Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Remaja Putri di Bengkulu yang Bunuh Ibu Kandungnya saat Sholat Diduga Mengalami Gangguan Jiwa: Kenali Ciri-ciri dan Penanganannya

Tri wahyu Cahyono • Senin, 4 Agustus 2025 | 20:28 WIB
Lokasi tempat kejadian perkara (TKP) anak usia 18 tahun yang diduga mengalami gangguan jiwa melakukan pembunuhan terhadap ibu kandungnya pada Sabtu (2/8/2025).
Lokasi tempat kejadian perkara (TKP) anak usia 18 tahun yang diduga mengalami gangguan jiwa melakukan pembunuhan terhadap ibu kandungnya pada Sabtu (2/8/2025).

RADARSOLO.COM – Gangguan mental atau bahkan gangguan jiwa, bisa dialami siapa saja. Termasuk anak dan remaja.

Seperti yang terjadi di Kota Bengkulu. Polresta Bengkulu menangkap NR, 18, yang diduga mengalami gangguan kejiwaan dan membunuh, YT, 49, ibu kandungnya, saat menunaikan Sholat Dzuhur, Sabtu (2/8/2025).

Nah, gejala gangguan mental atau kejiwaan pada anak kerap disadari karena dianggap sebagai bagian dari tahap pertumbuhan.

Padahal, gangguan mental pada anak merupakan perubahan serius dalam perilaku, belajar, dan emosional yang perlu diwaspadai karena dapat mengganggu tahap perkembangan mereka.

Penting bagi orang tua untuk memahami tanda-tanda, penyebab, serta cara merawat gangguan mental pada anak agar penanganan bisa dilakukan sedini mungkin.

Berikut ini adalah beberapa penyakit mental pada anak yang umumnya terjadi dan tidak boleh diabaikan:

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

ADHD adalah gangguan saraf yang sering terjadi pada anak yang ditandai dengan pola perilaku impulsif, kurangnya perhatian, dan hiperaktif.

Gangguan ini dapat memengaruhi kemampuan anak dalam berinteraksi sosial, belajar, dan menjalani kehidupan sehari-hari.

Gangguan Kecemasan

Gangguan kecemasan atau anxiety juga merupakan penyakit mental yang bisa terjadi pada anak.

Ini terjadi ketika seorang anak tidak dapat mengatasi ketakutan dan kekhawatiran yang dialaminya.

Gejala kecemasan pada anak bisa beragam. Termasuk ketakutan berlebihan, kesulitan tidur, dan masalah konsentrasi.

Baca Juga: Menjadi Lakon Butuh Sangu, Seniman Wayang Orang Sriwedari Sukseskan Acara Butuh Perjuangan

Depresi

Depresi pada anak adalah gangguan mood yang serius yang dapat memengaruhi cara anak merasakan, berpikir, dan berperilaku.

Gejalanya bisa beragam, mulai dari kesedihan yang berkepanjangan, kehilangan minat pada kegiatan yang biasa disukai, perubahan pola tidur atau makan, hingga pikiran tentang bunuh diri.

Autism Spectrum Disorder (ASD)

Autism spectrum disorder (ASD) atau autisme adalah jenis penyakit mental anak yang memengaruhi fungsi otak dan saraf anak.

Anak dengan ASD mungkin memiliki kesulitan dalam memahami dan merespons emosi orang lain serta cenderung memiliki minat yang terbatas dan kepekaan sensorik yang berbeda.

Obsessive-Compulsive Disorder (OCD)

OCD adalah kondisi psikologis yang dapat membuat penderitanya melakukan sesuatu hal secara berulang-ulang agar rasa cemasnya hilang.

Misalnya seorang anak dengan OCD yang terobsesi pada kebersihan tangannya akan secara tidak sadar mencuci tangannya berkali-kali agar bersih dari kuman.

Eating Disorder

Gangguan makan atau eating disorder adalah kondisi mental yang melibatkan pola makan yang tidak sehat.

Biasanya ini terjadi akibat obsesi terhadap berat badan, bentuk tubuh, dan kecemasan yang berhubungan dengan makanan.

Gangguan makan seperti anoreksia nervosa, bulimia nervosa, dan binge eating disorder dapat mengakibatkan penderitanya tidak mampu bertindak secara emosional dan sosial.

Baca Juga: Ide Lomba 17 Agustus Seru untuk Sekolah, Kantor, Hingga Lingkungan Warga Untuk Meriahkan HUT RI ke-80

Gangguan Stres Pasca Trauma (PTSD)

PTSD atau post-traumatic stress disorder adalah gangguan mental jangka panjang yang melibatkan kekhawatiran, kenangan menakutkan, mimpi buruk, dan tingkah laku.

Hal ini merupakan respons terhadap kekerasan, pelecehan, cedera, atau trauma lain yang dialami oleh seorang anak.

Penyebab Gangguan Mental pada Anak

Gangguan mental pada anak dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari genetik hingga lingkungan:

1. Faktor Genetik: Gangguan mental bisa diturunkan. Anak-anak yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan mental berisiko lebih tinggi mengalami masalah serupa.

2. Proses Perkembangan: Perubahan hormon dan perkembangan otak selama masa tumbuh kembang anak bisa memicu gangguan mental, terutama jika sistem saraf tidak berkembang secara optimal sehingga memengaruhi pola pikir, perilaku, dan suasana hati.

