Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Apa Itu Puasa Tasua dan Asyura? Inilah Sejarah dan Keutamaanya: Ada Kisah Kemenangan Nabi Musa dari Firaun

Syahaamah Fikria • Sabtu, 28 Juni 2025 | 21:15 WIB
Hari Tasyrik 2025 jatuh pada 7–9 Juni. Simak amalan sunnah, larangan puasa, dan keutamaannya dalam tradisi Islam
Hari Tasyrik 2025 jatuh pada 7–9 Juni. Simak amalan sunnah, larangan puasa, dan keutamaannya dalam tradisi Islam

RADARSOLO.COM - Memasuki bulan Muharram dalam kalender Hijriyah, umat Islam disunnahkan untuk memperbanyak amal, salah satunya dengan melaksanakan puasa sunah.

Dua hari yang sangat dianjurkan untuk berpuasa adalah tanggal 9 dan 10 Muharram, yang dikenal sebagai puasa Tasua dan Asyura.

Makna Bulan Muharram dan Keutamaan Puasa Asyura

Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram dalam Islam, yaitu bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah.

Selain menjadi awal tahun Hijriah, Muharram juga menyimpan nilai sejarah penting, terutama pada Hari Asyura yang jatuh setiap 10 Muharram.

Pada hari Asyura, umat Islam dianjurkan untuk berpuasa sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan yang Allah berikan kepada Nabi Musa dan Bani Israel dari kejaran Firaun.

Asal-Usul Puasa Asyura

Dalam hadis riwayat Bukhari, dikisahkan bahwa saat Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi tengah berpuasa pada 10 Muharram.

Ketika ditanya alasannya, mereka menjelaskan bahwa hari tersebut adalah hari kemenangan Musa dari Firaun.

Nabi Muhammad SAW pun menyampaikan:

"Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian."

Maka Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan menganjurkan umat Islam untuk ikut berpuasa.

Meskipun awalnya bertepatan dengan ibadah kaum Yahudi, puasa Asyura dalam Islam mendapatkan posisi istimewa.

Bahkan telah dikenal oleh suku Quraisy di masa jahiliyah sebelum Islam datang, sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah RA.

Perbedaan dengan Yom Kippur

Secara kebetulan, hari Asyura juga berdekatan dengan Yom Kippur, hari besar umat Yahudi yang juga dijalankan dengan puasa.

Namun, dalam Islam, puasa Asyura bukan bentuk peniruan, melainkan dilandasi perintah dari Allah dan merupakan bagian dari syariat yang disampaikan Nabi Muhammad SAW.

Menurut para ulama seperti Imam al-Qurtubi, puasa ini memiliki akar dari ajaran Nabi Ibrahim AS yang diwariskan turun-temurun, termasuk oleh suku Quraisy di Mekah.

Anjuran Puasa Tasua

Agar puasa Asyura tidak identik dengan ibadah kaum Yahudi, Rasulullah SAW kemudian berniat melaksanakan puasa sehari sebelumnya, yakni tanggal 9 Muharram yang dikenal dengan puasa Tasua.

Dalam riwayat Muslim, Ibnu Abbas RA menyampaikan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Jika aku masih hidup hingga tahun depan, aku akan berpuasa juga pada hari kesembilan.”

Namun, beliau wafat sebelum sempat menjalankannya.

Oleh karena itu, umat Islam sangat dianjurkan untuk berpuasa dua hari, yaitu pada tanggal 9 dan 10 Muharram, sebagai bentuk keteladanan kepada Rasulullah SAW dan untuk membedakan diri dari ibadah agama lain.

 

Hukum dan Niat Puasa Tasua dan Asyura

Hukum puasa Tasua dan Asyura adalah sunah muakkadah, artinya sangat dianjurkan.

Tidak ada kewajiban untuk menjalankannya, namun pahalanya besar dan menjadi amalan yang dicintai Allah.

Selain itu, puasa Tasua dan Ayura bukan sekadar amalan sunah, melainkan sarat akan pesan spiritual yang kuat.

Puasa Asyura mencerminkan nilai perjuangan menghadapi ketidakadilan serta kemenangan kebenaran berkat pertolongan Allah.

Sedangkan puasa Tasua menjadi simbol upaya membedakan syariat Islam dari tradisi agama lain.

Sekaligus memberikan momen refleksi mendalam bagi umat muslim dengan berpuasa dua hari berturut-turut dalam rangka mengenang sejarah penting umat terdahulu. (ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#Amalan di Bulan Muharram #muharram #puasa asyura #puasa tasua #puasa sunnah