RADARSOLO.COM – Mobil listrik, yang sebelumnya hanya wacana masa depan, kini semakin nyata di Kota Solo. Meskipun jumlahnya belum banyak, warga yang sudah beralih ke kendaraan ramah lingkungan ini membuktikan bahwa transisi dari mobil berbahan bakar fosil ke mobil listrik sedang berjalan pelan namun pasti.
Bagi sebagian orang, mobil listrik bukan hanya alat transportasi canggih dan futuristik, tetapi juga cara cerdas untuk menghemat biaya dan mendukung isu lingkungan. Salah satunya adalah Ratna Dewi, 41, warga Banjarsari. Ia membeli mobil listrik city car asal Tiongkok pada Maret 2024. Alasan awalnya adalah insentif pemerintah yang menawarkan bebas pajak.
Baca Juga: Ajak Industri dan SMK Di Solo Kolaborasi Susun Roadmap Pendidikan Vokasi
"Memang harga mobil listrik agak tinggi, tapi setelah punya, biayanya jauh lebih murah. Saya hanya perlu mengeluarkan sekitar Rp 60 ribu untuk charging sebulan penuh, bandingkan dengan Rp 600-800 ribu kalau pakai mobil bensin," jelasnya.
Ratna menggunakan mobil listriknya untuk antar-jemput anak sekolah dan belanja kebutuhan rumah. Dengan kapasitas baterai penuh, mobilnya bisa menempuh jarak hingga 250 kilometer. "Awalnya saya khawatir soal charging, tapi setelah pasang wall charger di rumah, jadi lebih tenang. Ngecasnya seperti ngecas HP," katanya.
Baca Juga: 220 Siswa Adu Hebat di Lomba Robotic Klaten, Bupati Hamenang Sampai Takjub!
Namun, tak semua pengalaman berjalan mulus. Ketika hendak bepergian ke Klaten dengan sisa baterai 25 persen, Ratna panik karena tidak tahu di mana SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) terdekat.
"Ternyata ada SPKLU di kantor PLN Klaten, tapi saya harus antre hampir satu jam," ungkapnya. Meskipun infrastruktur pendukung masih terbatas, Ratna yakin bahwa seiring bertambahnya pengguna dan dukungan pemerintah, mobil listrik akan menjadi pilihan utama. "Kita harus jadi pelopor, jangan menunggu semuanya siap. Mobil listrik ini bikin hidup lebih tenang dan hemat," pungkasnya.
Fajar Nugroho, 38, warga Mojosongo, juga merasakan manfaat serupa sejak setahun setengah lalu. Ia memilih mobil listrik sedan merek Jepang setelah jatuh hati pada sensasi berkendara yang berbeda.
"Mobilnya senyap, responsif, dan nyaman. BBM semakin mahal, lingkungan rusak, kenapa nggak mulai dari sekarang?" kata Fajar. Sebagai desainer interior, ia sering bepergian ke luar kota, seperti Semarang dan Yogyakarta, dan merasa cukup nyaman dengan ketersediaan SPKLU meski jumlahnya terbatas.
Namun, ia juga menghadapi tantangan, seperti antrean panjang di beberapa SPKLU dan kendala teknis, seperti SPKLU yang error. "Tapi pengeluaran bulanan untuk mobil listrik jauh lebih ringan. Servis mobil juga lebih jarang, hanya periksa rem, ban, dan sistem kelistrikan," jelas Fajar. Dengan biaya servis setahun hanya sekitar Rp 300-400 ribu, ia merasa pengeluaran untuk mobil listrik jauh lebih hemat dibandingkan mobil berbahan bakar bensin. (atn/bun)
Editor : Kabun Triyatno