Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Warga Korban Ledakan Amunisi Garut Ternyata Memang Disuruh TNI, Keluarga: Adik Saya Bukan Mulung Besi Serpihan

Syahaamah Fikria • Rabu, 14 Mei 2025 | 01:29 WIB
Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Rudi Setiawan bersama Bupati Garut Abdusy Syakur Amin menyalurkan bantuan untuk keluarga korban ledakan amunisi di Garut, Selasa (13/5/2025).
Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Rudi Setiawan bersama Bupati Garut Abdusy Syakur Amin menyalurkan bantuan untuk keluarga korban ledakan amunisi di Garut, Selasa (13/5/2025).

RADARSOLO.COM - Pernyataan mengejutkan datang dari pihak keluarga salah satu korban ledakan tragis dalam proses pemusnahan amunisi kedaluarsa milik TNI di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Garut.

Salah satu warga sipil korban ledakan tragis saat pemusnahan amunisi itu adalah Rustiawan.

Dalam pengakuannya kepada Gubernur Jabar Dedi Mulyadi yang menengok keluarga korban, Agus, kakak Rustiawan mengaku tak terima saat adiknya disebut sebagai pemulung besi tua atau sisa serpihan logam amunisi.

Menurut Agus, Rustiwan telah lama menjadi bagian dari tim bantuan teknis pemusnahan amunisi.

Korban diketahui sudah lama dipekerjakan TNI, saat ada kegiatan serupa. Bahkan juga ikut dalam kegiatan pemusnahan di luar daerah.

“Adik saya bukan pemulung. Dia sudah lebih dari 10 tahun rutin membantu proses pemusnahan amunisi. Bukan hanya di Garut, tapi juga di Yogyakarta dan daerah lain. Saya keberatan kalau disebut mulung besi,” tegas Agus di RSUD Pameungpeuk.

Sementara itu, Dedi Mulyadi menegaskan bahwa kejadian ini harus dipandang sebagai kecelakaan kerja.

Bukan akibat tindakan warga yang mencoba mencari serpihan logam usai ledakan.

“Mereka bukan pemulung. Ini jelas insiden kerja. Sama halnya seperti sopir, petani, atau pekerja lain yang mengalami kecelakaan saat bertugas,” ujar Dedi kepada media.

Siapkan Santunan dan Beasiswa

Sebagai bentuk empati, Pemprov Jawa Barat telah menyiapkan bantuan senilai Rp 50 juta untuk setiap keluarga korban.

Selain itu, anak-anak dari korban yang meninggal dunia akan mendapatkan jaminan pendidikan hingga jenjang kuliah.

Dedi juga meminta Pemkab Garut memberikan perhatian khusus dan pendampingan kepada keluarga yang ditinggalkan, termasuk layanan trauma healing.

Diketahui, insiden ledakan maut terjadi saat tim TNI AD tengah melakukan pemusnahan amunisi kedaluwarsa di lokasi yang sudah ditetapkan sebagai area steril.

Prosedur awal dilaporkan berjalan lancar dengan dua lubang berhasil diledakkan tanpa kendala.

Namun malapetaka datang saat tim mulai menyusun detonator di lubang ketiga.

Tanpa diduga, detonator justru meledak lebih cepat dari jadwal, mengakibatkan 13 orang tewas.

Korban terdiri dari empat personel TNI dan sembilan warga sipil yang membantu teknis pemusnahan.

Adapun sebelumnya, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen Kristomei Sianturi mengungkapkan bahwa kehadiran warga di area ledakan terjadi karena kebiasaan lama.

Mereka datang setelah peledakan berlangsung untuk mengumpulkan sisa-sisa atau serpihan-serpihan logam dari granat dan mortir yang bisa dijual sebagai barang rongsokan.

“Biasanya warga mencari serpihan logam, tembaga, atau besi bekas dari granat yang diledakkan. Itu sudah sering terjadi setelah peledakan usai,” jelas Kristomei, Senin (12/5/2025). (ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#amunisi #viral #kecelakaan kerja #garut #ledakan #keluarga korban