RADARSOLO.COM– Pekan depan, tepatnya 27 Juni 2025, umat Islam menyambut 1 Muharram atau Tahun Baru Islam 1447 H.
Di kalangan masyarakat Jawa, tanggal ini juga dikenal sebagai 1 Suro, awal tahun dalam kalender Jawa yang sarat nuansa sakral.
Tradisi 1 Suro lekat dengan nilai-nilai spiritual, ziarah, dan ritual yang dijalankan secara turun-temurun.
Dianggap sebagai bulan penuh makna, Suro menjadi penanda awal yang sakral, penuh kontemplasi, dan sering diwarnai keheningan serta doa.
Asal Usul 1 Suro dan Kalender Jawa
Penetapan 1 Suro berawal dari masa Sultan Agung Hanyokrokusumo, penguasa Kesultanan Mataram (1613–1645). Pada tahun 1633 M (atau 1555 Saka), Sultan Agung memadukan kalender Saka (warisan Hindu) dengan kalender Hijriah (Islam) menjadi kalender Jawa.
Langkah ini diambil untuk menyatukan masyarakat Jawa yang terbagi antara kelompok santri dan abangan, serta menghindari perpecahan akibat perbedaan kepercayaan.
Melalui sistem penanggalan baru ini, Sultan Agung juga ingin memperkuat identitas Islam di Tanah Jawa tanpa meninggalkan akar budaya lokal.
Tanggal dimulainya kalender Jawa ditetapkan pada Jumat Legi, bulan Jumadil Akhir, tahun 1555 Saka atau 8 Juli 1633 Masehi.
Tradisi Suro dan Spiritualitas
Dalam tradisi Jawa, 1 Suro disambut dengan ziarah, doa, tirakatan, dan pengajian, terutama bagi kalangan abangan dan santri.
Kegiatan seperti haul, ziarah ke makam para wali, hingga pengajian Jumat Legi menjadi bagian dari rutinitas spiritual.
Hari tersebut juga dianggap keramat, sehingga banyak yang menghindari kegiatan bersifat hura-hura atau pesta pernikahan.
Di beberapa daerah, mitos tentang Suro bahkan menyebut hari ini membawa “kesialan” jika disalahgunakan.
Namun, lebih dari sekadar mitos, tradisi 1 Suro menunjukkan kedalaman spiritualitas masyarakat Jawa dalam mengawali tahun dengan refleksi, doa, dan kedekatan dengan Sang Pencipta. (wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono