Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Profil Iie Sumirat, Legenda Bulutangkis Indonesia yang Tutup Usia di Usia 74 Tahun, Pelatih Andalan Taufik Hidayat

Nur Pramudito • Rabu, 23 Juli 2025 | 17:56 WIB
Iie Sumirat, legenda bulutangkis Indonesia, meninggal dunia pada usia 74 tahun. Simak profil, prestasi, dan warisan besarnya untuk badminton
Iie Sumirat, legenda bulutangkis Indonesia, meninggal dunia pada usia 74 tahun. Simak profil, prestasi, dan warisan besarnya untuk badminton

RADARSOLO.COM - Dunia bulutangkis Indonesia kembali kehilangan salah satu tokoh legendarisnya.

Iie Sumirat, sosok yang dikenal sebagai bagian dari generasi emas bulutangkis Tanah Air, meninggal dunia pada Selasa, 22 Juli 2025, dalam usia 74 tahun.

Kabar duka ini pertama kali disampaikan oleh sesama legenda bulutangkis Indonesia, Hariyanto Arbi, melalui akun Instagram pribadinya @hariyanto_arbi.

Dalam unggahan tersebut, Hariyanto menyampaikan duka yang mendalam atas kepergian Kang Iie, sapaan akrab Iie Sumirat.

Baca Juga: Kisah Moh. Zaki Ubaidillah: Merantau dari Madura ke Pelatnas, Kini Emban Kapten Timnas Bulutangkis Asia Junior

Ia mengenangnya sebagai sosok inspiratif yang telah mengharumkan nama bangsa di panggung olahraga dunia.

“Terima kasih atas dedikasi dan perjuangan Kang Iie dalam mengharumkan nama bangsa. Jasa dan inspirasimu akan selalu kami kenang. Selamat jalan, Kang Iie. Semoga damai di sisi-Nya,” tulisnya.

Profil dan Perjalanan Karier Iie Sumirat

Iie Sumirat lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 15 November 1950

Ia dikenal luas sebagai pemain tunggal putra yang melegenda di era 1970-an.

Baca Juga: Akun Instagram Kevin Sanjaya Banjir Doa dan Dukungan Usai Umumkan Pensiun dari Bulutangkis: Terima Kasih Kevin!

Namanya menjadi bagian dari “The Magnificent Seven”, sebuah sebutan untuk skuad bulutangkis Indonesia yang sangat tangguh kala itu.

Ia berada satu generasi dengan nama-nama besar seperti Rudy Hartono, Liem Swie King, Christian Hadinata, Ade Chandra, Johan Wahjudi, dan Tjun Tjun.

Karier Iie di dunia bulutangkis dimulai sejak usia muda.

Pada usia 12 tahun, ia sudah mengikuti turnamen lokal Braga Festival dan berhasil menjadi juara.

Prestasinya saat itu membuat salah satu surat kabar nasional, Pikiran Rakyat, menjulukinya sebagai "Meteor dari Bandung Selatan".

Prestasi Gemilang di Dalam dan Luar Negeri

Sebagai bagian dari tim nasional, Iie Sumirat telah menorehkan berbagai prestasi bergengsi. Ia menyumbangkan medali emas di ajang Asian Games tahun 1966 dan 1970.

Ia juga berhasil menjadi juara dunia pada tahun 1976 dalam kejuaraan yang digelar di Bangkok, Thailand.

Baca Juga: Cari Bibit Baru Atlet Bulutangkis, Gelar Win Open Badminton Tournament 2023 di Colomadu

Salah satu momen paling dikenang adalah saat dirinya membela Indonesia dalam Piala Thomas 1979.

Pada partai final melawan Denmark, Iie diturunkan sebagai pemain tunggal dan menghadapi Svend Pri.

Dalam pertandingan itu, ia sempat melakukan tarian Sunda di depan lawannya.

Meski terkesan tidak biasa, strategi itu ternyata berhasil, karena Iie keluar sebagai pemenang dan menyumbang poin penting bagi Indonesia.

Pada akhirnya, tim Indonesia keluar sebagai juara dengan kemenangan telak 9-0 atas Denmark.

Baca Juga: Kisah Moh. Zaki Ubaidillah: Merantau dari Madura ke Pelatnas, Kini Emban Kapten Timnas Bulutangkis Asia Junior

Purna Tugas Sebagai Pemain, Beralih ke Dunia Pembinaan

Memasuki usia 32 tahun, Iie Sumirat memutuskan untuk pensiun sebagai atlet profesional.

Namun, dedikasinya terhadap bulutangkis tidak berhenti di situ.

Ia mendirikan klub PB Sarana Muda yang kemudian berubah nama menjadi SGS Elektrik di Bandung.

Lewat klub ini, Iie menemukan dan membina bakat-bakat muda Indonesia yang kelak menjadi bintang dunia.

Salah satu anak asuhnya yang paling fenomenal adalah Taufik Hidayat, peraih medali emas Olimpiade Athena 2004.

Selain itu, dari klub ini pula lahir Anthony Sinisuka Ginting yang pada All England Open 2024 berhasil mencapai final dan meraih medali perak, setelah dikalahkan oleh rekan senegaranya, Jonatan Christie.

Kepergian Iie Sumirat meninggalkan duka mendalam bagi dunia bulutangkis Indonesia.

Namun, dedikasi, perjuangan, dan warisan prestasinya akan terus dikenang dan menjadi inspirasi bagi generasi atlet muda Tanah Air.(np)

Editor : Nur Pramudito
#meninggal dunia #taufik hidayat #kabar duka #pelatih #legenda #profil #Sosok #Legenda Bulutangkis #Iie Sumirat