RADARSOLO.COM – Jagat media sosial dihebohkan dengan video rombongan berpakaian serba putih yang menggelar ritual di puncak Gunung Lawu.
Video yang merekam aktivita ritual di puncak Gunung Lawu itu viral di medsos. Salah satunya yang dibagikan akun TikTok @adtyaaidrt.
"Kejadian di puncak lawu hari jumat kemarin, dari jam 10.00 sampai sekitar jam 12.30 sepertinya sedang melakukan ritual karena masih dalam bulan suro," demikian keterangan dalam unggahan itu.
Dalam video itu terlihat laki-laki dan perempuan memakai kemeja panjang, gamis, hingga mukena putih naik ke puncak Lawu.
Mereka lalu mengelilingi Tugu Hargo Dumilah dengan suasana khidmat.
Lantas, apa sebenarnya tradisi tersebut?
Atas viral video ritual itu, pihak Perhutani BKPH Lawu Selatan langsung melakukan penelusuran.
Asisten Perhutani (Asper) BKPH Lawu Selatan, Mulyadi mengatakan, rombongan serba putih itu berasal dari Nahdlatuh Ulama (NU) Purwodadi.
Dari hasil penelusuran, kata Mulyadi, kegiatan itu dipastikan bukan ajaran menyimpang atau aliran sesat.
"Kegiatan itu digelar sebagai ziarah spiritual, penghormatan kepada Sunan Lawu," ujar Mulyadi.
Bahkan, ziarah itu sudah berlangsung sejak 14 tahun lalu.
“Sudah berlangsung selama 14 tahun. Mereka datang setiap Jumat untuk berdoa, bertawasul, dan salat Jumat di depan Tugu Triangulasi (Hargo Dumilah),” ungkap Mulyadi.
Lebih lanjut, dia menyebut, rombongan itu juga tidak langsung mendaki dengan pakaian putih. Mereka baru mengganti busana sesampainya di puncak gunung.
“Baju putih dipakai setelah sampai di atas, sebagai simbol kesucian. Seperti hendak salat, jadi ada makna spiritualnya,” lanjut Mulyadi.
Perhutani Siap Evaluasi dan Perketat Prosedur Izin
Meskipun ritual tersebut tidak melanggar norma agama maupun hukum, Perhutani mengaku akan mengevaluasi jalur komunikasi dan prosedur perizinan kegiatan serupa.
Hal ini penting untuk mencegah kesalahpahaman publik di masa mendatang.
“Kami akan perketat koordinasi agar tidak ada kebingungan atau keresahan di kalangan pendaki dan masyarakat,” tandas Mulyadi.
Gunung Lawu memang dikenal sebagai lokasi sakral yang sering dijadikan tempat tapa brata, semedi, atau ziarah spiritual, terutama pada bulan Suro.
Tradisi ini menjadi bagian dari laku prihatin dan pencarian ketenangan batin bagi sebagian masyarakat Jawa, terutama yang berasal dari kalangan Nahdliyin.
Sebelumnya, polisi pun membenarkan adanya ritual yang digelar sekelompok orang berpakaian serba putih di puncak Gunung Lawu tersebut.
"Betul, kita sudah cek video yang viral tersebut lokasi memang benar di puncak Gunung Lawu," ucap Kapolres Magetan AKBP Raden Erik Bangun Prakasa , Senin (14/7/2025). (ria)
Editor : Syahaamah Fikria