RADARSOLO.COM – Malam 1 Suro adalah momen yang sangat istimewa bagi masyarakat Jawa, sebuah penanda dimulainya Tahun Baru Jawa dalam penanggalan kalender Saka Jawa.
Berbeda dengan perayaan tahun baru Masehi yang meriah, Malam 1 Suro seringkali disambut dengan ritual dan tradisi sakral yang kental nuansa spiritual dan budaya.
Salah satu tradisi paling ikonik yang sering digelar adalah Kirab Malam 1 Suro.
Bagi sebagian orang, terutama yang tidak terbiasa dengan budaya Jawa, istilah Kirab Malam 1 Suro mungkin terdengar misterius.
Apa sebenarnya makna di balik prosesi ini? Siapa yang menyelenggarakannya, dan apa tujuannya?
Mengenal Kirab Malam 1 Suro
Kirab Malam 1 Suro adalah sebuah prosesi pawai budaya yang diselenggarakan untuk memperingati dan menyambut datangnya tanggal 1 Suro.
Malam 1 Suro sendiri jatuh pada tanggal 27 Juni 2025 mendatang, bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah.
Kirab ini biasanya dilakukan pada malam hari menjelang pergantian tahun, yaitu setelah waktu Magrib pada tanggal 26 Juni 2025.
Kata "Suro" diambil dari kata "Asyura" dalam bahasa Arab, yang merujuk pada 1 Muharram.
Tradisi 1 Suro ini diinisiasi oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo, pemimpin Kerajaan Mataram Islam pada abad ke-17.
Tujuannya adalah untuk menyatukan masyarakat Jawa yang kala itu terpecah antara kaum abangan (Kejawen) dan kaum putihan (Islam) melalui perayaan keagamaan dan budaya yang serentak.
Siapa Penyelenggara Kirab Malam 1 Suro?
Kirab Malam 1 Suro umumnya diselenggarakan oleh institusi yang memiliki ikatan kuat dengan tradisi dan kebudayaan Jawa.
Di Solo, Kirab Malam 1 Suro digelar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Keraton Solo) dan Pura Mangkunegaran.
- Keraton Kasunanan Surakarta (Keraton Solo)
Kirab Malam 1 Suro di Keraton Solo identik dengan iring-iringan Kebo Bule Kyai Slamet (kerbau bule keramat) yang dianggap sebagai cucu dari kerbau kesayangan Sri Susuhunan Pakubuwono II.
Kehadiran kebo bule dalam Kirab Malam 1 Suro sangat dinantikan masyarakat, sebab hewan keramat ini diyakini membawa anugerah dan keselamatan.
Ribuan orang akan membanjiri sepanjang rute kirab, yang biasanya dimulai jelang tengah malam.
Prosesi ini umumnya mengambil rute utama di Kota Solo, bermula dan berakhir di Keraton Solo setelah melewati berbagai titik penting.
Peserta kirab tampil mengenakan busana adat Jawa serba hitam.
Pria dengan Jawi jangkep dan wanita berkebaya hitam.
Barisan terdepan kirab selalu diisi oleh kebo bule beserta pawangnya, diikuti oleh para abdi dalem, putra-putri raja, dan kerabat Keraton Solo yang mengarak sepuluh pusaka keraton.
Selama prosesi kirab, para peserta menerapkan tapa bisu, yaitu larangan berbicara satu sama lain sebagai bentuk perenungan diri atas perjalanan hidup setahun yang lalu.
Kirab Kebo Bule ini selalu disambut antusias warga.
Banyak yang berusaha menyentuh kebo bule, atau bahkan mengambil air bekas jamasan (pencucian pusaka) serta kotoran kebo bule, karena dipercaya membawa keberuntungan.
- Pura Mangkunegaran
Pura Mangkunegaran juga mengadakan kirab pusaka, yang biasanya diikuti oleh para abdi dalem, sentana dalem, dan masyarakat.
Selain itu, di beberapa daerah lain yang kental dengan budaya Jawa, acara serupa mungkin juga diselenggarakan oleh pemerintah daerah setempat (pemda) atau komunitas adat yang masih melestarikan tradisi ini.
Tujuan dan Makna di Balik Kirab Malam 1 Suro
Kirab Malam 1 Suro memiliki tujuan dan makna yang mendalam bagi masyarakat Jawa:
- Ritual Penyucian Diri dan Lingkungan
Kirab seringkali diawali atau diakhiri dengan prosesi jamasan (pencucian) pusaka atau benda-benda keramat.
Ini melambangkan pembersihan diri dari segala hal negatif dan upaya untuk memulai tahun baru dengan keadaan yang suci.
- Penghormatan Leluhur dan Budaya
Prosesi ini merupakan bentuk penghormatan kepada para leluhur dan menjaga kelestarian tradisi Jawa yang telah diwariskan turun-temurun.
- Memohon Berkah dan Keselamatan
Masyarakat percaya bahwa dengan mengikuti atau menyaksikan kirab, mereka akan mendapatkan berkah, keselamatan, dan dijauhkan dari marabahaya di tahun yang baru.
- Simbol Persatuan dan Solidaritas
Kirab mengumpulkan berbagai elemen masyarakat, dari abdi dalem hingga warga biasa, menciptakan rasa kebersamaan dan identitas budaya.
- Pengingat Filosofi Jawa
Berbagai simbol dalam kirab (seperti pakaian adat, pusaka, atau benda tertentu) mengandung filosofi hidup masyarakat Jawa yang menekankan harmoni, keselarasan, dan spiritualitas. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria