Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features

Apa Itu Sesar Lembang? Sesar Aktif Dekat Bandung yang Berpotensi Gempa Besar, Ini Fakta dan Risikonya

Nur Pramudito • Kamis, 21 Agustus 2025 | 15:38 WIB

Sesar Lembang di utara Bandung berpotensi picu gempa hingga M 7. Simak fakta, bahaya, dan upaya mitigasi menurut kajian ahli.
Sesar Lembang di utara Bandung berpotensi picu gempa hingga M 7. Simak fakta, bahaya, dan upaya mitigasi menurut kajian ahli.

RADARSOLO.COM - Sesar Lembang adalah salah satu sesar aktif di Jawa Barat yang berada sekitar 10 km di utara Kota Bandung.

Jalur patahan ini membentang sepanjang 25–30 km dari barat ke timur.

Para ahli memperkirakan sesar ini mampu memicu gempa dengan kekuatan maksimal antara magnitudo 6,8 hingga 7,0.

Walaupun hingga kini belum pernah tercatat gempa besar di era modern, bukti geologi menunjukkan bahwa peristiwa gempa besar memang pernah terjadi di masa lalu.

Baca Juga: BMKG Catat 7 Kali Gempa di Bekasi Semalam, Warga Jabodetabek Ikut Merasakan

Jejak Gempa di Sesar Lembang

Beberapa gempa kecil yang bersumber dari Sesar Lembang sudah tercatat menimbulkan dampak cukup nyata.

Pada 28 Agustus 2011, gempa berkekuatan M 3,3 dengan kedalaman sangat dangkal merusak 384 rumah di Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.

Sementara pada 14 dan 18 Mei 2017, dua gempa dengan magnitudo 2,8 dan 2,9 juga sempat dirasakan masyarakat dengan intensitas II–III MMI, meski tidak sampai menimbulkan kerusakan.

Baca Juga: Gempa M 4,9 Guncang Bekasi, Perjalanan KRL dan Kereta Bandara Jabodetabek Sempat Berhenti Total

Mengapa Sesar Lembang Berbahaya?

Sesar Lembang berbahaya karena pergerakannya yang konsisten sekitar 1,95 hingga 14 milimeter per tahun.

Energi yang terus menumpuk ini bisa saja dilepaskan sewaktu-waktu dalam bentuk gempa besar.

Kondisi tanah di Cekungan Bandung juga memperbesar risiko, sebab sebagian besar wilayah ini berdiri di atas bekas danau purba dengan karakteristik tanah yang lunak.

Tanah lunak dapat memperkuat guncangan, sehingga dampak gempa bisa lebih parah meskipun pusatnya jauh.

Selain itu, kondisi geografis sekitar sesar yang curam juga meningkatkan potensi terjadinya tanah longsor apabila gempa besar mengguncang.

Apabila benar-benar terjadi gempa kuat, guncangan yang ditimbulkan diperkirakan dapat merusak bahkan meratakan bangunan yang tidak memenuhi standar tahan gempa.

Mitigasi dan Kesiapsiagaan

Karena tidak ada teknologi yang bisa memprediksi kapan gempa akan terjadi, kesiapsiagaan menjadi kunci.

Edukasi kebencanaan perlu digencarkan agar masyarakat memahami cara menyelamatkan diri saat gempa dan memiliki rencana darurat.

Bangunan tempat tinggal maupun fasilitas umum sebaiknya dibangun sesuai standar konstruksi tahan gempa.

Di sisi lain, penelitian dan pemantauan aktivitas sesar harus terus dilakukan untuk mendukung sistem peringatan dini dan mitigasi bencana.

Baca Juga: Gempa Poso 6.0 Magnitudo, Ratusan Warga Terdampak dan Terluka, Kebutuhan Mendesak Terus Bertambah

Monitoring oleh BMKG

BMKG telah memantau aktivitas Sesar Lembang sejak lama. Pada tahun 1963, seismograf pertama dipasang di kawasan Lembang.

Sejak 2008, pemantauan semakin baik berkat penggunaan jaringan digital broadband yang mampu merekam gempa dengan magnitudo kecil.

Sejumlah penelitian juga mengonfirmasi adanya aktivitas seismik di jalur ini. Kajian Supendi dkk.

pada periode 2009–2015 menemukan empat kejadian gempa dengan mekanisme sesar geser mengiri atau left-lateral faulting.

Penelitian lain oleh Nugraha dan Supendi pada 2017 juga menunjukkan dua gempa kecil yang memiliki mekanisme serupa.

Sementara itu, riset Afnimar dkk. pada 2010–2011 mencatat sembilan gempa di sepanjang jalur Sesar Lembang.

Pada 2019, BMKG kembali memperkuat jaringan pemantauan dengan memasang 16 sensor seismik periode pendek untuk melengkapi 19 seismograf broadband yang sudah ada di Jawa Barat dan Banten.

Sensor tambahan ini sengaja dipasang untuk mengepung jalur Sesar Lembang, Cimandiri, dan Baribis.

Dengan jaringan sensor yang lebih rapat, aktivitas sesar kini dapat dimonitor secara lebih detail, baik untuk tujuan operasional maupun kajian ilmiah.(np)

Editor : Nur Pramudito
#sesar lembang adalah #bandung #gempa bumi #BMKG #gempa #sesar lembang