BOYOLALI, Radar Solo – Sebanyak 50 siswa SMA Pradita Dirgantara Boyolali lolos program beasiswa yang tersebar di 25 perguruan tinggi luar negeri (PTLN).
Sementara lima siswa lainnya masih menantikan pengumuman program beasiswa berikutnya.
PIC peminatan PTLN, Isnaini Rohayati mengatakan, 55 siswa tersebut mendapatkan 355 Letter of Acceptance (LoA) dari berbagai PTLN top dunia. Bahkan, satu siswa bisa mendapat hingga 16 LoA sekaligus.
”Total 55 anak itu sekarang ada 335 LoA. Tapi mereka hanya finalisasi dengan satu LoA terbaik yang mereka mau,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Solo.
Menurutnya, capaian tahun ini lebih signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Meski pada angkatan sebelumnya juga ada siswa yang diterima di luar negeri, tidak semua mendapatkan beasiswa.
”Kalau di luar sana orang bilang ini privilege, kami lebih suka menyebutnya keberuntungan. Tetapi beruntung tidak tiba-tiba hadir. Definisi kami, beruntung dalam hal ini adalah ketika apa yang kami persiapkan itu bertemu dengan kesempatan yang pemerintah berikan. Jadi momennya pas,” jelasnya.
Persiapannya dimulai sejak kelas 10 baik dari peminatan program, pemilihan mata pelajaran, portofolio prestasi, hingga persyaratan lain universitas yang dituju.
Dalam proses pendampingan, Isnaini tak bekerja sendiri.
Dia dibantu tim guru yang khusus menangani berbagai aspek seperti penguasaan bahasa dan penulisan esai.
Sementara itu, pencatatan prestasi siswa juga dilakukan secara sistematis dan terintegrasi dengan sistem kurasi pemerintah.
Sementara itu, Kepala Sekolah IB, Oscar Yustino Carascalao menekankan pentingnya peran sekolah dalam memberikan eksposur maksimal kepada siswa.
Menurutnya, SMA Pradita Dirgantara berupaya membuka wawasan siswa seluas mungkin agar mereka mampu menentukan pilihan pendidikan secara mandiri.
”Untuk mendukung proses ini, sekolah memiliki penanggung jawab (PIC) khusus setiap program. Baik PTLN, perguruan tinggi dalam negeri, TNI/Polri, maupun kedinasan,” jelasnya.
Oscar menambahkan, program diploma IB dirancang secara holistik sehingga mampu membekali siswa dengan keterampilan akademik yang relevan.
Misalnya, ketika kuliah di luar negeri, siswa tidak lagi kesulitan dengan tugas-tugas menulis karena sudah terbiasa sejak di bangku sekolah.
”Harapan kami, anak-anak memiliki DNA kejuangan Indonesia yang kuat, dididik dari kelas 10 hingga kelas 12. Sekarang istilahnya, mereka ‘kabur’ dulu untuk belajar. Nanti, mereka bisa pulang memberikan sumbangan untuk bangsa Indonesia,” harapannya.
Kepala Sekolah Nasional SMA Pradita Dirgantara, M. Ridwan Aziz menambahkan, sekolah merancang kurikulum terpadu berbasis global competence.
Siswa didorong berpikir global sekaligus memberi dampak bagi lingkungan sekitar.
”Anak-anak inilah yang 20 tahun ke depan akan menjadi pemimpin bangsa. Mereka harus kami bekali sejak sekarang, agar kelak bisa melanjutkan pendidikan tinggi dan mengabdi, memberikan kontribusi nyata. Banyak ahli memprediksi Indonesia akan menjadi negara besar pada 2045, dan itu hanya bisa terwujud jika anak-anak sekarang disiapkan dengan baik,” kata dia.
Sementara itu, Direktur Utama dan Pengembangan SMA Pradita Dirgantara Kolonel TNI AU Ari Presmana Tarigan bersyukur karena proses pendidikan berjalan sesuai harapan.
Mempersiapkan siswa melanjutkan studi di dalam dan luar negeri. Hal ini tidak lepas dari peran para guru.
”Yang membuat kami senang adalah SMA Pradita Dirgantara benar-benar mampu membuktikan kepada banyak pihak, terutama para orang tua, bahwa kami bisa menyiapkan siswa-siswa dengan baik. Mereka menjadi sangat kompetitif untuk bisa melanjutkan studi ke luar negeri,” ungkapnya.
Tak mengherankan mulai tahun ajaran 2025/2026, SMA Pradita Dirgantara menjadi salah satu SMA Unggulan Garuda Transformasi.
”Kami berharap bisa menjadi pemicu bagi sekolah lain untuk turut berprestasi. Bayangkan jika tahun ini kami bisa mengirim 55 siswa ke universitas top 100 dunia. Jika sekolah lain juga bisa, jumlahnya akan jauh lebih besar secara nasional,” tandasnya.
Ketua Komite SMA Pradita Dirgantara 2024-2025 Liliek Setiawan mengaku sebagai
perwakilan orang tua siswa pihaknya menyaksikan bahwa kelebihan utama dari
Pradita Dirgantara selain di sektor akademi adalah di sektor pendidikan karakter
anak yang menumbuhkan jiwa kepemimpinan dan cinta tanah air.
“Saya selalu merasa bahwa SMA Pradita Dirgantara adalah bukan hanya sebuah
institusi sekolah terbaik di Indonesia, namun lebih daripada itu merupakan sebuah
mesin waktu yang membawa saya melihat masa depan Indonesia Emas di tangan
setiap siswa-siswinya,” beber Liliek.(zia/adi)