RADARSOLO.COM – Nama Martua Sitorus, belakangan menjadi perbincangan hangat menyusul pengembalian uang oleh Wilmar Group sebesar Rp11,8 triliun ke negara terkait kasus korupsi fasilitas ekspor crude palm oil (CPO).
Sosok Martua Sitorus adalah salah pendiri gurita bisnis tersebut. Bersama pengusaha asal Malaysia, Kuok Khoon Hong, Martua membangun perusahaan itu pada 1 April 1991.
Hingga mengantarkan Martua sebagai salah satu konglomerat yang menduduki jajaran orang terkaya di Indonesia, bahkan miliarder dunia versi Forbes.
Lantas, seberapa besar kekayaan Martua Sitorus, dan bagaimana sepak terjangnya hingga bisa mengembalikan dana triliunan rupiah?
Harta Kekayaan Martua Sitorus
Martua Sitorus dikenal luas sebagai pengusaha ulung yang membangun imperium bisnisnya dari nol.
Pria berusia 65 tahun kelahiran Pematang Siantar, Medan ini, sukses menempatkan dirinya sebagai orang terkaya ke-18 di Indonesia pada 2024 menurut Forbes.
Kekayaannya yang fantastis tercatat sebesar USD 3,5 miliar (setara Rp57,12 triliun) per Juni 2025.
Angka ini secara konsisten mencatat kenaikan signifikan setiap tahunnya, bahkan melonjak 88,88% dalam lima tahun terakhir saja.
Dalam daftar miliarder dunia Forbes 2025, Martua Sitorus termasuk miliarder Indonesia yang menduduki urutan ke-1.045.
Jejak Martua Sitorus
Perjalanan Martua Sitorus di dunia bisnis dimulai dari bawah, pernah menjadi penjual koran, sebelum akhirnya beralih ke bisnis sawit dan produk turunannya.
Pada tahun 1991, ia berkolaborasi dengan pengusaha Malaysia, Kuok Khoon Hong (keponakan orang terkaya Malaysia, Robert Kuok), untuk mendirikan Wilmar International Limited.
Perusahaan pertama yang mereka bentuk adalah Wilmar Trading Pte Ltd, dengan modal disetor hanya 100.000 dolar Singapura dan lima karyawan.
Nama "Wilmar International" sendiri diambil dari gabungan nama depan mereka. Yakni "Wil" dari William (nama Inggris Kuok Khoon Hong) dan "Mar" dari Martua.
Sejak itu, bendera Wilmar berkibar, membawa Martua menjadi pengusaha kelas kakap di industri global.
Hengkang dari Wilmar, Bangun Gurita Bisnis Baru
Setelah puluhan tahun berjibaku membangun Wilmar, Martua Sitorus memilih untuk hengkang dari dewan direksi Wilmar International pada Juli 2018.
Ia bersama saudaranya, Ganda, kemudian mendirikan KPN Corporation, sebuah konglomerasi bisnis yang bergerak di sejumlah sektor.
Mulai dari kelapa sawit, properti, manufaktur semen hingga rumah sakit.
Pada bisnis pengembangan properti, KPN Corporation melalui Gama Land bahkan membangun kota mandiri di Medan, Sumatera Utara, bekerja sama dengan Grup Ciputra.
Martua juga mendirikan erusahaan semen keluarga, Cemindo Gemilang (CMNT).
Perusahaan itu sukses mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada September 2021. Melalui IPO, CMNT meraup dana USD77 juta (setara Rp1,1 triliun).
Tak cukup di situ, jaringan rumah sakit mereka, Murni Sadar, juga berhasil mengumpulkan USD21,3 juta (setara Rp331 miliar) melalui IPO pada April 2022.
Lebih dari 500 Pabrik
Lebih dari 30 tahun berkiprah di industri sawit dan produk turunannya, produk-produk yang dikeluarkan Wilmar International—seperti minyak goreng Sania, Fortune, Sovia, hingga tepung terigu Sania—telah merambah pasar global.
Hingga kini, Wilmar memiliki lebih dari 500 pabrik dengan jaringan distribusi luas yang mencakup Tiongkok, India, Indonesia, dan lebih dari 50 negara lainnya.
Meski banyak operasional dan pemasaran dilakukan di Indonesia, Martua Sitorus dan Kuok Khoon Hong memilih mencatatkan Wilmar International Limited di pasar saham Singapura (Singapore Exchange) sejak tahun 2006.
Namun, beberapa perusahaan yang berafiliasi dengan Martua Sitorus atau keluarganya tetap tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). (ria)
Editor : Syahaamah Fikria