RADARSOLO.COM-Indonesia sangat kaya akan tradisi budayanya. Mungkin kurang dipromosikan saja.
Salah satu buktinya, ketika heboh di medsos, tradisi Pacu Jalur dari Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) Riau, langsung banyak yang suka.
Diantaranya Wapres Gibran Rakabuming Raka.
Gibran membuat konten dengan meniru gerakan seorang anak di tradisi Pacu Jalur.
Konten tersebut diunggah di Instagram gibran_rakabuming dan mendapat 223 ribu like.
Siapa sangka, dari tepian Kuantan Singingi, semangat Pacu Jalur bisa mengalir hingga ke jagat digital dunia," tulis Gibran.
"Berbagai klub besar dan pemengaruh dunia turut merayakannya.
Inilah kekuatan diplomasi budaya di era digital di mana konten mampu menjadi jembatan, memperkenalkan kearifan lokal Indonesia ke mata dunia," lanjut wapres.
"Pacu Jalur bukan hanya tradisi. Ia adalah narasi, warisan, dan identitas Indonesia yang menginspirasi dunia,".
Bukan hanya Gibran, popularitas Pacu Jalur menginspirasi pemain klub sepak bolaParis Saint-Germain (PSG) yang mengunggah konten terinspirasi dari lomba ini. Termasuk sejumlah pebalap dan para bule.
Sayangnya, kepopuleran ini justru diiringi klaim sepihak dari sejumlah warganet luar negeri yang menyebut tradisi tersebut berasal dari Malaysia.
Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau, Roni Rakhmat, menegaskan bahwa Pacu Jalur adalah warisan budaya asli Indonesia.
“Pacu Jalur adalah tradisi turun-temurun masyarakat Kuantan Singingi. Ini bukan budaya Malaysia. Klaim itu muncul karena kedekatan budaya antara Riau dan Malaysia yang sama-sama berada dalam rumpun Melayu,” ujar Roni.
Apa Itu Pacu Jalur?
Pacu Jalur adalah lomba perahu tradisional masyarakat Melayu Riau yang digelar di Sungai Kuantan.
Perahu sepanjang 25 meter ini bisa memuat 45–60 pendayung, lengkap dengan ukiran khas, payung, dan lambai-lambai sebagai simbol kebesaran.
Tradisi ini telah ada sejak abad ke-17 dan dahulu digunakan untuk merayakan hari besar Islam atau acara kerajaan.
Menurut laman resmi Pemkab Kuansing, tradisi ini awalnya muncul sebagai alat transportasi utama warga sepanjang Sungai Kuantan, mulai dari Hulu Kuantan hingga Kecamatan Cerenti.
Namun, seiring waktu, perahu-perahu itu dihias dan berubah fungsi sebagai simbol status sosial dan hiburan rakyat.
Dari Alat Transportasi ke Lomba Bergengsi
Pada abad ke-18, masyarakat mulai mengadakan lomba adu cepat antar jalur yang kini dikenal sebagai Pacu Jalur.
Awalnya, lomba ini digelar untuk memperingati hari besar Islam, namun kini menjadi bagian dari perayaan Hari Kemerdekaan RI setiap bulan Agustus.
“Biasanya jalur yang mengikuti perlombaan bisa mencapai lebih dari 100. Jalur adalah perahu besar dari kayu bulat tanpa sambungan dengan kapasitas 45–60 pendayung (anak pacu),” tulis situs resmi Pemkab Kuansing.
Saat masa penjajahan Belanda, Pacu Jalur digelar untuk memperingati ulang tahun Ratu Belanda, Wihelmina, pada 31 Agustus. Tradisi ini sempat dimanfaatkan Belanda sebagai hiburan rakyat selama 2–3 hari, tergantung jumlah peserta.
Kini, Pacu Jalur tetap eksis sebagai agenda tahunan Pemprov Riau untuk menarik wisatawan nasional maupun mancanegara.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga tengah mengusulkan Pacu Jalur untuk diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO.
“Kami berharap pengusulan ke UNESCO dapat semakin mempertegas bahwa Pacu Jalur adalah milik Indonesia,” tegas Roni.
Pemprov Riau juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh klaim sepihak serta terus melestarikan budaya lokal yang telah mendunia ini. (wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono