Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Heboh Kontroversi Booking Lahan Camp di Gunung, Fiersa Besari Beri Tanggapan Kritis! Minta Benahi Hal Ini

Nur Pramudito • Rabu, 4 Juni 2025 | 16:26 WIB
Heboh Kontroversi Booking Lahan Camp di Gunung, Fiersa Besari Beri Tanggapan Kritis! Minta Benahi Hal Ini
Heboh Kontroversi Booking Lahan Camp di Gunung, Fiersa Besari Beri Tanggapan Kritis! Minta Benahi Hal Ini

RADARSOLO.COM - Fenomena booking lahan di gunung baru-baru ini menjadi perbincangan hangat di kalangan pendaki.

Banyak yang mengkritik praktik booking lahan ini dianggap mencederai semangat kebersamaan dan keadilan di alam bebas.

Sejumlah kasus menyebutkan bahwa peserta open trip yang datang belakangan mengklaim lahan perkemahan, lalu mengusir pendaki yang sudah lebih dulu mendirikan tenda.

Musisi sekaligus pendaki, Fiersa Besari, turut bersuara mengenai isu tersebut.

Fiersa Besari dikenal sebagai sosok yang vokal tentang etika mendaki dan kecintaan terhadap alam.

Melalui akun media sosial Instagramnya yang dibagikan pada 3 Juni 2025, Fiersa Besari menyampaikan pandangan kritis namun berimbang.

Fiersa Besari mengakui bahwa praktik booking lahan memang telah lama terjadi melalui tour operator tertentu.

"Saya baru baca-baca yang soal booking lahan, jadi setau saya memang kalau di banyak sekali tour operator itu, yang porter akan jalan duluan sampai ke campground terus mendirikan tenda tenda untuk peserta open tripnya," ujarnya.

Namun, Fiersa menekankan batas etis dari praktik tersebut. Ia menyayangkan kejadian di mana pendaki yang lebih dulu sampai justru diusir dari lokasi tenda.

"Yang ngga wajar itu kalau si peserta tripnya terlalu banyak dan sampai akhirnya menguasai si lahan tersebut," tambahnya.

Menurutnya, insiden semacam ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan menyangkut keselamatan pendaki.

Ia mengutip pandangan ahli dari timnya untuk memperjelas.

"Ini yang jadi masalah kalau saya baca adalah ada pendaki sudah mendirikan tenda kemudian diusir karena dibilang itu lahan milik peserta open trip. Itu salah sih menurut saya," ungkapnya.

Fiersa juga menyinggung pentingnya komunikasi dan tanggung jawab dari pihak tour operator.

Ia mempertanyakan apakah masalah ini terjadi karena miskomunikasi atau sistem yang sudah lama dibiarkan.

"Apapun itu menurut saya sih komunikasinya harus dibetulkan, dan menurut saya tour operator yang bermasalah nih langkah terbaiknya menurut saya seharusnya membuat pernyataan sikap sih. Nggak cuma diem ya," jelasnya.

Namun, Fiersa juga mengingatkan agar pendaki tidak menjadikan kasus seperti ini sebagai alasan untuk memandang buruk semua peserta open trip.

Perlu diingat bahwa tidak semua orang yang mendaki memiliki kekuatan fisik yang sama.

Menurutnya, open trip tetap memiliki peran dalam memperluas akses pendakian yang aman, terutama bagi pemula yang butuh pendampingan.

Polemik ini membuka diskusi penting tentang etika dan solidaritas antar pendaki.

Gunung bukanlah milik siapa pun, melainkan ruang bersama yang harus dijaga bersama.

Fiersa berharap konflik ini menjadi momentum bagi semua pihak, baik pendaki maupun penyelenggara, untuk memperbaiki sistem dan komunikasi di lapangan.

Jika hal ini bisa diselesaikan dengan baik, pengalaman mendaki akan menjadi lebih aman dan nyaman bagi semua kalangan.(np)

Editor : Nur Pramudito
#viral #lahan #fiersa besari #open trip #Booking #gunung