berpegang Teguh Tradisi

Kabun Triyatno • Senin, 5 Mei 2025 | 04:20 WIB
Rosnendya Yudha Wiguna dan Budhi Hartanto dari Tim Lontar Nusantara di Masjid Jawa di Bangkok Thailand. (Foto Lontar Nusantara)
Rosnendya Yudha Wiguna dan Budhi Hartanto dari Tim Lontar Nusantara di Masjid Jawa di Bangkok Thailand. (Foto Lontar Nusantara)

RADARSOLO.COM - Jejak sejarah perantau Jawa di Bangkok terpatri dalam Masjid Jawa dan tradisi kampungnya yang masih hidup hingga kini. Hubungan antara Indonesia dan Thailand, khususnya antara masyarakat Jawa dan Kerajaan Siam, bukan hanya terjadi di era modern.

Sejak abad ke-19, relasi budaya dan sosial sudah terjalin erat. Salah satu buktinya adalah keberadaan Masjid Jawa (Jawa Mosque) yang berdiri di kawasan Sathorn, Bangkok, Thailand.

Masjid ini diyakini berdiri di atas tanah wakaf milik Haji Muhammad Saleh, seorang perantau asal Jawa, pada tahun 2448 dalam kalender Thailand atau sekitar 1906 Masehi.

Masyarakat setempat mempercayai bahwa Haji Muhammad Saleh adalah mertua dari KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah di Jogjakarta.

Pada pertengahan bulan Syawal lalu, tim Lingkar Studi Lontar Nusantara berkesempatan mengunjungi Masjid Jawa. Lokasinya memang tak mencolok, tersembunyi di balik gedung-gedung perkantoran, rumah sakit, dan hotel-hotel tinggi di pusat kota.

Masjid Jawa di Bangkok Thailand berbentuk limasan. (Foto Tim Lontar Nusantara)
Masjid Jawa di Bangkok Thailand berbentuk limasan. (Foto Tim Lontar Nusantara)

Masjid ini terletak di Soi Charoen Rat 1 Yaek 9, tak jauh dari Taman Lumpini, taman legendaris yang terinspirasi dari Kebun Raya Bogor.

Akses menuju masjid cukup sempit. Jalanan kecil itu hanya cukup dilalui satu mobil, dan di tepinya berdiri kokoh pagar Masjid Jawa. Di sanalah Tim Lontar Nusantara disambut seorang ibu berjilbab yang menyapa hangat dengan salam, membuat suasana terasa begitu akrab.

“Assalamualaikum,” sapanya ramah. “Waalaikumsalam,” jawab spontan tim Lontar Nusantara.

Secara arsitektural, Masjid Jawa didominasi warna putih dan hijau muda. Atapnya berbentuk limasan bertingkat tiga, khas bangunan tradisional Jawa. Masjid berukuran 12 x 12 meter ini memiliki empat pilar utama dan tampak seperti miniatur Masjid Agung Kauman Jogjakarta.

Di dalamnya, terdapat mimbar kayu yang diapit dua jam kayu. Teralis besi mengelilingi serambi dengan empat pintu. Ornamen-ornamen kayu, ukiran, serta tata letak ruangan membawa nuansa kuat masjid-masjid tua di tanah Jawa.

Yang membedakan adalah adanya prasasti peresmian dalam bahasa Thailand, menandakan akulturasi dan pengakuan resmi dari pemerintah setempat atas keberadaan masjid ini.

Kini, Kampung Jawa masih dihuni oleh keturunan perantau Jawa. Meski sebagian besar sudah tidak fasih berbahasa Jawa, tradisi leluhur tetap dijaga. Mulai dari kenduren tiga harian dan tujuh harian, buka bersama saat Ramadan dengan kue cucur dan es cau, hingga sajian khas Indonesia seperti lontong, mi, dan sate saat pengajian Maulid Nabi, masih lestari hingga hari ini.

Masjid Jawa bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah simbol kuat jejak sejarah, warisan budaya, dan hubungan antarbangsa yang terbentuk bukan semata oleh politik, tetapi oleh persaudaraan dan semangat gotong royong para perantau. (Ditulis Rosnendya Yudha Wiguna, Tim Lingkar Studi Lontar Nusantara)

 

Editor : Kabun Triyatno
#kampung jawa #presiden soekarno #thailand #budaya #tradisi #masjid jawa #bangkok