3. Lingkungan: Kondisi lingkungan menjadi faktor yang paling sering memengaruhi kesehatan mental anak. Tekanan dari orang di sekitar, seperti tuntutan berprestasi di sekolah atau tekanan dalam pergaulan, dapat memicu gangguan mental.

4. Pengalaman Traumatis: Pengalaman traumatis seperti perundungan (bullying), kekerasan fisik, hingga kekerasan seksual dapat mengguncang kesehatan mental anak, memicu depresi, gangguan kecemasan, atau gangguan mental lainnya.

Gejala Gangguan Mental pada Anak

Perubahan suasana hati, pola pikir, dan perilaku pada anak bisa saja wajar jika hanya bersifat sementara.

Namun, jika perubahan tersebut tidak kunjung membaik atau justru memburuk, seperti merasa gelisah terus-menerus, ini bisa menjadi tanda gangguan mental.

Gejala biasanya berlangsung lama (beberapa minggu) dan dapat diidentifikasi dalam kehidupan sehari-hari:

Baca Juga: Senin 18 Agustus 2025 Libur atau Tidak? Ini Penjelasan Resmi Pemerintah Lewat SKB 3 Menteri

Gejala Emosi dan Perilaku

• Perubahan perilaku drastis (misalnya, sering mengompol, bertengkar, berperilaku kasar yang tidak biasa).
• Perubahan suasana hati yang sangat drastis.
• Tidak lagi menikmati hal-hal yang sebelumnya disukai.
• Tampak takut atau sangat khawatir.
• Sering marah dan berperilaku agresif atau menantang.
• Selalu gelisah, tidak bisa duduk diam di satu tempat.
• Sering menangis dan selalu terlihat sedih.
• Sering mengalami stres dan menyalahkan diri sendiri.
• Selalu menghindari aktivitas sosial dan tidak ingin berpisah dari orang tuanya.
• Muncul keinginan untuk menyakiti diri sendiri (self-harm) atau bunuh diri (suicidal thoughts).
Gejala Fisik
• Merasa kesulitan atau tidak ingin bangun dari tempat tidur.
• Tidak bisa tidur nyenyak.
• Kesulitan makan.
• Mengalami peningkatan atau penurunan berat badan secara drastis.
• Mengalami keluhan kesehatan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya (misalnya, sakit perut, mual, sakit kepala).

Baca Juga: Kasus Royalti Lagu, PHRI Sukoharjo Minta Sosialisasi Terkait Aturan Pemutaran Musik di Kafe dan Restoran

Gejala Sosial di Sekolah

• Tidak bisa menjalankan aktivitas di sekolah dengan baik.
• Menarik diri dari pergaulan dengan teman-temannya.
• Tidak mau menjalankan perintah dari gurunya.
• Tidak mau berangkat ke sekolah.
• Tidak tertarik pergi ke acara sosial bersama teman-temannya (misalnya, acara ulang tahun).

Cara Menyikapi dan Merawat Gangguan Mental pada Anak

Pola asuh orang tua sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental anak.

Jika melihat perubahan perilaku, pola pikir, atau suasana hati yang tidak biasa pada anak, segera dorong mereka untuk terbuka dengan perasaannya.

Penting bagi orang tua untuk memahami penyebab perubahan tersebut agar bisa memastikan apakah situasi bersifat sementara atau memerlukan penanganan profesional.

Tips agar anak lebih terbuka:

• Beritahu anak bahwa Anda memperhatikan kesedihan mereka dan ingin membantu. Ini akan mendorong mereka lebih terbuka.

• Setelah anak menyampaikan perasaannya, usahakan untuk menerima tanpa menghakimi atau bereaksi berlebihan.

• Beritahu anak bahwa perasaan takut, khawatir, dan sedih adalah hal yang wajar.

• Beritahu anak bahwa Anda selalu peduli dan siap mendengarkan keluh kesah mereka.

Baca Juga: Link Pengumuman Kelulusan Uji Kompetensi PPG Gelombang 1 Tahun 2025 Resmi Dirilis, Cek Nama Anda Sekarang

• Tanyakan bantuan apa yang bisa diberikan agar anak merasa lebih baik.

Cara Merawat Gangguan Mental pada Anak

Jika perubahan suasana hati dan perilaku anak sudah berlangsung beberapa minggu atau lebih hingga memengaruhi hubungan sosial atau prestasi akademik, segera konsultasikan kondisi tersebut dengan dokter.

Apabila anak didiagnosis mengalami gangguan mental, perawatan yang bisa orang tua berikan untuk mendukung pengobatan adalah:

• Mempelajari lebih dalam tentang gangguan mental yang diderita anak.
• Melakukan konseling keluarga.
• Memberikan kekuatan dan apresiasi kepada anak.
• Mempelajari manajemen stres untuk membantu anak menghadapi kondisinya.
• Sering berkomunikasi dengan dokter terkait perkembangan anak.
• Mengikuti program pelatihan untuk orang tua yang memiliki anak dengan gangguan mental. (wa)

 

Editor : Tri wahyu Cahyono
#gangguan jiwa #penanganan #bengkulu #ciri ciri #Anak Bunuh Ibu