RADARSOLO.COM – Jagat media sosial dihebohkan dengan cuitan politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dedy Nur Palakka yang menyebut Joko Widodo (Jokowi) memenuhi kriteria sebagai nabi.
Pernyataannya itu sontak memicu gelombang kritik pedas dari berbagai kalangan, termasuk para pengamat politik dan netizen.
Pujian Berlebihan yang Berujung Kecaman
Awal mula kegaduhan ini adalah saat Dedy Nur Palakka melontarkan pujian setinggi langit untuk Presiden ke-7 RI tersebut.
Dalam cuitannya, Dedy mengklaim bahwa Jokowi adalah sosok yang "memenuhi syarat jadi nabi".
"Jadi nabi pun sebenarnya beliau ini sudah memenuhi syarat, cuman sepertinya beliau menikmati menjadi manusia biasa dengan senyum selalu lebar ketika bertemu dengan rakyat," cuit Dedy.
"Sementara di dunia lain masih ada saja yang tidak siap dengan realitas bahwa tugas kenegaraan beliau sudah selesai dengan paripurna," imbuh dia.
Kalimat ini ia sampaikan sebagai respons atas komentar seorang netizen yang mengaku kesal melihat wajah Jokowi.
Sontak, pujian yang dinilai terlalu berlebihan ini menuai reaksi keras publik.
Banyak pihak menganggap pernyataan Dedy melampaui batas, bahkan menilainya sebagai bentuk penistaan agama.
Sejumlah tokoh publik pun ikut menyuarakan keberatan, mengecam tindakan Dedy yang terkesan mengkultuskan seorang figur politik.
Jejak Digital yang Terkuak
Menyusul kegaduhan yang meluas, Dedy Nur Palakka telah menyampaikan klarifikasi.
Ia menjelaskan bahwa penyebutan "nabi" dalam cuitannya tidak dimaksudkan secara harfiah.
Dedy mengaku tidak bermaksud membandingkan Jokowi dengan para nabi dalam agama mana pun.
Melainkan hanya ingin menyoroti sifat-sifat positif Jokowi yang menurutnya patut diteladani.
Namun, klarifikasi tersebut tidak mampu meredakan amarah publik.
Banyak netizen dan tokoh masyarakat yang tetap merasa Dedy telah melakukan penistaan agama.
Rasa geram publik kemudian mendorong mereka untuk menelusuri rekam jejak digital Dedy.
Salah satu cuitan lama Dedy dari 24 Juni 2022 kembali viral dan menjadi sorotan tajam.
"Allah yang selama ini dipercaya sebagai Tuhan oleh umat muslim sebenarnya cuman 'angan-angan' yang sama ketika nabi akhir zaman juga pertama kali membangung angan-angan," bunyi cuitan lama Dedy.
Cuitan ini sontak memicu gelombang pertanyaan tentang integritas keagamaan Dedy.
"Ternyata sebelum menjilat dan menyetarakan Jokowi sebagai nabi, @DedynurPalakka punya 'jejak genital' cuitan bernada tak percaya pada keberadaan Allah-nya Muslimin," tulis @KangSemproel.
Berbagai pihak juga memberikan tanggapan keras.
"Jokowi jadi Nabi umat agama mana yang kau maksud? Harus diperjelas agar tidak menimbulkan polemik," komen @jhonsitorus_19.
Meskipun mengakui Dedy adalah pendukung setia Jokowi, Jhon Sitorus menggarisbawahi bahwa membandingkan Jokowi dengan nabi adalah hal yang terlalu berlebihan.
"Saya tahu semangat Anda begitu membabi buta mencintai Jokowi. Tetapi menyebut Jokowi sudah 'memenuhi syarat sebagai nabi' itu berlebihan," tegas dia.
Dedy Nur Palakka sendiri menanggapi kritik ini dengan santai, bahkan membalasnya.
Ia membandingkan cuitannya dengan ungkapan Cak Nun yang pernah menyebut Jokowi sebagai "Firaun".
"Jokowi dikatain Fir'aun saja bebas," tulis Dedy.
Dedy juga menyatakan bahwa jika ia menyebut Jokowi sebagai "Nabi Politik", seharusnya tidak ada yang perlu marah.
"Saya mau bilang kalau beliau Nabi Politik juga harusnya tidak perlu ada yang kebakaran nalar seperti @jhonsitorus_19 dkk," pungkas Dedy.
Hingga kini, poastingan Dedy yang menyebut Jokowi layak jadi nabi masih menuai kritik pedas publik dan netizen di media sosial. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria