Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Mengapa Malam 1 Suro Dianggap Angker dan Keramat? Menyingkap Tradisi dan Makna di Balik Tahun Baru Jawa

Syahaamah Fikria • Kamis, 26 Juni 2025 | 23:07 WIB
DIKIRAB: Para abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat membawa pusaka keliling jalanan Kota Solo, saat malam 1 Suro, Rabu malam (19/7/2023).
DIKIRAB: Para abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat membawa pusaka keliling jalanan Kota Solo, saat malam 1 Suro, Rabu malam (19/7/2023).

RADARSOLO.COM - Setiap pergantian tahun dalam kalender Jawa, khususnya pada malam 1 Suro, masyarakat Jawa memiliki tradisi unik yang lekat dengan nuansa mistis dan kesakralan.

Malam ini (26/6/2025), yang bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah, seringkali diasosiasikan dengan hal-hal yang angker dan keramat.

Lantas, apa sebenarnya yang membuat Malam 1 Suro dianggap begitu istimewa dan penuh misteri?

Sejarah Singkat 1 Suro

Konsep 1 Suro ini tidak terlepas dari peran Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram Islam pada abad ke-17.

Dia menggabungkan sistem penanggalan Hijriah (berbasis peredaran bulan) dengan Kalender Saka (penanggalan Hindu-Jawa) untuk menciptakan kalender Jawa yang dikenal sekarang.

Hal itu bukan tanpa tujuan yang jelas. Sultan Agung Hanyokrokusumo ternyata punya maksud mulia.

Yakni ingin menyatukan masyarakat Jawa yang kala itu terpecah antara kaum Abangan (pengamal Kejawen) dan Putihan (Muslim), agar dapat merayakan hari besar keagamaan secara bersamaan.

Nama "Suro" sendiri diambil dari kata "Asyura" dalam bahasa Arab, yang merujuk pada tanggal 10 Muharram, menunjukkan adanya akulturasi budaya dan Islam yang kuat.

Malam 1 Suro menjadi penanda dimulainya tahun baru dalam kalender Jawa. Dan diperingati bertepatan pula dengan Tahun Baru Islam 1 Muharram.

Mengapa Dianggap Angker dan Keramat?

Pandangan bahwa Malam 1 Suro itu angker dan keramat berakar pada beberapa kepercayaan yang telah diwariskan secara turun-temurun dalam masyarakat Jawa

1. Awal Siklus Spiritual dan Pergeseran Energi

Dalam Primbon Jawa, Malam 1 Suro dianggap sebagai awal dari siklus spiritual yang baru.

Masyarakat meyakini bahwa pada momen ini, alam semesta mengalami pergeseran energi yang signifikan.

Energi-energi spiritual, baik yang positif maupun negatif, dianggap sangat kuat dan bertebaran di alam raya.

Kondisi ini membuat suasana terasa lebih "peka" dan membuka celah komunikasi antara dunia manusia dengan alam gaib, sehingga dianggap keramat.

2. Bulan Turunnya Arwah dan Makhluk Halus

Salah satu mitos yang paling populer adalah kepercayaan bahwa Malam 1 Suro merupakan waktu di mana pintu alam gaib terbuka.

Konon, arwah leluhur, serta berbagai jenis makhluk halus atau jin, akan lebih aktif berinteraksi atau "turun" ke alam manusia.

Inilah yang membuat suasana terasa angker dan mistis bagi sebagian orang.

3. Waktu untuk Prihatin dan Introspeksi

Mengingat kuatnya energi spiritual dan potensi kehadiran makhluk halus, Malam 1 Suro dimaknai sebagai waktu yang tepat untuk prihatin (menjaga diri), tirakat (melakukan amalan spiritual), dan introspeksi diri.

Masyarakat Jawa kuno percaya, dengan bersikap khusyuk, menahan diri dari hawa nafsu, dan membersihkan hati, mereka dapat terhindar dari hal-hal buruk dan mendapatkan berkah.

 

4. Prosesi Pusaka dan Ritual Pembersihan

Aspek keramat Malam 1 Suro juga terlihat dari tradisi yang dijalankan oleh keraton atau pura-pura di Jawa, seperti Keraton Kasunanan Surakarta (Keraton Solo) dan Pura Mangkunegaran.

Mereka biasanya menggelar Kirab Malam 1 Suro yang melibatkan prosesi jamasan (pencucian) benda-benda pusaka atau keramat.

Ritual ini melambangkan pembersihan diri dan lingkungan dari energi negatif, serta memohon keberkahan di tahun yang baru.

Kebo Bule Kyai Slamet yang mengiringi kirab juga dianggap sebagai simbol anugerah dan keselamatan, menambah kesan keramat.

Kebo Bule Kyai Slamet ini dianggap sebagai cucu dari kerbau kesayangan Sri Susuhunan Pakubuwono II.

Pandangan Modern dan Kontemporer

Di era modern ini, anggapan angker dan keramat pada Malam 1 Suro dilihat dengan beragam perspektif.

Bagi sebagian orang, terutama generasi muda, Malam 1 Suro lebih dimaknai sebagai pelestarian budaya dan waktu untuk introspeksi diri dalam konteks Islam.

Yakni memperingati 1 Muharram sebagai awal Tahun Baru Islam.

Fokusnya pun beralih dari mitos ke nilai-nilai luhur seperti:

- Kedamaian: Mencari ketenangan batin.

- Perenungan: Evaluasi diri untuk menjadi lebih baik.

- Toleransi: Menghargai keberagaman tradisi dalam bingkai Pancasila.

- Gotong Royong: Menguatkan kebersamaan dalam menjaga warisan budaya.

Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa elemen mistis tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari narasi Malam 1 Suro bagi banyak penganutnya.

Keberadaannya terus menjadi daya tarik tersendiri yang membedakan perayaan Tahun Baru Jawa dengan yang lainnya. (ria)

 

Editor : Syahaamah Fikria
#keramat #1 Muharram #malam 1 suro #1 suro #Kirab malam 1 Suro #Tahun baru Jawa #angker