Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Takbir Idul Adha dan Idul Fitri, Apakah Ada Perbedaannya? Simak Penjelasannya

Syahaamah Fikria • Jumat, 6 Juni 2025 | 03:38 WIB
MERIAH: Jamaah Masjid Darussalam, Kelurahan Jayengan bersama warga menggelar perayaan malam takbiran dengan membawa obor keliling kampung, Minggu (1/5). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
MERIAH: Jamaah Masjid Darussalam, Kelurahan Jayengan bersama warga menggelar perayaan malam takbiran dengan membawa obor keliling kampung, Minggu (1/5). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Lantunan takbir selalu menyertai momen perayaan dua hari besar umat Islam, Idul Fitri dan Idul Adha.

Namun, meskipun terdengar serupa, ternyata ada perbedaan penting dalam pelaksanaan takbir di kedua hari raya tersebut.

Takbir bukan hanya ungkapan syukur, tapi juga bentuk ibadah yang memiliki aturan dan waktu yang berbeda tergantung momennya.

Pemahaman ini penting agar umat muslim dapat melaksanakan takbiran sesuai tuntunan agama.

Takbir Idul Fitri dan Idul Adha: Ini Bedanya!

Mengacu pada Kitab Fikih Shalat 4 Mazhab karya AR Shohibul Ulum, takbir dalam Islam dibagi menjadi dua jenis, yakni takbir mursal dan takbir muqayyad.

- Takbir Mursal

Takbir yang bebas waktu, tidak terikat salat, dan biasanya dimulai sejak malam hari raya.

Untuk Idul Fitri, takbir mursal dimulai sejak matahari terbenam pada akhir Ramadhan hingga sebelum salat Id dimulai.

- Takbir Muqayyad

Takbir yang dibaca setelah salat fardhu. Ini lebih sering dilakukan pada Idul Adha, dimulai sejak Subuh 9 Dzulhijjah (Hari Arafah) sampai selesai salat Ashar pada 13 Dzulhijjah (akhir hari tasyrik).

Dengan demikian, takbir Idul Adha memiliki durasi lebih panjang, mencakup malam hari raya dan juga hari-hari tasyrik.

Sedangkan takbir Idul Fitri hanya dilakukan semalam penuh hingga pagi salat Id.

Bacaan Takbir Idul Adha dan Versi Panjangnya

Salah satu bacaan takbir pendek yang sering dikumandangkan adalah:

للهُ اكبَرْ, اللهُ اكبَرْ اللهُ اكبَرْ لاالٰهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر, اللهُ اكبَرُوَِللهِ الحَمْد

"Allaahu akbar, allaahu akbar, allaahu akbar. Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar walillaahilhamd."

Artinya: "Allah Maha Besar (3x). Tiada Tuhan selain Allah. Allah Maha Besar dan segala puji bagi-Nya."

Adapun versi panjangnya berisi pujian tambahan kepada Allah serta penegasan tentang keesaan dan kekuasaan-Nya, yang menjadi bentuk syukur.

للهُ اكبَرْ, اللهُ اكبَرْ اللهُ اكبَرْ لاالٰهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر, اللهُ اكبَرُوَِللهِ الحَمْد

اللهُ اكبَرْ كبيْرًا والحَمدُ للهِ كثِيرًا وَسُبحَانَ اللهِ بُكرَةً واَصِيلا، لااله اِلااللهُ ولانعْبدُ الاإيّاه، مُخلِصِينَ لَه الدّ يْن، وَلَو كَرِهَ الكَا فِرُون، وَلَو كرِهَ المُنَافِقوْن، وَلَوكرِهَ المُشْرِكوْن، لاالهَ اِلا اللهَ وَحدَه، صَدَق ُوَعْدَه، وَنَصَرَ عبْدَه، وَأعَزّجُندَهُ وَهَزَمَ الاحْزَابَ وَاحْدَه، لاالٰهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر، اللهُ اكبَرُ وَِللهِ الحَمْ

Arab latin: Allaahu akbar allaahu akbar allaahu akbar. Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lillaahilhamd.

Allaahu akbar kabiiraa walhamdulillaahi katsiiraa, wasubhaanallaahi bukrataw wa ashillaa. Laailaaha illallallahu walaa na'budu illaa iyyaahu. Mukhlishiina lahuddiin walau karihal kaafiruun. Walau karihal munafiqun. Walau karihal musyrikuun. Laailaahaillallaahu wahdah, shadaqa wa'dah, wanashara 'abdah wa a'azza jundah, wahazamal ahzaaba wahdah. Laailaahaillallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar walillaahilhamd.

Artinya: "Allah maha besar Allah maha besar Allah maha besar. Tidak ada tuhan melainkan Allah, dan Allah maha besar. Allah maha besar dan segala puji bagi Allah.

Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan sebanyak-sebanyak puji, dan Maha suci Allah sepanjang pagi dan sore. Tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya dengan memurnikan agama Islam, meskipun orang-orang kafir, orang-orang munafik, orang-orang musyrik membencinya. Tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dengan ke Esa anNya, Dia zat yang menepati janji, zat yang menolong hamba-Nya dan memuliakan bala tentara-Nya dan menyiksa musuh dengan ke-Esa-anNya. Tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan segala puji hanya untuk Allah."

 

Mengapa Takbir Penting di Idul Adha?

Takbir saat Idul Adha bukan hanya sebagai pembuka hari raya, tapi juga memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an, seperti dalam Surah Al-Hajj ayat 28 dan Surah Al-Baqarah ayat 185.

Takbir menjadi wujud syukur atas rezeki berupa hewan kurban yang diberikan Allah SWT.

Dalam Surah Al-Hajj dijelaskan bahwa takbir adalah bagian dari menyebut nama Allah atas rezeki yang diberikan berupa binatang ternak, yang kemudian dibagikan kepada orang fakir sebagai bentuk solidaritas dan ibadah. (ria)

 

Editor : Syahaamah Fikria
#takbir #idul fitri #idul adha #bacaan takbir #Takbir Idul Adha