Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Dari Desa Kuningan ke Korea: Kisah Hayanah dan Olahan Ubi Jalar yang Mendunia

Tri wahyu Cahyono • Senin, 12 Mei 2025 | 00:24 WIB
Tahun 2000, Hayanah mulai mengolah ubi jalar, komoditas lokal yang kemudian membuka jalan menuju kemandirian ekonomi.
Tahun 2000, Hayanah mulai mengolah ubi jalar, komoditas lokal yang kemudian membuka jalan menuju kemandirian ekonomi.

RADARSOLO.COM-Dari sebuah desa di kaki Gunung Ciremai, kisah inspiratif lahir dari sosok sederhana bernama Hayanah.

Perempuan 59 tahun itu berhasil bangkit dari keterpurukan ekonomi dan mengubah hidup puluhan perempuan di sekitarnya.

Krisis ekonomi 1998 memaksa Hayanah dan keluarganya kembali dari Jakarta ke kampung halamannya di Desa Sembawa, Kecamatan Jalaksana, Kuningan, Jawa Barat.

Di sanalah titik balik kehidupannya dimulai.

Tahun 2000, Hayanah mulai mengolah ubi jalar, komoditas lokal yang kemudian membuka jalan menuju kemandirian ekonomi.

Kesungguhannya memberdayakan perempuan desa terwujud pada 2009, ketika ia mendirikan Kelompok Wanita Tani (KWT) Sri Mandiri bersama para ibu rumah tangga.

Awalnya hanya 20 anggota yang patungan Rp5.000 per bulan dan simpanan pokok Rp20.000.

Mereka belajar mengolah ubi, meski banyak kegagalan.

“Saya selalu menekankan ke teman-teman, ini bukan sekadar usaha, tapi juga cara kita menuntut ilmu dan membantu keluarga,” ujar Hayanah.

Kini, KWT Sri Mandiri telah berkembang dengan lebih dari 100 anggota dan memproduksi berbagai olahan ubi jalar yang tersebar di lebih dari 1.400 gerai minimarket di wilayah Cirebon hingga Brebes.

Bahkan, produk mereka mulai menembus pasar Malaysia dan Korea.

Di balik keberhasilan ini, ada perjuangan panjang. Salah satunya saat pandemi Covid-19 yang menghentikan pengiriman ke Bali.

Baca Juga: BRI Salurkan Bantuan Akses Digital ke SMP Negeri 6 Bayan NTB, Dukung Pendidikan di Daerah 3T

Namun, mereka tetap bertahan dengan memperkuat pemasaran di Jabodetabek dan Cirebon.

Tak hanya berdampak secara ekonomi, keberadaan KWT Sri Mandiri juga membawa perubahan sosial.

Para ibu rumah tangga yang sebelumnya hanya mengurus rumah kini memiliki kemandirian finansial.

“Kami bukan hanya mencari uang, tetapi juga ilmu dan kebersamaan. Kami ingin menunjukkan bahwa perempuan punya kekuatan untuk bertahan dan berkembang,” tutur Hayanah.

Pada 2010, Hayanah mendapat akses permodalan pertama melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI, yang digunakan untuk membeli mesin, memperluas rumah produksi, dan meningkatkan kapasitas usaha.

Dukungan berlanjut di 2022 melalui program BRI Peduli, berupa bantuan mesin pengolahan tepung kapasitas 40 kilogram.

“Bantuan ini sangat membantu dalam meningkatkan produksi, meskipun kapasitas mesinnya masih terbatas… saya tetap bersyukur karena sudah bisa memproduksi sendiri,” ujar Hayanah.

Hayanah pun mengajak perempuan untuk berani melangkah ke dunia usaha.

“Jika niat kita bekerja adalah ibadah dan demi kesejahteraan keluarga, Insya Allah jalan akan terbuka lebar,” katanya.

Corporate Secretary BRI Agustya Hendy Bernadi menegaskan komitmen BRI mendampingi pelaku UMKM lewat program Klasterkuhidupku yang mencakup pelatihan, permodalan, dan pemberdayaan.

“Kami percaya, dengan pendekatan yang holistik, UMKM Indonesia dapat naik kelas dan menjadi pilar penting dalam pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” pungkas Hendy. (*)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#BRI #klasterhidupku #BBRI #Klaster Usaha #Pemberdayaan Wanita