Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Arya Daru Pangayunan Tak Alami Bullying dan Tidak Pernah Self Harm, Mengapa Nekat Akhiri Hidup Secara Tragis?

Syahaamah Fikria • Rabu, 30 Juli 2025 | 01:57 WIB
Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Wira Satya Triputra dan Ketua Umum Apsifor Nathanael EJ Sumampouw saat konferensi pers kasus kematian Arya Daru Pangayunan, Selasa (29/7/2025).
Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Wira Satya Triputra dan Ketua Umum Apsifor Nathanael EJ Sumampouw saat konferensi pers kasus kematian Arya Daru Pangayunan, Selasa (29/7/2025).

RADARSOLO.COM - Polda Metro Jaya mengumumkan tidak ditemukannya peristiwa tindak pidana dalam misteri kematian diplomat Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Arya Daru Pangayunan, yang ditemukan tewas di kamar kosnya, Menteng, Jakarta Pusat, 8 Juli 2025 lalu.

Berdasarkan hasil penyelidikan, kuat dugaan Arya meninggal dengan mengakhiri hidup lantaran problem atau gangguan kesehatan mental yang dihadapinya.

Salah satu bukti kuat berasal dari hasil digital forensik yang mengungkapkan Arya sempat mengirim email kepada sebuah lembaga amal yang bergerak di bidang dukungan mental bagi individu yang mengalami depresi hingga memiliki keinginan mengakhiri hidup.

Terdapat dua periode penting dalam temuan tersebut.

Segmen pertama terjadi pada Juni–Juli 2013, di mana korban mengungkapkan alasan keinginannya untuk mengakhiri hidup.

Sementara segmen kedua terjadi pada September–Oktober 2021, terdapat sembilan pesan yang menunjukkan adanya keinginan korban untuk akhiri hidup.

Lantas, apa yang membuat Arya Daru Pangayunan merasakan tekanan psikologis hingga nekat akhiri hidup dengan cara tragis? Apakah ada dugaan bullying dan sejenisnya?

Nathanael EJ Sumampouw, Ketua Umum Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia mengatakan, Arya Daru Pangayunan mengalami tekanan psikologis sangat kuat di masa-masa akhir hidupnya.

Namun, fakta yang diperoleh, hal ini tidak terkait dengan indikasi adanya bullying atau sejenisnya di di lingkungan kerja.

Menurut dia, di lingkungan kerja Arya justru dipersepsikan oleh atasan sebagai staf yang sangat bisa diandalkan.

"Dipersepsikan oleh rekan kerja juga sebagai kolega yang sangat positif, bertanggung jawab, tempat bertanya dan memberi motivasi kepada rekan kerja dan yuniornya," tutur dia.

Lantas, apakah ada indikasi tindakan menyakiti diri sendiri atau self harm yang dilakukan Arya, sebelum mengakhiri hidup dengan melakban kepala?

Nathanael menuturkan, memang pada beberapa kasus, tindakan self harm banyak dilakukan oleh individu yang mengalami tekanan psikologis.

Namun, pada Arya Daru, tindakan self harm itu tidak ditemukan.

"Pada orang-orang yang berinteraksi dengan yang bersangkutan di akhir-akhir hidupnya, tidak teramati hal tersebut," papar dia.

Bahkan, tindakan mengakhiri hidup dengan cara menutup plastik dan melilit lakban itu juga belum bisa disimpulkan sebagai self harm.

"Artinya tidak bisa hanya ada satu faktor saja, ada beberapa faktor kemudian berkontribusi terhadap suatu tindakan," tandasnya. (ria)

 

Editor : Syahaamah Fikria
#gangguan psikologis #diplomat #Arya daru pangayunan #misteri kematian #kesehatan mental #tekanan psikologis #kemlu